Pendidikan untuk semua


Hari ini saya mengikuti sebuah psikotes di kampus. Ada pengalaman menarik, karena psikotes untuk seleksi beasiswa, jadi ada semacam diskusi. Temanya mengenai pendidikan. Kalo kita ngomongin masalah pendidikan Indonesia, kayaknya nggak akan selese-selese deh. Haha. Saking banyaknya. Tapi seperti selalu dikatakan oleh teman saya, bahwa kita harus fokus pada solusi bukan masalah we terus dikerubungi, kayak lalat ngerubungi makanan.

Nah, dari hasil diskusi tersebut bersama teman-teman. Ada ide yang muncul dari benak saya. Kalo koruptor ditangkap KPK, maka pelaku pendidikan diurusin sama “tim elit” pengawas pendidikan juga. Mungkin di badan pendidikan kayak Depdiknas juga sudah ada. Namun, mungkin akan lebih bagus jika badan tersebut berdiri secara independen dalam struktur pemerintahan RI. Tim elit pengawas pendidikan ini tidak hanya mengurusi SDM pendidikan yang mencakup guru/dosen dan siswa/mahasiswa, tapi mengawasi standar mutu pendidikan di seluruh wilayah Indonesia, transparansi alokasi dana bagi sekolah/PTN, dan standar kualitas dan kuantitas infrastruktur pemerintahan.

Menurut saya tiga hal tersebut cukup penting dalam memperbaiki masalah pendidikan di Indonesia. Saya berpikir bahwa, jika tim elit tersebut terdiri dari orang-orang yang memiliki integritas tinggi, taat beragama, dan mampu memimpin. Pasti akan baik, Insya Allah. Amin. Sekarang masalahnya, siapa yang pantas?

Dengan adanya pengawasan yang mendetail dan rutin terhadap segala kebijakan, sistem, dan pelaksanaan sistem, bahkan penggunaan dana, menurut saya akan menurunkan angka rangking Indonesia baik di ASEAN atau seluruh dunia, mengenai kualitas pendidikan. Yang paling penting adalah peningkatan dan pemantauan kualitas pendidik (tidak hanya mengajarkan tapi juga mendidik secara moral). Di Indonesia sebenarnya banyak orang pintar dan pandai serta cerdas, akan tetapi dikarenakan kurangnya penghargaan(appreciate) terhadap mereka sehingga mereka lebih senang bekerja di negara lain. Bahkan, dosen sejarah desain saya mengatakan bahwa, kita yang dianggap aneh (inovasi yang tidak modern di banding negara lain) tapi menjadi sangat luar biasa jika kamu di luar negeri. Kasarnya, di Indonesia gue luntang lantung kalo bikin desain Radio kayak guling, tapi kalo di luar negeri karya gue sangat diberi penghargaan, dan gue bisa hidup disana.

Jepang mengalokasikan APBN sekitar 20% untuk pendidikan, sedangkan Indonesia tidak sampai 8%. 8% pun belum mengakomodasi pendidikan yang sekarang telah ada. Bahkan, banyak sekolah-sekolah negeri yang masih memungut biaya pendidikan padahal sudah jelas, pernah dikatakan gratis. Tapi rakyat masih tetap harus membayar biaya yang begitu mahal, padahal untuk makan saja mungkin ada yang harus rela membanting tulang. Tapi mungkin Indonesia juga bisa seperti itu, pernah kepikiran, seandainya presiden kita hidup layaknya Umar bin Khattab, yang rela memanggul gandum untuk diberikan kepada rakyatnya, mungkin tak ada lagi kelaparan di Indonesia. Hem, rindu sosok pemimpin seperti beliau..

Jadi itu ide saya, bikin tim elit pengawas pendidikan. Indonesia jayalah kau selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s