Bandung Malang


Kini aku tak bisa lagi berlari di padang rumput selepas sekolah. Karena telah berubah menjadi padang aspal. Tempat paman mencangkul dan bercocok tanam pun kini menjelma menjadi sebuah cafe. Pohon yang rindang di arah timur rumahku berubah menjadi hotel Marbella. Tanah yang segar berubah menjadi aspal yang keras. Hutan yang ada berubah menjadi bangunan perumahan. Sedih..

Menurut salah seorang dosen, Bandung adalah salah satu kota yang perencanaannya terburuk, melebihi Irian mungkin, atau pedalaman daerah Jambi. Yha, semua aturan hukum lingkungan di babat habis oleh ‘uang’. Untuk apa ada AMDAL? Hanya kumpulan poin-poin dalam kertas, tapi tanpa implementasi. Untuk apa berkonsultasi pada engineer lingkungan? Toh beberapa hanya sebagai sebuah formalitas, karena telah tunduk pada materi dan keuntungan.

Daerah yang seharusnya tidak diperuntukkan sebagai daerah perumahan, di babat habis menjadi daerah perumahan, hotel, cafe, tempat rekreasi. Beruntung jika KDB masih bisa dipertahankan tetap stabil, bagaimana jika berkurang? Tapi pasti akan berkurang bukan? Andai tanah bisa berbicara mungkin ia akan protes.

Lalu siapa yang salah? Tak mampu kukatakan siapa yang salah karena setiap elemen punya alasan dan tentunya mengharapkan keuntungan. Mulai dari warga yang rela menjual tanahnya karena masalah penghidupan yang semakin sulit. Akhirnya ia menjual tanah-tanah yang padahal merupakan daerah resapan air. Pembeli tanah, tergiur dengan lahan tersebut karena memungkinkan bisa dijadikan sebagai usaha untuk mendapatkan keuntungan. Pemerintah yang menjadi pusat kebijakan pun tunduk pada keuntungan yang mungkin didapatkan dari pembeli tanah. Sedangkan konsultan hanya menasehati tapi tak bisa berbuat lebih dari itu, karena kapasitasnya benar-benar hanya sebagai konsultan. Sulit memang..

Andaikan, uang tidak berharga mungkin hutan-hutan, daerah resapan air, kebun, dan padang rumput itu kini masih ada. Andaikan uang tidak berharga, mungkin daerah Simpang Dago tidak akan terbanjiri limpasan air hujan dari daerah utara Bandung. Andaikan uang tak berharga dan tak membutakan mata hati, mungkin saudara-saudara kita di Baleendah bisa berlebaran di rumah masing-masing, bukan di pengungsian. Ah, Andaikan saja..

Seandainya, daerah resapan air di daerah Utara Bandung masih berfungsi dengan baik, mungkin tidak akan terjadi banjir di daerah selatan Bandung. Andaikan manusia bisa lebih ramah dan bersahabat dengan alam, mungkin manusia tak akan mendapat dampak buruk seperti banjir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s