Mencoba Melegakan Hati


Kadang apa yang kita inginkan tidak mudah untuk didapatkan..

Egoisme hanya membuat orang terluka dan malah membuat diri tidak nyaman dan produktif..

Setiap orang memainkan perannya masing-masing, maka mainkanlah peranmu sesempurna mungkin..

Aku mempunyai rumah kedua di kampus tercinta, sebuah organisasi yang paling membuatku merasa nyaman dan terpacu untuk terus memperbaiki diri. Disana aku mendapatkan saudara-saudari yang luar biasa. Keimanannya, kedekatan dengan Allah, kebaikan, pengetahuannya akan islam, kelemahlembutan, ketegasan, dan kegigihannya berjuang menegakkan agama Allah. Aku senang berada disana. Bahkan aku pernah melontarkan, ‘Insya Allah saya akan berada disini’. Jika orang bertanya dimana aku akan tetap berorganisasi atau mengambil amanah disanalah aku berkata. Kadang selalu terpikir, aku akan memperbaiki dan berbuat yang lebih baik dari saat ini ketika aku masih berada disana. Mungkin saat ini aku tidak melakukan apapun untuknya. Astaghfirullah..

Hingga suatu hari, seseorang berkata, ‘Kamu tidak akan beraktivitas lagi disana yah?’. Dengan kaget aku berkata,’Kata siapa?’. Tadi ada yang bilang. ‘Kamu harus mengurusi amanah di wajihah lain.’ tambahnya pula. Mendengarnya aku hanya tersenyum, bukan senyum pembenaran tapi senyum kesedihan. Mungkin tidak terlihat seperti orang sedih, tapi aku sangat ingin menangis saat itu. Hanya saja aku malu. Terkadang aku merasa sangat iri kepada saudara-saudaraku yang lain yang masih bisa memberikan sesuatu disana. Aku juga ingin, ingin sekali. Tapi sepertinya mereka tidak membutuhkanku kini. Astaghfirullah.. Atau mungkinkah karena aku tidak bisa menjalankan amanahku disana dengan baik? Astaghfirullah.. Mungkinkah ini? Ya, kenapa tidak? Ya Allah ampuni hamba karena tidak menjalankan amanah ini dengan baik dan mungkin hamba melalaikannya.

Tapi aku menepis semua sangkaan itu. Aku berpikir mungkin aku bukannya tidak dibutuhkan namun ada tempat yang lain yang lebih membutuhkan tanganku disana. Ya mungkin seperti itu. Walau dengan berat hati aku beranikan diri untuk menerima ini. Walau terkadang aku juga ingin bersama saudara-saudaraku disana.

Suatu kali aku bertanya kepada seseorang akan hal yang selalu terpikirkan olehku. ‘Memangnya yang menentukan saya dimana itu siapa?’. ‘Ya komunitas anak langitlah yang memusyawarahkan kader beraktivitas dimana, emang kenapa ukhti?’ jawabnya. ‘Oh, gitu. Apakah kita tidak bisa memilih ingin dimanakah kita?’ tanyaku. ‘Sebenarnya sih bisa, tapi mungkin kita tidak boleh egois memaksakan kehendak kita.’ Jawabnya lagi.

Egois, apakah aku egois? Salahkah jika aku ingin berada disana? Saat itu aku marah dan kesal, kenapa , kenapa harus begitu? Aku memang orang yang keras kepala. Ketika aku menginginkan sesuatu aku akan berusaha untuk meraihnya sesulit apapun itu. Dan aku paling tidak suka diminta melakukan hal yang tidak aku sukai. Akan tetapi setelah sekian lama aku berada disana hingga kini, aku menyerah. Ya, menyerah untuk berjuang agar kelak masih bisa berada disana. Menyerah karena disana sudah ada orang-orang tangguh yang siap berjuang. Menyerah karena disana pun hingga kini aku tidak melakukan apapun. Aku menyerah karena aku tidak bisa menjalankan amanahku dengan baik.

Walaupun seseorang berkata, ‘jika kau memang masih mau disini ya komunikasikan saja dengan orang-orang ditempatmu’. Tapi aku sudah menerima jika aku memang tidak layak untuk berada ditempat yang nyaman ini lagi. Memang sedih, apalagi ketika melihat saudaraku dengan semangat membicarakannya. Tapi aku tau, aku berada disana untuk  Allah dan ummat bukan hanya untuk diriku sendiri. Begitu pula aku dipilihkan untuk berada di tempat lain adalah untuk Allah dan ummat, bukan hanya untuk diriku. Lambat laun aku mungkin akan melupakan ini pikirku. Hingga suatu hari, aku bertanya kepada saudariku,’ kunci rumah berapa’. ‘Masya Allah ukhti, kamu lupa kunci rumah kita?’. Saat itu aku hanya tersenyum, tapi aku pun berpikir “Ya Allah apakah aku telah melupakan rumahku atas semua keinginanku yang tidak terpenuhi? Astaghfirullahal’adhim.. Astaghfirullah..”

Semoga aku bisa menerima semua ini dengan lapang dada dan tidak membuat siapapun merasa kecewa dengan sikapku yang akhir-akhir ini mungkin terlihat sedikit antipati dengan rumah keduaku. Wahai saudaraku aku hanya membutuhkan waktu agar aku bisa belajar menerima keadaan yang bertentangan dengan keinginanku sama halnya ketika aku masuk kampus dan jurusan yang sebenarnya tidak aku inginkan. Yaa Rabbana lapangkanlah dada ini menerima semua keadaan ini. Hilangkan semua prasangka buruk yang berada dalam hati ini. Sucikan hati ini. Tunjukkanlah jalan lurus untuk meraih keridhoanMu.

Semoga dimanapun aku berada aku bisa memberikan manfaat bagi orang lain disekitarku. Semoga rumah keduaku tetap berdiri kokoh siapapun yang menjaga dan merawatnya.. Rumahku maafkan aku karena aku telah menelantarkanmu.. Semoga para pejuang disana sudi memaafkan kelalaianku pada amanahku disana.

Wahai diri luruskan niat untuk apa kau berada disini..

Wahai diri tekadkan dalam hati bahwa kau akan berjuang dirumah yang lain menegakkan panji Allah..

Wahai diri tersenyumlah karena rumah keduamu memiliki prajurit-prajurit Allah yang tangguh..

Wahai diri lakukanlah yang terbaik demi hidupmu dan demi orang-orang yang kau cintai..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s