Diary FSLDKN XV Manise.. Part 3


Pagi hari di daerah pinggiran kota Ambon, udara pagi yang cukup bersih namun panas mulai menjamu aktivitas kami hari ini. Acara resmi belum dimulai, oleh karena itu kami menghabiskan waktu untuk berbincang bersama dengan peserta lain. Perbincangan yang hangat mulai dari perkenalan kembali sambil mengingat-ingat nama dan asal daerah hingga konsultasi ke LDK-an bersama LDK-LDK lain. Banyak cerita hikmah dari berbagai kondisi keLDKan di daerah lain. Mulai dari LDK mula hingga mandiri, bahkan LDK yang belum legal dan LDK yang harus berjuang melakukan ekspansi dakwah dengan mitra-mitra dakwah islam. 

Pagi yang indah karena langsung dijamu dengan diskusi yang hangat, walaupun sangat terasa lapar.

Siangnya kami makan siang sekaligus sarapan, sambil tetap berbincang berbagai hal. Alhamdulillah mulai menjalin keakraban. Tapi ada kabar buruk, salah satu akhwat Pattimura Gamais mengalami kondisi yang tidak fit. Dia mengalami kecapean, hingga tubunya lemas dan tidak dapat memakan apapun kecuali minuman. Tapi alhamdulillah berangsur membaik saat menjelang sore hari.

I’d missed the cold of Bandung, suddnly i felt homesick.. Missed my mom and my dad, of course my blue room too..

==  16.40 WIT ==

Setelah hampir tiga perempat hari kami menghabiskan waktu di tempat istirahat sementara, akhirnya kami pergi menuju Universitas Pattimura, tempat dimana acara FLSDKN XV berlangsung. Sungguh perjalanan yang membutuhkan kedewasaan dan kesabaran. Kami bertiga, salah satu akhwat sudah berada di Unpatti, karena harus melakukan meeting bersama dengan panitia untuk mengurus Sekolah LDK. Kami membawa lima kopor dan dua dus buku untuk dijual. Subhanallah, beratnya. Tapi alhamdulillah, jalanannya bagus dan tidak sepadat jalanan di Bandung. Selain itu ada panitia yang bersedia untuk membantu membawakan barang-barang kami. Subahanallah totalitas panitia yang luar biasa. Saat berada di pinggir jalan raya, bisa dilihat bahwa kita bagaikan para imigran yang siap berimigrasi ke tempat yang lebih baik, membawa kopor dan tas masing-masing menunggu jemputan.

Kami pergi ke Unpatti menggunakan bis yang di sewa oleh panitia. Tiba di kampus tersebut kami di putar-putar, hingga turun tiga kali. Akhirnya rombongan kami meninggalkan kopor masing-masing di depan ruang auditori dan pergi ke penginapan.

 Intermezzo

“Aduh, teh ini berat banget, kenapa jadi akhwat yang bawa sih?” kata seorang akhwat.

Tiba-tiba aku menoleh ke arah samping, tepat di ujung mata, terlihat Kapitan PG dan dua panglimanya sedang duduk.

“Wah, ada mas Kapitan, minta mereka aja yang membawa” jawabnya.

“Oy, kak bawain dus buku dong” teriak akhwat itu.

Alhamdulillah akhirnya dua dus tersebut ikhwan yang bawa. Sungguh Allah itu senantiasa memberi pertolongan kepada hamba-Nya yang sedang kesulitan melalui tangan-tanganNya.

 == 17.45 WIT ==

Tiba di penginapan LPMP wisma Anggrek, daerah Pokka, Ambon. Kami berpisah kamar. Kami bertiga (duin, titan, dan sri) berada di kamar A-9. Terdiri dari tiga buah kasur plus seprai warna biru, dua buah meja kerja, satu buah cermin, meja tempat tidur, satu buah lemari, satu buah rak jemuran, dilengkapi dengan kamar mandi dan kipas angin. Kamar yang cukup besar dan memadai untuk membuat kami nyaman selama berada di sini. Saat memasuki kamar , kami di sambut dengan kodok yang merayap di dinding. Kami mendapatkan dua buah kodok hijau di kamar, dan satu buah di kamar mandi. Selain itu kami pun berjumpa dengan binatang sejenis kaki seribu namun ukuran tubuhnya sekitar 2 cm.

Kemudian kami menunaikan shalat magrib dan aktivitas pribadi di senja hari. Sambil menunggu kopor kami diantarkan. Kipas angin berdengung memanjakan kami menikmati hangatnya kota Ambon.

== 18.40 WIT ==

Alhamdulillah kopor kami diantarkan. Kami pun berbenah diri dan membersihkan diri. Melakukan aktivitas pribadi hingga malam hari dengan cerita. Berkunjung dengan tetangga sebelah. Dan kami pun beristirahat selepas isya. Walaupun tak bergerak cukup banyak, namun kondisi cuaca yang lebih panas seolah menguras energi dan menghabiskan cairan tubuh sehingga cepat lelah.

Intermezzo

“Duh tak ada air minum yha??” kata seorang akhwat senior.

“Iya nggak ada teh?” jawab akhwat junior.

“tapi aku haus banget, masa panitia nggak ngasi air minum sama sekali sih?” jawabnya

Apakah pemirsa tahu apa yang dilakukan akhwat senior itu? Yeah, saking hausnya dia minum air dari keran. Walaupun dia tahu dengan jelas rata-rata E.coli yang biasa berada pada air PDAM tanpa dimasak terlebih dahulu. Namun, karena terdesak kondisi, dia melupakan idealisme kehigienisan dalam minuman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s