Diary FSLDKN VX Manise.. Part 2


== 1.10 am ==

Suara roda kopor mewarnai suara malam Salman, sayup-sayup sang angin mengantarkan kepergian kami. Suara-suara malam pun seolah berkata bahwa mereka adalah utusan Sang Pencipta, untuk mengingatkan kami agar kami senantiasa meluruskan niat hanya karenaNya.

Kami berdelapan (taufiQ , titan, duin, tuti, alam, agung, feri, dan sri) berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Sang Kapitan Pattimura, bersama dengan tiga pejuang lain telah pergi mendahului kami. Kami berdelapan berangkat mengendarai travel Cipaganti. Satu persatu barang bawaan kami dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Kami pun memosisikan diri untuk duduk dengan nyaman.

Intermezzo..

Rrrrrrrttttttt.. Suara handphone bergetar.

“Assalamu’alaykum, kenapa akh?” jawab sang pemilik HP.

“Tiket pesawat ada di antum kan?” tanya sang penelpon.

“Ane nggak megang akh, bukannya tadi udah di antum, bareng sama print-an soal?”

“nggak ada”, jawabnya kebingungan.

“Lho.. ane nggak tahu, coba ngomong ke agung aja.”

Semua penonton kebingungan, panik level rendah. HP pun melayang dari satu tangan menuju yang dituju.

“Djie, bukannya tadi ane ngasih ke antum, pas di GSS? Ane nggak megang deh. Coba cari dulu.” Jawab sang Agung.

Penonton bingung.. tiba-tiba HP bergetar kembali.

“Ga ada fiQ, seriusan deh.”

“Lho, terus gimana akh, tadi seinget ane di GSS ga ada apapun yang tertinggal”

“Cari dulu, gung, kali aja keselip atau kebawa siapa gitu, atau kita cari dulu di GSS”, sahut salah satu diva Gamais.

Sang supir pun ikut bergabung menambah level kepanikan kami, “ayo dicari dulu, mumpung masih disini, kalo udah di bandara, gimana mau balik lagi, nanti ketinggalan pesawat”

Tiba-tiba agung, mengobrak-ngabrik tasnya, dan ternyata si tiket ada di tasnya Agung..

***gubrakkk…

Akhirnya kami pun berangkat melalui tol padalarang. Menyusuri jalanan kota Bandung saat dini hari. Melalui jembatan pasopati, engkau akan melihat banyak bukit rumah penduduk menghiasi pemandangan menyesakkan kota metropolitan. Lampu-lampu rumah terlihat cantik dari kejauhan, menambah eksotis tata kota yang semu. Perbukitan rumah penduduk yang diselingi gedung-gedung cukup tinggi, menambah rumit pola kota tersebut, namun tetap indah dipandang saat gelap malam.

 Lama kami menyusuri perbukitan rumah, kami pun disuguhi oleh berbagai pepohonan rindang dan daun-daunan yang melambai berharap mentari sudi mengintip sebentar lagi, mengiringi langkah kami menuju tempat tujuan. Dan kami pun terlelap ditemani hawa sejuk air conditioner..

 ==  4.04 am ==

Kami tiba di bandara Soekarno Hatta. Hawa panas Jakarta mulai menerpa. Baru seperempat perjalanan, tapi hati ini begitu berat untuk melangkah, mengingat tugas besar yang sedang menunggu. Kami pun menaruh berbagai barang bawaan pada troli kecil, agar kami tak perlu mengangkut satu persatu.

Disana kami bertemu dengan saudara seperjuangan, dua orang akhwat, dari UI dan UNJ, dengan tujuan yang sama menuju Ambon Manise. Kami pun bersiap untuk checkin, kami membawa troli yang telah penuh oleh barang menyusuri lorong-lorong airport.

Intermezzo..

“Yah, gimana ini nggak maju-maju, berat banget.. Ikhwannya gimana sih.” Gerutu seorang akhwat.

“iyah, ikhwan ni. Ga lihat apa?” sahut akhwat yang lain.

Tiba-tiba, salah seorang panglima Pattimura Gamais menoleh, “akhwat perlu bantuan?” dengan senyum yang tersungging bertanya pada kami. Kami pun hanya tertawa, tapi sang panglima tak membantu.

Saat belokan masuk ke bandara..

“eh, eh, ini nggak bisa belok, nggak maju juga” sambil tertawa-tawa karena bingung dan malu. Ikhwan lain sudah masuk dan mulai melakukan serangkaian pengecekan di bandara.

“Mas, temannya keberatan bawa barang, coba ditolongin” kata petugas pengecekan bandara.

“ Oh, gapapa pak” jawab sang  panglima Agung WMA dengan wajah datar seolah semua baik-baik saja, padahal kita kewalahan bawa troley.

Dua akhwat itu hanya termangu sambil berusaha mendorong troli, dan alhamdulillah bisa jalan juga.

 == 04.43 am ==

Sepi yang ditemani hawa panas yang berhasil mengalahkan dinginnya air conditioner ruangan. Kami tiba di terminal keberangkatan B-4 menunggu waktu penerbangan sambil menunaikan ibadah shalat shubuh. Menikmati sarapan pagi seadanya. Ada juga yang asyik menikmati lantunan Al-Qur’an dan menikmati sekotak susu coklat. Para calon penumpang pun berdatangan saat menjelang pukul 5.30 WIB pagi. Hingga akhirnya kami berjalan menuju lorong tempat pesawat di parkirkan saat sang operator memanggil kami untuk segera memasuki pesawat.

