Ilmu bagai IPAM


Ditulis saat disalman, saat sedang menjarkom, karena HP ngehang, jadinya nulis ini, walaupun isinya ngehanng juga pemirsa..

Ketika sebuah ilmu diibaratkan,maka salah satunya mungkin bagaikan suatu sistem instalasi pengolaahn air minum (IPAM).. Maksa abis sih sebenarnya. hehe (mellow stress mode on) Dimana sebuah IPAM teridiri dari intake, prasedimentasi, koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dan desinfeksi.

Dalam IPAM, air itu harus dicari sumbernya kemudian jadilah sumber tersebut sebagai intake IPAM tersebut. Intake pun harus mencari sumber yang ideal dan bersih tentunya, selain melalui sungai bisa juga langsung dari mata air. Nah jika diibaratkan sebuah intake, maka ilmu itu harus kita cari dari sumber aslinya yang ideal dan terpercaya atau langsung dari sumber primer itu lebih bagus. Sama halnya dengan intake yang bisa menyadap air dari sungai, maka ilmu pun bisa kita dapatkan dari buku-buku yang sekarang banyak tersedia.

Setelah melewati intake, maka sebelum masuk ke bak selanjutnya, biasanya terdapat sistem penyaringan untuk material-material besar seperti ranting, kerikil, dan grit. Sistem tersebut dikenal dengan bar screen. Begitu pula dengan ilmu, tidak semua ilmu bisa kita serap begitu saja, karena ada beberapa  ilmu yang mungkin menyesatkan kita. Makanya ilmu juga butuh disaring.

Setelah lolos dari bar screen, air akan memasuki bak prasedimentasi. Bak ini berfungsi untuk mengendapkan partikel-partikel tersuspensi untuk sementara yang tidak tersaring oleh bar screen. Akan tetapi bak ini digunakan bergantung dari kondisi, bisa jadi dalam sebuah IPAM tidak perlu ada bak prasedimentasi. Kalo ilmu? Sama sih, ilmu juga harus kita endapkan sementara sebelum kita aplikasikan, atau langsung diaplikasikan juga itu lebih bagus. Nah, kita endapkan dulu ilmu dengan mencatatnya, mau di buku, laptop, komputer, notebook, hp, pelepah daun, batu, apapun asal jangan tulis di pasir atau air aja. Mencatat bisa membuat kita belajar.

Selanjutnya air yang berada di bak prasedimentasi akan disalurkan dengan sistem transmisi menuju tempat pengolahan. (Biasanya intake dan prasedimentasi terletak lebih jauh dengan IPA, contoh IPAM Badak singa Bandung, salah satu intake-nya di daerah Pengalengan, Cikalong, berkilo-kilo meter jauhnya.) Saat masuk ke IPA, air terlebih dahulu akan masuk ke bak koagulasi yang dibubuhkan dengan koagulan (bahan kimia). Hal ini dimaksudkan untuk mendestabilisasi partikel-partikel tersuspensi (koloid) sehingga nilai zeta potensialnya menjadi nol. Dengan begitu, partikel tersebut akan mudah digumpalkan dalam bak flokulasi. Untuk mencampurkannya maka harus menggunakan pengadukan cepat agar terjadi turbulensi. Nah, begitu pun ilmu, tidak begitu saja mengendap dalam buku, tapi kita pun harus terus membaca dan mencari sumber baru dan menambahkannyaa dengan kebenaran-kebenaran lain. Agar lebih mantep menjadi ilmu yang terintegrasi (apa sih???). Dalam pencarian kebenaran dalam suatu ilmu tentunya banyak akan mendapatkan gesekan atau perbedaan pendapat atau adanya turbulensi pendapat. hoho. Dan tetap dibutuhkan sesorang yang menjadi guide kita, bisa guru atau dosen.

Selanjutnya akan masuk ke bak flokulasi, disini terjadi pengadukan lambat. Bertujuan agar partikel-partikel tersuspensi yang muatan zeta potensialnya nol itu bisa bergabung dan saling tarik menarik. Dan yang penting adalah waktu detensi harus tepat begitu pula gradien kecepatan  harus sesuai dengan desain awal. Filosofi buat ilmu apa yha?? nggak kepikiran yang tepat apa…. (Stagnan mode ON.. Brain hang..)

Setelah diaduk-aduk di bak koagulasi-flokulasi, air tersebut akan melewati bak sedimentasi secara perlahan-lahan. Itulah pentingnya sebuah inlet pada bak sedimentasi, agar aliran turbulen pada bak flokulasi bisa dirubah menjadi aliran laminar selaminar-laminarnya. Hal ini bermaksud agar flok yang terbentuk tidak pecah kembali, karena jika flok pecah maka akan sulit kembali untuk menggabungkannya. Di bak sedimentasi perlahan-lahan (tapi pasti !!) flok akan menjadi makroflok dan turun ke bawah ke zona lumpur. Sedangkan partikel tersuspensi atau flok yang masih terapung dengan ukuran sangat-sangat kecil akan terbawa ke bak filtrasi untuk diendapkan di sana.  Ini juga apa yah? Mungkin ilmu itu harus diendapkan dalam hati yang akan direalisasikan dengan perbuatan. Hadooh maksa abis..

Air tersedimentasi akan masuk ke bak filtrasi. Partikel yang tidak mengendap akan mengendap di bak ini. Bak filtrasi biasanya terdiri dari partikel-partikel yang memiliki kemampuan untuk mengikat partikel, seperti pasir kuarsa, antrasit, atau garnet. Partikel yang terbawa akan tersaring di media berbutir tersebut dan mengendap. Sedangkan air akan lolos dan masuk ke bak desinfeksi. Begitu halnya dengan ilmu jika kita tidak mengendapkan dalam hati dan perbuatan maka akan lolos begitu saja seperti air dalam bak filtrasi. Masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Hadoooh sangat maksa filosofinya.

Nah, di bak terakhir yaitu desinfeksi. Air akan dibubuhi oleh desinfektan untuk membunuh organisme patogen yang terdapat di dalam air agar tidak membahayakan konsumen. Sama halnya dengan ilmu yang diaplikasikan tapi disalahgunakan, hal ini perlu di desinfeksi (lhooo,, maksudnya perlu diperbaiki)agar tidak merugikan orang lain. Contohnya, ilmu hipnotis (atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan anaestesia) jangan disalahgunakan untuk hal-hal yang tidak baik. Hahaha apa coba sangat memaksa sekali!!!

Pokoknya gitulah ceria tentang perjalanan air diolah menjadi air bersih…..

Aduh, nggak nyambung.. to be continued.. Hanya ingin mereview untuk presentasi KP. hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s