Air, Air, Air


Air merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia. Sekarang air merupakan salah satu benda ekonomis. Segala kegiatan manusia tidak dapat terlepas dari air. Mulai kita bangun hingga kembali tidur kita membutuhkan air. Bahkan 80% tubuh manusia terdiri dari air.

 

Secara teoritis air memiliki siklus hidrologis yang berjalan alami dan tetap, artinya produksi air dan ketersediaannya relatif tetap, bahkan bisa berkurang akibat pengaruh fisikal maupun aktivitas manusia.

“Dan kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran, lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi.” (Q:S. Al-Hijr: 19)

 

Kondisi manusia sebaliknya, secara demografis populasinya  terus bertambah dan secara antropologis dinamikanya  semakin kompleks. Dengan demikian air semakin banyak terkuras dengan persediaan relatif tetap dan kualitas yang diprediksikan akan menurun akibat aktivitas manusia. Sebagian manusia masih merasakan bahwa sumberdaya air sebagai aset yang mudah dan murah didapatkan, akibatnya penghargaan atasnya sangat kurang.

 

 Sebuah tulisan yang dipublikasikan di majalah “Cronicas de Los Tiempos” April 2002  bertajuk “Surat yang Ditulis pada tahun 2070” mungkin bisa menjadi sebuah alat untuk menyadarkan diri  manusia akan pentingnya Air.

 

Artikel tersebut menjelaskan mengenai hidup seorang manusia berusia 50 tahun namun berpenampilan seperti orang berusia 85 tahun. Dimana dia memiliki gangguan ginjal yang serius karena tidak cukup minum bahkan kulitnya pun mengkerut layaknya orang tua berumur 80 tahunan. Selain itu, wanita pada tahun 2070 tidak pernah mengenal rambut, yang sekarang menjadi salah satu kebanggan seorang wanita. Wanita-wanita tersebut mencukur habis rambutnya karena tidak memiliki cukup air untuk keramas. Bahkan manusia mandi pun dengan menggunakan handuk dan minyak pencuci  tanpa menggunakan air dan memakai pakaian satu kali pakai.

 Industri saat itu hampir terhenti. Instalasi desalinasi merupakan penyerap utama pekerja dan air minum diberikan sebagai upah mereka bekerja. Pengangguran mencapai angka yang mengkhawatirkan, penodongan merupakan sesuatu hal yang lazim hanya demi mendapat segelas air minum. Sampah semakin menumpuk akibat pakaian sekali pakai  yang dikenakan oleh warga masyarakat.

Idealnya manusia minum hingga 1 liter per hari namun pada masa itu hanya diperbolehkan setengah gelas perhari. Makanan yang mereka makan 80% adalah makanan sintetik. Penampilan manusia pada saat itu sangat mengerikan, kering, berkerut akibat dehidrasi,dan penuh rasa sakit akibat perisai pelindung ozon tidak ada. Kanker kulit dan penyakit gastrointestinal merupakan penyebab utama kematian.

Air tidak dapat diproduksi, oksigen pun terdegradasi akibat vegetasi tumbuhan yang kering. Hal yang paling mengerikan adalah morfologi spermatozoa telah berubah dan mengakibatkan defisiensi dan kelainan fisik pada bayi yang dilahirkan.

Warga harus membayar setiap udara yang dihirup, jika tidak maka akan dikeluarkan dari zona yang memiliki paru-paru mekanik dengan tenaga matahari. Di negara yang masih memiliki air, akan dijaga ketat oleh tentara bersenjata. Saat itu air merupakan barang berharga lebih mahal dari berlian, ruby,atau emas  sekalipun.

(Slides developed by APJ Abdul Kalam-enhanced by Willy Sidharta)

 

 

Kondisi diatas merupakan sebagian cuplikan artikel mengenai pentingnya air. Jika kita lihat kondisi lingkungan sekarang 2009, khususnya di Bandung, terlihat bahwa luas area hijau kini telah berkurang dan sungai-sungai telah tercemar. Tentunya hal ini berpengaruh terhadap siklus hidrologis.

 

Saat meninjau salah satu sungai di daerah Bandung Utara, di bantaran sungai daerah Babakan Siliwangi  terlihat rumah-rumah penduduk yang sangat padat, bahkan ada rumah yang terbuat dari barang-barang bekas, lebih tepat dikatakan perumahan kumuh. Di pinggiran sungai terdapat sampah berserakan yang tersangkut di dahan-dahan pohon sekitar sungai, ataupun sampah yang hanyut oleh aliran sungai dari hulu.

 

Kondisi sungai seperti ini lazim berada di suatu perkotaan yang besar semisal Jakarta. Warga disana sudah merasa terbiasa dengan kondisi seperti itu. Kondisi ini berada sangat kontras dengan daerah samping perumahan dimana berdiri Hotel  dan Mall.

