Jangan Lupa Ucapkanlah ‘Insya Allah’


“Besok kamu ikut LKO kan?” tanya salah seorang kawanku di TL.

“Insya Allah”, jawabku sambil tersenyum.

“Insya Allah bahasa Arab atau bahasa Sunda?” tanyanya lagi.

“Ya bahasa Arab lah, masa Sunda”. Jawabku tegas.

“Kali aja, kalau Sunda kan berarti kemungkinan tidak.. hehe” tukasnya sambil tertawa.

Namun, hatiku sempat tertegun beberapa saat. Berpikir apakah memang selama ini orang berkata ‘Insya Allah’ tanpa mengetahui makna dan tujuannya..

Ingatan diatas kembali menyapa jiwaku ketika Kadept saya di sebuah organisasi kampus memberikan sebuah tausiyah sesaat sebelum kami mengadakan rapat koordinasi. Begitu pula tepat setelah saya membaca buku bertajuk ‘Membangun Ruh Baru’ karya Ust. Musyaffa Abdurrahim mengenai salah satu topik bukunya yaitu urgensi Insya Allah.

Seorang muslim memang wajib memiliki suatu optimisme yang tinggi (raja’) ketika hendak melakukan sesuatu kebaikan. Akan tetapi rasa tersebut harus diimbangi dengan perasaan takut (khauf) jika kebaikan yang dilakukan tidak diterima oleh Allah swt. Seperti firman Allah dalam QS Al-Mukminun ayat 57-61 :

Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Dan orang-orang ynag beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS Al-mu’minun : 57-61)

Terkadang karena saking yakinnya kita dapat melakukan sesuatu hal besok atau di kemudian hari kita sering lupa untuk mengucapkan ‘Insya Allah’. Padahal kalimat ‘Insya Allah sangat urgen bagi seorang mukmin, bahkan di buku tersebut dikatakan sebagai dharuri yang artinya kita akan hancur kalau tidak mengucapkan kata ‘Insya Allah’. Seharusnya ucapan ‘Insya Allah’ kita jadikan sebagai budaya, gaya berbicara, dan karakter yang membedakan kita dengan yang lainnya.

Ketika zaman para nabi pun Allah sangat menekankan akan urgennya kata ‘Insya Allah’. Beberapa kisah yang dapat kita ambil mengenai pentingnya mengucapkan Insya Allah jika hendak melakukan kebaikan yaitu kisah Nabi Sulaiman as,Rasulullah saw, dan Nabi Musa as.

Kisah Nabi Sulaiman ini terabadikan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, suatu hari Nabi Sulaiman as berkata, “Malam ini aku akan menyetubuhi 60 atau 70 istriku sehingga mereka hamil. Lalu, setiap istriku melahirkan seorang anak lelaki yang akan menjadi mujahid penunggang kuda fisabilillah.” Namun, beliau lupa mengucapkan ‘Insya Allah’.

Ketika malam itu beliau memang menyetubuhi 60 atau 70 istrinya, tetapi  yang hamil hanya salah satu diantara istrinya. Bahkan anak yang dilahirkannya pun dalam keadaan cacat atau tidak sempurna fisiknya. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda : “Kalau saja Nabi Sulaiman as mengucapkan insya Allah, niscaya mereka akan berjihad di jalan Allah sebagai penunggang kuda semuanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kisah mengenai Rasulullah yang ditanya oleh An-Nadhar bin Al-Harits dan ‘Uqbah bin Ani Mu’ith sebagai utusan kaum kafir Quraisy. Pertanyaan yang diajukan oleh kedua orang ini adalah : Bagaimana kisah Ashabul Kahfi ?, Bagaimana kisah Dzul Qarnain ?, dan Apa yang dimaksud dengan Ruh?.

Rasulullah saw bersabda kepada dua orang itu “besok akan saya ceritakan dan saya jawab.”.Akan tetapi Rasulullah saw lupa mengucapkan Insya Allah. Akibatnya wahyu yang datang setiap kali beliau menghadapi masalah terputus selama lima belas hari. Sedangkan orang Quraisy setiap hari selalu menagih janji kepada Rasulullah saw dan berkata “Mana ceritanya?besok..besok..besok..”. ketika itu Rasulullah saw sangat bersedih. Akhirnya Allah menurunkan wahyu surat Al-Kahfi yang berisi jawaban kedua pertanyaan pertama, pertanyaan ketiga berada dalam surat Al-Israa ayat 85.

Allah berfirman pada akhir surat Al-Kahfii :

Janganlah kamu sekali-kali mengatakan, ‘ Sesungguhnya saya akan melakukan hal ini besok,’ kecuali dengan mengatakan Insya Allah.” (QS Al-Kahfi :23-24)

Bahkan orang yang paling mulia disisiNya, yang telah diampuni dosanya baik yang telah lalu dan yang akan datang pun ditegur oleh Allah swt dengan tidak mengucapkan Insyaa Allah. Lalu bagaimana dengan kita?

Kisah terakhir adalah mengenai kisah Nabi Musa as.

Pada suatu hari, ketika Nabi Musa as sedang mengajar kaumnya timbul pertanyaan, “Siapakah yang paling alim diantara kalian?’ Nabi Musa as menajwab ‘Saya’. Atas jawaban tersebut Allah menegur beliau dan memberitahukan kepadanya bahwa ada seorang hamba Allah swt yang lebih alim. Akhirnya Nabi Musa as ingin berguru kepada hamba Allah itu yang tak lain adalah Nabi Khidhir as. Lalu hamba Allah itu menerimanya dengan syarat : Nabi Musa tidak boleh bertanya,berkomentar, apalagi mengingkari apa yang akan dilihatnya sebelum hal itu dijelaskan kepadanya. Nabi Musa as menerima persyaratan itu. Namun Nabi Khidhir berkata, “Akan tetapi kamu tidak akan mampu bersabar”.

Spontan Nabi Musa as menjawab, “Insya Allah kamu akan mendapati diriku sebagai orang yang sabar.” Dari jawaban ini beliau memang mengucapkan Insya Allah akan tetapi perkataan beliau mengisyaratkan bahwa beliau satu-satunya orang yang sabar atau dengan kata lain beliau kurang tawadhu’. Akibat kekurangan inilah terbukti bahwa Nabi Musa as memang tidak sabar, sebab setiap Nabi Khidhir melakukan sesuatu beliau selalu berkomentar, bertanya, dan mengingkarinya. Kisah ini diabadikan oleh Allah swt dalam QS Al-Kahfi ayat 60-82.

Berbeda halnya dengan jawaban Nabi Ismail ketika ayahnya Nabi Ibrahim as berkata, ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.”

Nabi Ismail as menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS Ash-Shaffat : 102). Jawaban ini mengartikan bahwa banyak sekali orang-orang yang sabar didunia ini dan insay Allah beliau termasuk salah satunya. Dan terbuktilah bahwa beliau memang orang yang sabar.

Nah, betapa pentingnya ucapan Insya Allah ketika kita hendak melakukan sesuatu. Karena kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi di kemudian hari sehingga sebagai seorang muslim wajib selalu mengucapkan Insya Allah. Bagi seorang nabi yang notabene merupakan utusannya pun wajib apalagi bagi kita sebagai hambanya..

Wallahu’alam bishshowab

Sumber : Mussyaffa Abdurrahim, Membangun Ruh Baru, Harakatuna Pubhlishing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s