Berlebihan Dalam Berbicara


Sikap berlebihan dalam berbicara merupakan salah satu perbuatan tercela. Hal ini meliputi pembicaraan yang tidak bermanfaat dan menambah pembicaraan yang bermanfaat hingga melebihi keperluan. Karena orang yang berkepentingan terkadang cukup dengan pembicaraan yang singkat dan terkadang perlu pengulangan. Jika maksudnya telah tersampaikan dalam satu kalimat tetapi diungkapkan dengan dua kalimat maka kalimat yang kedua adalah kelebihan – yakni melebihi keperluan. Hal ini juga tercela sekalipun tidak mengandung dosa dan bahaya.

Atha’ bin Abu Rabah berkata, “Orang-orang sebelum kalian tidak menyukai bicara berlebihan. Mereka menganggap selain Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah saw, atau selain amar ma’ruf bahyi munkar, sebagai kelebihan pembicaraan.”

Sebagian sahabat ra berkata,”Sesungguhnya seseorang mengajakku berbicara dengan suatu pembicaraan yang jawabannya sungguh lebih aku sukai ketimbang air dingin bagi orang yang haus, lalu aku tidak menjawabnya karena takut termasuk kelebihan pembicaraan.”

Muthrifff berkata, “Untuk mengagungkan Allah di dalam hati Anda, janganlah Anda menyebut-Nya dengan perkataan slah seorang dari kalian kepda anjing dan keledai, “Ya Allah hinakankal ia” atau yang sejenisnya.”

Ketahuilah bahwa kelebihan pembicaraan itu tidak terbatas, tetapi hal-hal yang penting telah dirumuskan secara umum di dalam Al-Qur’an :

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian diantara manusia.” (an-Nisa’ :114)

Nabi saw bersabda:

“Berbahagialah orang yang dapat menahan kelebihan lidahnya dan menginfakkan kelebihan hartanya” (diriwayatkan oleh al-Baghawi, Ibnu Qani’ , dan al-Baihaqi)

Perhatikanlah bagaimana manusia membalik persoalan dalam hal tersebut. Mereka menahan kelebihan harta dan melepaskan kelebihan lidah.

Muthriff bin Abdullah dari bapaknya, ia berkata : Aku datang menemui Rasulullah saw di tengah orang-orang dari Bani Amir lalu mereka berkata :

Engkau adalah orang tua kami, pemimpin kami, orang yang benar-benar paling utama diantara kami, orang yang benar-benar paling baik diantara kami, dan engjau adalah orang yang sangat-sangat dermawan..”

Nabi saw berkata kepada mereka :

Ucapkanlah perkataan kalian tetapi jangan sampai syetan memperdaya kalian.”(HR Abu Dawud dan An-Nasa’i)

Sabda nabi saw mengisyaratkan bahwa lidah apabila mengucapkan pujian secara panjang lebar—sekalipun jujur—dikhawatirkan akan diperalat syetan dengan manmbah hal yang tidak diperlukan.

Ibnu Mas’ud berkata, “Aku diperingatkan kalian dari kelebihan pembicaraan kalian; cukuplah seseorang berbicara sebatas keperluannya.”

Mujahid berkata, “Sesungguhnya pembicaraan itu ditulis sampai perkataan seseorang untuk menyuruh diam anaknya. ‘Aku belikan kamu ini dan itu?’ lalu ditulis sebagai pendusta.”

Al-Hasan berkata, “Wahai Anak Adam, dibukakan untukmu lembaran yang dijaga oleh dua malaikat yang mulia, keduanya menulis amal-amalmu, maka perbuatlah sesukamu banyak ataupun sedikit.”

Ibrahim at-taimi berkata, “Apabila seorang Mu’min ingin berbicara maka ia melihat, jika menguntungkan dirinya ia berbicara tetapi jika merugikan maka ia menahan diri. Orang yang durhaka adalah orang yang lidahnya terumbar bebas.”

Al-Hasan juga berkata,”Siapa yang banyak omongnya banyak pula dustanya, siapa yang banyak hartanya banyak pula dosanya, dan siapa yang buruk akhlaknya maka dia menyiksa dirinya.”

Amru bin Dinar berkata,”Seorang lelaki berbicara banak disisi Rasulullah saw lalu nabi saw berkata kepadanya: “berapa banyak penghalang bagi lidahmu?” Orang itu menjawab” “kedua bibirku dan gigi-gigiku.” Nabi saw bersabda: “Apakah kamu tidak memiliki sesuatu yang dapat menahan omonganmu?” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Dunya secara mursal dan para perawinya terpercaya.)

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Hal yang mencegahku banyak bicara adalah karena takut membanggakan.”

Sebagian kaum bijak bestari berkata : “Apabila seseorang berada dalam sebuah majilis lalu berambisi untuk bicara maka hendaklah ia diam dan apabila dia lalu selalu ingin diam maka hendaklah ia berbicara.”

Yazid bin Abu Hubaib berkata, “Termausk fitnah seorang alim adalah jika dia lebih suka berbicara ketimbang mendengarkan. Jika sudah ada orang yang berbicara cukup maka mendengarkan adalah keselamatan sedangkan ikut berbicara adalah kelebihan omongan dan kekurangan.”

Ibnu Umar berkata, “Hal yang paling berhak disucikan seseorang adalah lidahnya.”

Ketika melihat seorang wanita yang tajam lidahnya, Abu Darda’ berkata “ Seandainya wanita ini bisu niscaya lebih baik baginya.”

Ibrahim berkata, “Dua hal yang menghancurkan orang : Kelebihan harta dan kelebihan pembicaraan.”Itulah beberapa penjelasan tentang tercelanya kelebihan bicara berikut berbagai pendorongnya. Terapinya adalah mengetahui bahwa kematian ada dihadapannya, bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap kata yang diucapkan, bahwa nafas adalah modalnya, dan bahwa lidahnya adalah jaring yang bisa dipakai untuk mendapatkan bidadari surga, sehingga menyia-nyiakan hal tersebut merupakan kerugian yang nyata. Itulah obat dari segi ilmu. Adapaun ari segi amal perbuatan adalah dengan melakukan ‘uzlah atau meletakkan kerikil didalam mulutnya atau mewajibkan dirinya untuk diam tidak mengatakan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya sehingga lidahnya terbiasa meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.

(Dikutip dari buku Bagaimana Mensucikan Jiwa Intisari ‘Ihya Ulumuddin)

2 thoughts on “Berlebihan Dalam Berbicara

  1. Hayoo, terus siapa yang kemarin pas games rihlah nulis kalau nisa itu kurang bodor, dll?

    Itu kan hanya ikhtiar nisa supaya tidak berlebihan dalam berbicara… (hanya alasan). Hee, emang ada ya “bodor yang nyunnah”?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s