TKI yang Malang


Lagi, Indonesia lagi-lagi dirundung kemalangan. Pasalnya banyak TKI yang menderita ketika dia sedang bekerja mencari nafkah. TKI atau biasa disebut Tenaga Kerja Indonesia atau Tolong Kembalikan Istriku hehe. Menurut berbagai media yang saya baca dan saya tonton, Indonesia merupakan eksportir terbesar tenaga kerja. Mending tenaga kerja yang kerja diperusahaan, nah ini di rumahan. Bukannya untung dapat gaji malah buntung dapet siksaan. Parahnya lagi,kebanyakan TKI di Indonesia itu perempuan. Hadooh, kemana sih para pria??

Banyak hal yang membuat saya tersentuh dengan banyaknya kejadian yang menimpa para TKI. Tidak hanya tersentuh, tapi kecewa, sedih, miris, heran, dan kesal. Ntah mengapa, tapi pemerintah kita hampir tidak melakukan apapun. Itu menurut salah seorang pengamat di Metro TV tadi pagi. Saya pikir emnag iya sih, jangankan masalah itu, masalah di negeri sendiri aja sekarang kagak beres-beres. Coba saya yang jadi presidennya. Hehe

Andaikan pemerintah benar-benar memfasilitasi dan mengakomodasi para TKI mungkin tidak akan banyak kejadian yang menimpa para TKI tersebut. Tapi yang jelas bukan hanya di beri HP doang, masalah beres. Tidak sesimple itu. Mungkin perlindungan hukum terhadap warga negara Indonesia di luar negeri yang kurang. Dan yang jelas Pemeritah gagal memberikan lapangan pekerjaan bagi warganya. Gagal tuh pak, gimana tuh? (berarti saya harus menciptakan lapangan pekerjaan, yha begitulah harusnya pemikiran mahasiswa, bukan hanya mencari pekerjaan dan bergantung pada orang lain, tapi lebih dari itu “menciptakan pekerjaan”).

Back to TKI. Mungkin kita juga salah, kebanyakan TKI yang pergi merantau untuk mencari pekerjaan adalah orang-orang uang tidak memiliki uang bahkan tidak berpendidikan sama sekali. Bahasa yang dikuasai pun tidak punya. Ya mau gimana nggak di siksa (mungkin.. :p). Tapi entah mengapa kebanyakan TKI yang kena siksa itu ada di Arab Saudi dan Malaysia. Saya pernah baca, ada TKI yang di Jerman dan dia bisa menghidupi anaknya sampai kuliah. Dan dia sangat makmur. Padahal kasusnya sama kayak yang pergi ke dua negera tersebut. Nah lho, kenapa yha?

Mungkin lain kali, pemerintah dan biro ketenagakerjaan harusnya mengekspor TKI yang berpendidikan untuk bekerja di perusahaan-perusahaan asing bukan jadi tenaga kerja rumahan (alias pembantu rumah tangga). Coba bahasa  tempat ia bekerja dipelajari terlebih dahulu. Bukan hanya pelajar atau mahasiswa doang yang belajar intensif bahasa tapi TKI pun harusnya belajar. JAdilah TKI yang intelek. hehe. Takutnya kalo TKI nggak ngerti apa yang diminta majikan, contohnya majikan minta gula eh dikasih garam.. Mau nggak kesel gimana coba? Intinya para TKi harus intelekk dan berwawasan luas. Yang jelas, Indonesia harusnya mengekspor para petinggi perusahaan bukan para pembantu rumahan.

Ayo pak ‘Amir, berikan kami wong cilik ini lapangan pekerjaan. Berikan hak kami. Atau apakah Anda setuju memberikan semua gaji Anda yang berpuluh-puluh juta untuk kesejahteraan kami rakyat kecil. Saya rasa Anda tidak akan berani memberikan seluruh kekayaan yang Anda miliki untuk rakyat Anda, Bukan? Yakin banget ini. Paling nanti siap-siap ditanya oleh semua rakyatmu di akhirat kelak wahai ‘Amir..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s