Bukit Pakar Timur


Ahad siang kulangkahkan kaki, walaupun agak malas karena mendung, pergi dengan niat untuk menghadiri walimatul ‘ursy sahabat SD saya di daerah Pakar Timur, Dago Utara, Bandung. Selama perjalanan menyusuri jalanan tersebut, sebuah memori masa kecil mulai bermain di benak saya. Hem, bau rumput liar di sepanjang jalan, pohon-pohon kayu yang besar dan rindang, serta kebun sayuran dan jagung yang menghiasi jalanan tersebut. Selama enam tahun lamanya (yah nggak enam tahun banget sih, dikurangi hari libur) saya senantiasa menyusuri jalan tersebut untuk bersekolah. Setiap kali melewatinya, pasti ada perasaan takut karena masih seperti hutan, bahkan mobil angkutan umum pun masih jarang. Selain melewati jalan utama, saya sering juga melewati jalan tikus lewat kebun jagung, yang hanya setapak. Dan memori itu kini hilang, hanya ada dalam benak saja.

Kini, samping kanan kiri tak ada lagi ilalang atau kebun jagung. Berubah menjadi beragam bangunan cafe dan resto. Jalanan yang dulu rindang kini menjadi sedikit gersang. Semua telah banyak berubah. Padahal terkahir kali jalan di daerah itu sekitar beberapa bulan yang lalu. Tapi entah mengapa merasa amat berbeda. Sedih, daerah tempat saya bermain sewaktu kecil berubah menjadi tempat permainan para konglomerat. Kalo Anda pergi ke daerah sana pasti akan banyak pilihan cafe yang bisa Anda datangi. Macem-macem lah pokoknya.

Saya tak bisa membayangkan dampak yang terjadi ketika daerah utara bagian timur Bandung menjadi tanah perkerasan. Alamat simpang Dago selalu kebanjiran deh, apalagi sekarang menjelang musim hujan. Semoga, para pengembang disana berani untuk mempertanggung jawabkan aktivitas pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. Mungkin sih sekarang ini, setiap pembangunan rumah atau gedung pastinya akan berkonsultasi dnegan pihak engineer lingkungan, tapi tidak menutup kemungkinan hanya sebagai formalitas belaka. So, buat temen-temen yang merasa peduli terhadap lingkungan mulai kritis yuk? Bahkan saya pernah sempat berdebat hebat terkait pembangunan rumah dengan ayah saya. Haha. Kalo kita punya bukti yang jelas terkait dampak dari segala pembangunan, walaupun pembangunan tersebut sangat menguntungkan dari segi ekonomi, tapi kalau sudah merusak lingkungan, menurut saya sudah tidak menguntungkan lagi. Malah merugikan generasi kita mendatang, anak cucu kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s