Ramadhan, Wanita, dan Pasar


Bulan suci Ramadhan menjelang..
Semua umat muslim di dunia bersegera menyambutnya..
Menyambut bulan penuh berkah..
Bulan diturunkannya al-qur’an..
Bulan dimana syetan-syetan dibelenggu..
Bulan dimana pintu rezeki dan surga di buka..
Dan semua kebaikan yang akan didapatkan oleh orang-orang muslim..

Namun yang tak kalah menarik adalah kebiasaan wanita ketika bulan Ramadhan yaitu berbondong-bondong pergi ke pusat-pusat perbelanjaan dan memasak berbagai aneka hidangan.

Dulu semasa kecil saya pergi ke pasar untuk berbelanja, contohnya pakaian dan biasanya pergi saat bulan Ramadhan. Dan anehnya ini merupakan sebuah tradisi. Tapi alhamdulillah sekarang tradisi ini mulai pudar di keluarga saya. Bukan berarti tidak boleh pergi ke pasar saat Ramadhan, tapi alangkah lebih baik jika kita persiapkan kebutuhan kita saat Ramadhan sebelum bulan Ramadhan. Karena Ramadhan adalah bulan untuk kita beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Bukan untuk bermewah-mewahan dengan berbelanja hal-hal yang terkadang sebenarnya tidak diperlukan.

Dan yang lebih aneh biasanya para wanita atau ibu-ibu modern berbelanja menjelang hari raya Idul fitri, hari-hari dimana harusnya bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah dan mendapatkan malam lailatul Qadr. Padahal secara mayoritas, para pedagang justru menaikkan harga jual menjelang akhir Ramadhan.

Rasulullah saw bersabda “ Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid. Dan tempat yang paling dibenci-Nya adalah pasar” (HR Muslim)

Lalu apakah yang membuat Allah membenci pasar?

  • Jika Anda menengok pasar entah itu pasar tradisional, swalayan, atau supermarket, lihatlah wanita disana, hampir semua bertabarruj (berdandan) yang layak ia berikan hanya kepada suami.
  • Terjadinya ikhtilath antara pria dan wanita. Ini jelas pasti terjadi apalagi di pasar-pasar tradisional.
  • Penipuan dan kecurangan. Tak jarang pemilik toko melakukan kecurangan jual beli terhadap pembeli bukan? atau tempat terjadinya pencopetan.

Dilihat dari fakta-fakta diatas sebaiknya wanita ke pasar jika memang ada keperluan yang mendesak. Bila hendak pergi ke pasar diwajibkan dengan muhrim. Kemudian dilarang  membebani ayah kita (suami bila telah bersuami) di luar batas kesanggupannya kalau kita hendak berbelanja.

Kedua adalah wanita atau para ibu senang sekali memasak beraneka makanan di bulan puasa entah itu untuk sahur atau hidangan berbuka. Tidak apa jika makanan tersebut memang habis atau lebih bagus dibagikan kepada orang yang tidak mampu daripada mubazir. Sesungguhnya Ramadhan bukan bulan makan dan minum, melainkan bulan ibadah. Hidangkan makanan yang wajar saja dan sesuai dengan selera keluarga tanpa memaksa-maksa diri dan bebas dari tabadzir (pemborosan).

Jadi bagi Anda kaum muslimah hendaklah di bulan suci Ramadhan ini dimaksimalkan untuk beribadah dan bertaqarrub kepada Allah swt..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s