 == 05.56 am ==

Ehm.. duduk sungguh tak nyaman.. sisi kanan kiriku bagaikan patung hidup. Jika diibaratkan, samping kananku adalah gunung es yang berdiri dengan kokoh, dingin. Sedang samping kiriku adalah jurang yang sebenarnya tidak terlalu dalam, mungkin kita masih bisa menaiki jurang tersebut. But,  i think everything it’s alright.🙂 . Pesawat bersiap untuk take off dan dengan kecepatan penuh, , terbang tinggi ke angkasa. Ketinggian sekitar 3000 ft, penerbangan ini melalui bandara Juanda Surabaya. Bersama dengan batavia air, kapten Edward Roy.

 What a nice cloud over the air !!!

Biru putih membentang luas, menunjukkan keperkasaan Sang Khaliq

Mentari pagi mengintip dari balik awan, laksana putri yang malu-malu keluar dari singgasana

Awan mendung menambah warna kehidupan

Bahwa dalam kebahagiaan pasti akan ada kesedihan di dalamnya

Namun, semua tergantung pada hati dan perasaan kita

Tetap bersedih ataukah berlari meraih bahagia

 Perjalanan ini ditemani dengan awak-awak kapal yang sangat ramah. Jadi sempat terbersit, seandainya ada penerbangan muslim, awak-awak kapalnya ikhwan-akhwat pakai jilbab. Mungkin akan berbeda rasanya. Pesawatnya bukan Garuda Air, tapi Gamais Air. Hehe.. Mimpi kali yha.. Setiap kali, seorang operator akan memberitahukan para penumpang mengenai kondisi pesawat. Kami pun disuguhi menu sarapan pagi roti dan air mineral..

 == 07.10 am ==

Alhamdulillah setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, kami tiba di bandara Juanda, Surabaya. Hawa panas yang sama dengan Jakarta, sekitar 25oC . Kami menunggu sekitar 20 menit ,menunggu penerbangan selanjutnya. Kemudian bersiap kembali untuk take off menuju bandara internasional Pattimura Ambon.

== 07.35 am ==

Alhamdulillah, kehidupan lebih terang. Samping kiriku adalah taman bunga di musim semi, semerbak wanginya membuat tenteram dan damai, nyaman. Bersiap untuk take off ke Ambon. Perjalanan akan memakan waktu sekitar dua jam dua puluh menit. Kita akan tiba pukul 09.55 WIB atau setara dengan 11.55 WIT. Perjalanan ini tentunya melintasi ruang dan waktu. Disana waktu akan terasa lebih cepat dua jam.

Selama perjalanan terlihat hamparan langit luas membentang. Sang colonimbus berarak berkejaran di tiup angin. Indah terlihat, tapi hanya bisa terlihat dari jendela kecil. Banyak penumpang yang terlelap tidur, membaca, bahkan ngemil bersama kawan sebelahnya menikmati penerbangan ini.

== 11.55 WIT  ==

Alhamdulillah, pattimura Gamais tiba di bandara Internasional Pattimura Ambon. Subhanallah, disini ternyata lebih panas. Suhu udara sekitar 29oC karena Ambon berada di dekat lautan. Setelah turun dari pesawat, kami berfoto terlebih dahulu untuk mengabadikan dalam kanvas sejarah Gamais. Bahwa pasukan Pattimura Gamais, alhamdulillah telah menginjakkan kakinya di Bumi Ambon Manise.

Kami bergegas menuju pengambilan barang dan mulai mencari barang-barang pribadi. Sama halnya dengan para penumpang lain yang sibuk mencari barangnya.

 Intermezzo

“Oh, ini koporku” kata seorang akhwat.

Kemudian ia mengecek kondisi kopor untuk melihat apakah kunci tetap terpasang atau tidak. Alhamdulillah aman. Tapi dia tertegun sejenak dan terkaget-kaget.

“Lho, kok namanya jadi Mr Taufiq Suryo?” gumamnya pada salah seorang akhwat lain.

“Hahaa, iya yah? Jangan-jangan punyaku juga.” Jawabnya tertawa.

“Oh iya, nama kopor kita Mr Taufiq semua” sahut akhwat lain sambil terkekeh menahan tawa.

== 12.10 WIT ==

 Setelah melewati pintu keluar bandara, kami di sambut oleh panitia FSLDKN VX dengan penuh kehangatan. Padahal kita kepanasan, subhanallah. Baru beberapa jam sudah merindukan sejuknya Bandung Gemah Ripah Loh Jinawi.

Akhirnya kami berpisah, pasukan ikhwan pergi bersama dengan panitia ikhwan. Begitu pula yang akhwat. Kami menuju ke tempat istirahat sementara, karena acara ini belum resmi, dan kami tiba bukan pada saatnya.

Di tempat singgah ini, kami bertemu dengan peserta-peserta lain dari berbagai daerah. Dari Sabang sampai Merauke. Kami menghabiskan malam dengan beristirahat karena perjalanan yang cukup jauh melintasi ruang dan waktu.

 == 18.45 WIT ==

Kami segolongan anak-anak daerah yang berada di penginapan, berkumpul bersama dengan harapan untuk berkenalan satu sama lain. Subhanallah, banyak inspirasi yang bisa kita dapatkan disana, mulai dari pribadi yang hangat, bersahaja, humoris, dewasa, keibuan, pintar, berwawasan luas, dan banyak hal lainnya yang bisa aku ambil. Hem, mereka masih muda tapi pemikirannya luar biasa. Sangat berbeda dengan anak daerah kota metropolitan. Pokoknya Subhanallah..

Hari ini memang sangat melelahkan, tapi tak sebanding dengan berbagai hikmah yang didapatkan……

Bumi Ambon Manise

29 Juni 2010

chrysanthee..

One thought on “Diary FSLDKN VX Manise.. Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s