Mikroba Tanah


Susunan mikroba di dalam tanah sebagian besar terdiri dari bakteri, fungi, dan mikroalga. Populasi mikroba dalam tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba yaitu:

1)    jumlah dan macam zat hara,

2)    kelembaban,

3)    tingkat aerasi,

4)    suhu,

5)    pH, dan

6)    perlakuan pada tanah seperti penambahan pupuk atau banjir yang dapat menyebabkan peningkatan jumlah mikroba.

Populasi mikroba di dalam tanah terbagi menjadi 3 golongan (Kusnadi et al., 2003), 1) Golongan autotonus, yaitu golongan mikroba yang selalu tetap didapatkan di dalam tanah dan tidak tergantung kepada pengaruh lingkungan luar seperti iklim, temperatur, kelembaban; 2) Golongan zimogenik, yaitu golongan mikroba yang kehadirannya di dalam tanah diakibatkan oleh adanya pengaruh luar yang baru, misalnya penambahan senyawa organik; 3) Golongan transien, yaitu golongan mikroba yang kehadirannya bersamaan dengan adanya penambahan mikroba secara sengaja, misalnya dalam bentuk inokulum Rhizobium atau Azotobacter ke dalam tanah.

Mikroba tanah berfungsi sebagai agen biokemik dalam pengubahan senyawa organik yang kompleks menjadi senyawa anorganik. Perubahan senyawa kimia didalam tanah, terutama pengubahan senyawa organik yang mengandung karbon, nitrogen, sulfur, dan fosfor menjadi senyawa anorganik. Proses ini disebut mineralisasi, didalamnya terlibat sejumlah besar perubahan senyawa kimia serta peranan bermacam-macam spesies mikroba.

Mikroorganisme

Anggota

Bakteri

Ordo Pseudomonadales dan Eubatcerialeus

Actinomycetes

Genus Streptomyces (pleomorfisme dan berfilamen)

Jamur

Kelas Phycomycetes (Rhizopus, Mucor, Absidia) , kelas Deuteromycetes (Penicililum,Aspergillus, Alternaria, Stemphylum, Hormodendrum)

Penghuni tanah dapat berupa hewan tingkat rendah sampai hewan tingkat tinggi. Kepadatan tertinggi makhluk hidup dalam tanah ditemui pada horison A, B dan C dan yang paling banyak terdapat di horison A. Pada kedalaman ribuan meter di dalam tanah pun ditemukan kehidupan mikroorganisme (McNabb dan Dunlap, 1975). Tanah merupakan lingkungan yang baik bagi mikroorganisme, terutama pada horison A, B dan C. Keberadaan seperti bakteri dan jamur di dalam tanah paling dominan terdapat pada horison A dan B, walaupun pada kedalaman 900 meter dibawah permukaan tanah aktivitas mikroorganisme masih ditemukan (Bower, 1978).

Terdapat korelasi yang kuat bahwa semakin banyak kandungan organik tanah dan oksigen, maka jumlah dan jenis mikroorganismenya juga semakin tinggi. Beberapa kelompok mikroorganisme yang pentig dalam kaitannya dengan mobilitas dan keberadaan zat pencemar, terutama organic antara lain: Bakteri, Jamur, Algae, dan Protozoa.

Bakteri dan jamur merupakan kelompok yang memiliki peran yang terpenting dalam kaitannya dengan mobilitas dan keberadaan zat pencemar.

  • Bakteri

Bakteri dan cyanobacteria termasuk dalam golongan prokaryotes, yaitu mikroorganisme yang selnya tidak memiliki organ inti. Membran dan dinding sel adalah bagian terpenting dari sel abkteri, membrane sel yang merupakan lapisan semipermeabel, mengatur masuknya nutrient dan air ke dalam sel. Bakteri dapat hidup subur dalam tanah, terutama tanah dengan kelembaban yang mencukupi dengan mengandung kandungan substrat yang cukup banyak. Diperkirakan terdapat tidak kurang satu juta bakteri dalam 1 gram tanah. Jumlah tersebut akan berkurang pada kedalaman tanah (Foth, 1984).

Berdasarkan struktur dinding sel dan pergerakannya, bakteri sendiri dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:

  • Eubacteria
  • Mycobacteria
  • Spirochetes

Eubacteria merupakan bakteri terbanyak yang terdapat di dalam tanah yang umumnya bergerak menggunakan flagella dan mempunyai dinding sel yang tebal dan kaku. Sedangkan mycobacteria bergerak dengan melayang (gliding) dan spirochetes bergerak menggunakan filamen. Berdasarkan dinding selnya, mycobacteria dan spirochetes memiliki dinding sel yang tipis dan fleksibel. Berdasarkan bentuknya Eubacteria dapat berbentuk bulat (cocci), tongkat (rod) dan helix seperti vibrio dan spirilla. Contoh Eubacteria berbentuk vibrio yaitu Desulfurbio, merupakan bakteri yang dapat mereduksi sulfat menjadi sulfide.

Tidak kurang 28 jenis spesies mikroorganisme ditemukan dalam tanah dan air tanah yang tercemar (Rainwater, 1991). Bakteri yang dapat digunakan dalam mendegradasi zat pencemar dalam tanah antara lain Pseudomonas, Nocardia, Mycobacterium, Arthrobacter dan Bacillus. Bakteri dari kelompok Actinomycetes seperti Nocardia dan Mycobacterium memiliki peran penting dalam mendegradasi hidrokarbon yang berasal dari minyak bumi. Tidak kurang 23 jenis bakteri yang mampu mendegradasi hidrokarbon alifatik, dimana seluruhnya hidup atau dapat ditemukan dalam tanah (Bitton, 1984).

