First Day at FSLDKN XV


03.00 WIB atau 05.00 WIT

“tok-tok-tok. Assalamu’alaykum. Saatnya shalat shubuh.” Teriak sang panitia.

Penghuni A-9 tidak ada yang menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Aku pun terbangun, dan mengecheck jam di HP. Pukul tiga lewat. Lalu aku terkaget ini kok sudah mulai terang, dan aku teringat kita lebih cepat dua jam. Astaghfirullah, lupa mengeset jam di HP. Aku bangunkan kedua adikku yang lain untuk melaksankan shalat shubuh.

Kami pun bergegas berbenah diri mempersiapkan diri menjelang pembukaan acara resmi. Mengenakan pakaian dengan sopan , formal, dan rapi.

07.00 WIT

Kami sarapan terlebih dahulu sambil menunggu bis jemputan. Sarapan bersama sambil berkenalan dengan peserta-peserta lain yang belum sempat berkenalan kemarin. Kesimpulan yang aku dapat adalah anak ITB mau ikhwan ataupun akhwat semua baby face.

08.35 WIT

Tiba di ruang auditori Universitas Pattimura. Bangunan dengan luas sekitar 30 x 25 x 10 m  bercat putih berdiri dengan kokoh. Ukiran dan bentuk ruangan cukup bagus, begitu pula dengan pencahayaannya. Namun sayangnya, suara yang dihasilkan bergaung, memantul tak beraturan, menyulitkan para peserta untuk mendengarkan setiap agenda dengan khidmat. Tapi acara tetap spektakuler. He

09.00 WIT

Acara resmi Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional ke- XV dengan tagline “Akselerasi LDK untuk membangun sinergi kebhinekaan dalam mewujudkan Indonesia yang kontributif bagi harmonisasi dunia” telah dibuka.

Pembukaan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia yaitu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman. Semua peserta berdiri dan menyanyikan lagu tersebut dengan khidmat dipimpin oleh seorang dirigent. Dilanjutkan dengan penyampaian kata sambutan dari Ketua Panitia FSLDKN XV yaitu Daud Usman Souwakil, Ketua LDK Al-Ikhwan, Rektor Universitas Pattimura, Wakil Gubernur Ambon, dan ditutup dengan pemukulan gong oleh Ketua Puskomnas, Rektor UNpatti, dan Ketua LDK Al-Ikhwan. Sambutan tersebut ditutup dengan pembacaan do’a. Setelah opening ceremony tersebut acara dilanjutkan dengan pertunjukkan teatrikal anak bangsa yang menceritakan zaman penjajahan di Indonesia, khususnya daerah timur Indonesia (Maluku).

Terus setelah itu, sambil menunggu shalat zuhur kami berempat jalan-jalan ke bazaar. Karena cuaca cukup panas, duin membeli es daeng namanya, bahan-bahannya, es batu, ada semacam sagu, kacang, kelapa muda, gula merah,yha cukup menghilangkan dahaga lah. Yang menarik  adalah, disana banyak ikhwan-ikhwan dari luar daerah yang sednag membeli es juga, terus mungkin karena kita cukup eksklusif (duduk di bawah pohon rindang di belokan jalan, aneh banget kan?), mereka berbisik (lebih tepatnya bertanya) darimana sih akhwat-akhwat ini? begitulah kira-kira.. Tapi nggak tahu juga kenapa tanya kek begitu???

Wah pas liat bazaar jadi kepikiran, kenapa Gamais nggak ikut jualan juga yha? Lumayan buat pemasukan.. Jual apa kek, buku, atau jual semua barang yang bertumpuk di sekre, biar sekre kita jadi luas kembali. haha

Setelah istirahat, shalat, dan makan, acara dilanjutkan dengan seminar dan dialog kebangsaan yang diisi oleh Pengurus Pusat PPNU, Guru besar Universitas Airlangga Surabaya yaitu Prof. Dr. K. Maridan PHd, Fungsionaris PGI, dan Perwakilan Tionghoa (China). Seminar tersebut membicarakan mengenai Indonesia dari berbagai persfektif sejarah (agama, budaya, dan adat), perjalanan Islam pra dan pasca kemerdekaan dalam pembangunan Indonesia, Islam dalam pandangan umat beragama, peran islam dalam pembangunan peradaban dan persatuan bangsa, kemudian mengenai peran islam dalam kepemimpinan dan demokrasi Rakyat, tinjauan kasus konflik umat beragama dan konflik daerah kesukuan, serta membahas mengenai peran pemuda dalam mewujudkan revolusi kebangsaan menuju Indonesia yang sejahtera. Acara seminar ini berakhir menjelang shalat ashar. Padahal hanya duduk mendengarkan tapi lebih capek daripada jalan-jalan lho..

Seminar kedua yaitu Dialog Lembaga Dakwah Kampus bersama Arya Sandhyuda, seorang pengarang buku Renovasi Lembaga Dakwah Kampus dan Arman Mualo, mantan ketua LDK Al-Ikhwan Unpatti. Dialog ini memaparkan mengenai kondisi berbagai LDK di Indonesia mulai dari potensi daerah dalam perkembangan islam, proses terbentuknya sebuah LDK, pergerakan LDK di setiap daerah khususnya daerah timur Indonesia, berbagai konflik sebuah LDK baik internal maupun eksternal, dan hal-hal lain terkait sebuah Lembaga Dakwah Kampus. Acara terakhir yaitu Simposium Dakwah Kampus Nasional.

Acara berakhir pada pukul 22.00 WIT, kemudian seluruh peserta kembali ke penginapan masing-masing. Wah, senangnya hari ini. Ehm..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s