Bidadari


Wahai orang yang memanggil dan mencari bidadari

Agar dapat bercumbu dengannya di taman-taman surgawi

Andaikan kau tahu siapa yang kau seru, tentu kau tidak akan diam saja membisu

Andaikan kau tahu dimana dia berada, kau kan berusaha dengan sekuat tenaga

Segeralah dan tapaki jalan menuju kesana, karena jalan yang kau tempuh tak lama lagi kan tiba

Bercintalah dan berbicaralah dalam kalbu

Persiapkan maskawin selagi kau mampu untuk itu

Jadikan puasamu sebagai bekal untuk pertemuan

Malam pertama adalah malam fitri seusai Ramadhan

Harapkan keindahan dan kecantikannya yang memikat

Hampirilah sang kekasih dan jangan kau terlambat

Wahai orang yang berthawaf di Ka’bah yang mulia

Yang dikelilingi bebatuan dan sendi-sendinya yang berlari-lari kecil di sekitar Shafa

Setiap saat meniti jalan sa’y yang dilaluinya

Dari jauh mereka melihat kemah dan tenda, tampak jelas karena sinar dan cahayanya

Hampirilah kemah-kemah itu dan tinggallah di sana

Di dalamnya ada rembulan tanpa ada kekurangannya

Bidadari-bidadari cantik jelita

Mencari pemuda-pemuda yang menjadi kekasihnya

Pandangan matanya indah menawan, pandangan yang menjanjikan ketentraman

Mengapa dia harus memandang bidadari?

Mahasuci yang menciptakan kecantikan sejati

Dia meminum dari gelas-gelas kecantikannya seperti orang yang minum karena dahaga

Akhlaq dan kecantikannya tiada tandingan seperti bulan setelah tanggal delapan

Matahari berjalan di wajahnya yang menawan

Malam pun tunduk di bawah dedahanan

Di tempat itulah dia berdecak kagum, bagaimana malam dan matahari bisa terangkum

Mahasuci Allah dengan segala ciptaanNya

Mahasuci yang menundukkan ciptaan manusia

Malam tiada mendahului matahari hingga datang pagi yang dini

Matahari datang bukan untuk mengusir malam tetapi untuk bergandengan sebagai kawan

Keduanya adalah cermin bagi yang memandang

Siapa yang ingin melihat wajah akan terlihat terang

Dia bisa melihat keelokan wajah di wajahnya

Melihat keelokannya tampak jelas di depan mata

Matanya lebar dan hitam serta berbulu lentik

Kilat menyambar tatkala dia tersenyum ceria menyinari atap istana dan dinding-dindingnya

Taken from Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin, Ibn Qayyim Al Jauziyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s