Harga sebuah Kejujuran


Jurdil. Jujur dan Adil. Tapi tetep aja pemilu kita nggak sempurna seperti itu, mendekati? ehm kurang juga sih. Yha begitulah kondisi negaraku tercinta. Mencari orang yang jujur berasa nyari jarum dalam jerami. Orang jujur mungkin dihargai triliunan berat berlian atau ruby sekalipun tidak akan mampu membeli sebuah kejujuran. Yha mungkin bagi orang-orang tertentu. Siapa yang jujur? Jawablah dalam hati masing-masing. Bahkan saya pun kadang sering tidak jujur pada diri sendiri. Tapi selalulah berbuat jujur. Karena jujur pangkal sukses!😉

Tulisan ini tergelitik oleh kejadian tadi sore, sepulang UTS tekonsel (wow, ternyata tak belajar pun ………………”Nggak Bisa!”… belajar pun nggak bisa juga, ngarang deh hihihi). Saat menyusuri jalanan Ir Hj Juanda depan masjid Al-Ihsan Darul Hikam Dago, angkot yang saya tumpangi berhenti untuk menjemput peri-peri kecil Indonesia. Kadang suka lucu deh, ngeliat anak SD. Teringat masa kecil, kayaknya saya ga naek angkot kalo pergi atau pulang, pernah mungkin tapi inget banget cuma sekitar 4 kali. Itu pun pas saya masih punya uang jajan, atau kesorean dari rumah temen. Pulang pergi ke sekolah saya tinggal jalan. Sekarang, anak-anak zaman sekarang SMP aja udah pada bawa motor. Ckckck (iri mode On.. :-)). Terus zaman sekarang anak TK udah pada bawa HP. Dulu saya dikasih HP pas kelas 2 SMP (tuh HP awet banget deh ampe tingkat 1.. Akhirnya saat kematiannya tiba.. Tapi kangen sama HP N3650 itu.. Memori semua ada di sana). Tapi saya nggak mau riweuh ngomongin ini. Haha

Nah, segerombolan peri kecil menaiki angkot. Ada dua dari peri tersebut membawa sebuah lembaran (bukan lembaran ditolak kerja ama sang Raja Keong.. haha. Tapi lembaran kertas ujian). Bukan bermaksud nguping pembicaraan mereka (wong mereka ngomongnya udah berasa mobil sendiri, teriak-teriak :-p), tapi sengaja mendengarkan. (soalnya makin lama pembicaraan mereka makin lucu). Tahu nggak yang mereka ngomongin apa? Jadi ada satu peri yang dapet nilai 4,5 untuk sebuah ujian (kayaknya si matematika). Dengan wajah BT dia berkata, iya aku nggak nyontek sih (nggak jelas sih ngomong apa).

Peri kedua menjawab “Aku dapet nilai delapan buat agama. Soalnya aku dikasih tahu ama si XXX. Kata Bapak (nggak tahu bapak kandung atau bapak guru) kamu boleh liat kok biar nilainya bagus.” Tercengang dan tersenyum aku dibuatnya. Terus peri yang disebelahku berkata, “Aku dapet dua dong nilai olahraga” (dengan wajah ketawa-ketawa ekspresi bangga (gubrakk heran aku)). Terus si peri ketiga nanggepin si peri yang nilai 4, “Kenapa sih kamu nilainya 4,5?” (aku mikir, “emang aku yang mau?” hahahha) Tapi si peri itu hanya memalingkan muka. Dan seleselah ceritanya. Karena saya langsung terdistract oleh UTS PBPAL dan AstroLing.

Nah itu sepenggal kisah perjalanan penuh hikmah sehabis ujian yang memusingkan. Saya sedih banget deh ama anak-anak zaman sekarang. Nggak tahu dapet didikan apa di sekolah sampe-sampe “nyontek” jadi suatu kebiasaan bahkan perilaku yang biasa (bukan luar biasa). Ya Allah, mau jadi apa negeriku diisi oleh orang-orang yang tidak berlaku jujur. Bahkan sejak kecil pun. Bukan sombong neh (akhir-akhir ini sering banget bilang ece-ece untuk semua hal. padahal bukan berarti mampu tapi menghibur diri, bahwa itu gampang ko. Kamu pasti bisa.😀 ), dulu saya pernah dijuluki si “Ratu Pelit” (zaman SD, SMP). Gara-gara nggak pernah ngasih tahu pas ujian. Bahkan nih, saya nggak pernah mau ngasih contekan PR coba. Hahaha lucu banget dah. saya paling nggak suka ada yang lebih tinggi nilainya. Tentunya pas kelas 6 SD bener-bener ngerasain SO abis!. SMP juga, tapi menjelang remaja tetep weh pelit ngasih contekan. (Sekarang ngasih contekan deh buat PR (woang kebanyakan tugas kelompk Waktu itu prinsip kakak saya tersayang, sekalipun nilai kamu NOL, lebih berharga dibanding 100 tapi hasil nyontek! I love u sist? How do you do? I missed you so much. I hope, i can see your face and your childs at heaven (Insya Allah).😉

Nah, betapa pentinganya pendidikan (bukan hanya pengajaran eksak, tapi juga moral). Menurut pendapat saya, pendidikan moral bisa didapatkan dari pengasuhan sejak dini, bayi, bahkan dalam kandungan dengan  memberikan keteladanan. Like we knows, bahwa anak kecil peniru paling ulung dibanding orang dewasa. (Is that correct?). Anak kecil suka meniru lingkungan sekitar. Untuk masalah ini, mungkin aja karena si anak-anak SD tersebut melihat kondisi lingkungan sekitarnya yang suka nyontek. Akhirnya nyontek juga dia. Ingat bahwa Menyontek/Meniru itu penyakit menular. Kalau imunitas moral dan integritas kita jelek, sudah habis Anda digerogoti penyakit tersebut.

Masalahnya sekarang adalah bagaimana mendidik perilaku jujur terhadap anak-anak? Jawabannya adalah orang tua. Jadi buat para orang tua dan calon orang tua, didiklah anak-anak Anda dengan self confident tinggi, integritas tinggi, dan tentunya pemahaman akan nilai-nilai agama itu paling penting. Karena menurut saya ketika kita tahu “Siapa Tuhan kita”, tak ada alasan untuk menyontek karya orang lain. Soalnya setiap manusia sudah pasti diberikan kemampuan masing-masing sesuai yang diUSAHAkannya. Betul kan?

Hadoooh.. nulis apa coba? Curhat lagi.. Donlot data nggak berhasil mulu, karena frustasi akhirnya nulis. hehe (ceritanya lagi belajar asling).. PBPAL udah mulai puyeng…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s