  • Jamur

Jamur hidup dalam tanah dengan jumlah yang sangat besar dan memperbanyak diri dengan spora serta bersifat heterothropis dengan memanfaatkan karbon sebagai sumber karbon. Sel jamur umumnya termasuk golongan eukaryotes. Jamur penting dalam mendegradasi zat organik sisa tanaman, karena beberapa diantaranya seperti white rot fungi mempunyai kemampuan untuk merombak zat lignin, yang merupakan suatu polimer yang terdapat di dalam bahan tanaman (misalnya kayu) yang sangat sulit dirombak oleh enzim bakteri, karena memiliki ikatan ß-glycosidic. Jamur mampu mengeluarkan suatu enzim peroxidase, yaitu suatu enzim yang dapat menghasilkan radikal hidroksil yang mampu merombak lignin menjadi zat yang dapat didegradasi oleh bakteri. Selain lignin radikal hidroksil dapat mendegradasi chlorinated pestisida seperti DDT, Eldrien dan PCB (watts, 1977).

Bila dibandingkan dengan bakteri, jamur memiliki kemampuan untuk hidup pada rentang pH yang lebih luas. Beberapa jamur dapat hidup pada rentang pH rendah 4-5 dan pH tinggi sampai dengan 10. Jamur diklasifikasikan kedalam empat kelas, yaitu Phycomycetes, Ascomycetes, Fungi imperfekti dan Basidiomycetes. Basidiomycetes merupakan jamur yang aktif di dalam tanah untuk pelapukan dan degradasi zat organik yang berasal dari tumbuhan, bahkan beberapa dapat mendegradasi zat pencemar organik dalam tanah yang berbahaya.

Beberapa jenis jamur seperti Phanerochaete chrysosporium dan P. sordida, telah diidentifikasikan memiliki kemampuan dalam mendegradasi zat pencemar berbahaya di dalam tanah seperti pentachlorophenol dengan konsentrasi sampai dengan 500 ppm (Lamar, 1990), chlorocarbon, polycyclic aromatic, PCB dan beberapa jenis pestisida seperti DDT, lindane serta zat pewarna seperti azo dyes (Lewandoski 1990 dan Dhawale, 1992). Jamur tersebut diatas juga mampu mendegradasi lignin. Beberapa jebs jamur dari kelompok ragi (yeast) telah diidentifikasikan mempunyai kemampuan untuk mendegradasi hidrokarbon alifatik  dan pestisida.

Aktivitas jamur yang hidup di sekitar akar tumbuhan (rhizosphere), membentuk simbiose dengan akar tanaman membantu dalam menarik air tanah, karena menambah luas permukaan, serta melindungi akar rambut tersebut. Selain itu aktivitas jamur di daerah perakaran menarik bakteri yang menguntungkan seperti rhizobia yang pada akhirnya dapat meningkatkan aktivitas biologis jamur.

Pada umumnya Actinomycetes terdapat di dalam sub strat alam yaitu terutama segala jenis dan macam tanah, kecuali pada tanah asam seperti humus hutan dan rawa—rawa , hampir tidak ada di temukan. Oleh sebab itu dengan adanya Actinomycetes dalam tanah, terutama tanah sawah sangat panting artinya untuk mengontrol perkembangan mikroba tanah terutama yang pathogen, sehingga memungkinkan terdapatnya ” plant — diseases dapat di hindarkan dan tanah akan menjadi lebih sehat karena babas dari mikroba pathogen.

Lingkungan tanah akan berbeda dari satu lokasi dengan lokasi lainnya. Faktor yang mempengaruhi dan menentukan jenis mikroba pada suatu sampel tanah adalah kelembaban, pH, temperatur, kandungan gas oksigen dan komposisi organik maupun anorganik tanah. Jenis mikroba tanah sangat bervariasi sehingga untuk menganalisanya diperlukan salah satu metodenya yaitu metode pengenceran.

Jenis medium yang digunakan adalah agar yeast glycerol untuk media pertumbuhan actinomycetes, agar Sabouroud untuk isolasi jamur dan agar nutrisi untuk bakteri. Selain agar kedua jenis mdium lain ditambahkan 10mg Aureomycin (klortetrasiklin) per mililiter medium untuk menghambat pertumbuhan bakteri.

Nutrien agar adalah medium umum untuk uji air dan produk dairy. NA juga digunakan untuk pertumbuhan mayoritas dari mikroorganisme yang tidak selektif, dalam artian mikroorganisme heterotrof. Media ini merupakan media sederhana yang dibuat dari ekstrak beef, pepton, dan agar. Na merupakan salah satu media yang umum digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari air, sewage, produk pangan, untuk membawa stok kultur, untuk pertumbuhan sampel pada uji bakteri, dan untuk mengisolasi organisme dalam kultur murni. Untuk komposisi nutrien adar adalah eksrak beef 10 g, pepton 10 g, NaCl 5 g, air desitilat 1.000 ml dan 15 g agar/L. Agar dilarutkan dengan komposisi lain dan disterilisasi dengan autoklaf pada 121°C selama 15 menit. Kemudian siapkan wadah sesuai yang dibutuhkan.

Yeast Glycerol Agar berfungsi untuk isolasi, enumerasi, dan menumbuhkan sel khamir. Dengan adanya dekstrosa yang terkandung dalam media ini, PGYA dapat digunakan untuk mengidentifikasi mikroba terutama sel khamir. Untuk membuatnya, semua bahan dicampur dengan ditambah CaCO3 terlebih dahulu sebanyak 0,5 g lalu dilarutkan dengan akuades. Kemudian dimasukkan dalam erlenmeyer dan disumbat dengan kapas lalu disterilisasi pada suhu 121°C selama 15 menit.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s