 

 Warga sekitar dengan bebas melemparkan sampah begitu saja ke sungai tanpa merasa risih. Warga pun membuang limbah domestik langsung ke sungai tersebut. Kondisi ini ditemukan di daerah yang masih berada di Utara. Lalu bagaimana  dengan kondisi di bagian selatan (hilir)?

 

Menurut orang tua saya, dulu sekitar tahun 50-an sungai Cikapundung sangat jernih, bahkan bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari dan masyarakat sekitar bebas memancing ikan. Kini,untuk keperluan sehari-hari seperti mencuci pun tidak mungkin untuk digunakan. Apalagi untuk memancing ikan, karena tidak mungkin ikan mampu tumbuh diperairan yang kotor dan telah terkontaminasi oleh limbah pabrik dan domestik yang dilaluinya. Jikalau ada, tentunya ikan tersebut telah tercemar dan mengurangi nilai gizinya.

 

Kini yang menjadi masalahnya adalah masyarakat kurang sadar dengan kondisi lingkungan. Al-Qardhawi (2002) menegaskan bahwa permasalahan yang banyak terjadi khususnya lingkungan pada dasarnya merupakan persoalan moralitas, sehingga solusi efektifnya adalah dengan revitalisasi nilai –nilai moral, keadilan, keramahan, dan sebagainya. Kurangnya kesadaran ini disebabkan beberapa faktor diantaranya faktor ekonomi dan pendidikan akhlak dan agama.

 

Rata-rata penduduk yang bertempat tinggal di bantaran sungai merupakan golongan ekonomi menengah ke bawah bahkan pendidikan pun rata-rata hanya sampai SMA sisanya langsung menjadi buruh. Disamping itu, pengawasan akan peraturan mengenai lingkungan hidup dari pemerintah pun belum optimal.

 

Namun, kita sebenarnya bisa mengatasi masalah ini jika kita mampu bekerja sama baik warga maupun pemerintah. Konsep pengelolaan lingkungan secara islam akan mengedepankan nilai keadilan dimana air merupakan sumber daya yang digunakan untuk kebutuhan semua manusia bukan segolongan orang.  “Tiga hal yang menjadi hak milik publik, yaitu air, tempat berlindung, dan api”. (HR. Ibnu Majah)

 

Islam memandang bahwa bumi (termasuk air) bahkan alam semesta adalah nikmat Allah Sang Pencipta, sehingga menjadi konskuensi logis untuk selalu bersyukur dengan terus menjaga kelestarian dan keberlanjutannya untuk generasi mendatang. Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa setelah manusia mati, seluruh amal manusia otomatis terputus kecuali tiga hal: anak sholeh, ilmu yang bermanfaat, dan amal jariyah.

 

Apabila kita hubungkan dengan pemeliharaan lingkungan alam (termasuk air), anak sholeh berarti kita membina generasi muda kita untuk pandai dan sadar memelihara lingkungan, dengan ilmu yang bermanfaat mampu menda’wahkan islam dengan ramah lingkungan, dengan amal jariyah mampu memberikan usaha yang nyata agar generasi mendatang dapat menikmati sumber daya alam (termasuk air) seperti yang kita rasakan sekarang. (menurut Ribut Lupiyanto S.Si)

 

Beberapa hal yang dapat kita lakukan adalah

  • Membuang sampah pada tempat pembuangan sampah, jangan membuang ke sungai, selokan ataupun badan air yang lain. Jika kita membuang sampah ke sungai akan menurunkan nilai BOD (Biochemical Oxygen Demnad) sehingga mikroorganisme yang hidup di perairan akan mati dan tentunya air tersebut akan tercemar.
  • Tidak membangun perumahan di sekitar sungai. Hal ini akan menurunkan nilai tata guna lahan, sehingga dapat mengakibatkan pendangkalan dan penyempitan sungai akibat pengurugan tanah untuk pemukiman. Hal ini pun dapat menurunkan nilai keindahan kota itu sendiri.
  • Pemerintah mengawasi dan memelihara lingkungan hidup (termasuk sungai) lebih ketat. Pemerintah mengoptimalkan peraturan untuk melarang penduduk mendirikan bangunan di pinggir sungai dengan cara memberikan ganti di tempat yang lebih baik.
  • Memberikan pendidikan lingkungan hidup sejak dini.

2 thoughts on “Air, Air, Air

  1. hmmp,, sebetulnya untuk menyelesaikan masalah lingkungan tidak terlepas dari infrastruktur yang memadai.

    untuk menjamin ketersedian air, sebetulnya bisa dibuat tampungan seperti waduk ataupun embung, tetapi tentu saja DAS yang ada harus tetap dipelihara, agar siklus hidrologi yang terjadi tidak terganggu…

    minor TL keknya menarik nie…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s