Dad and Me


Daddy : Jangan minta uang lagi, pokoknya itu harus cukup untuk satu minggu.

Me : Ga akan cukup, Daddy. Segitu nggak bisa makan siang. Ntar aku kelaparan. Mana bisa dengan uang segitu cukup untuk segala hal.

Daddy : Daddy nggak mau tahu !

Me : Hallooo Dad, you were rich so much i think. Why should you do like this to me, your daughter?? Why?? Why??

===============================================

Suatu hari, hiduplah sebuah keluarga dengan satu orang anak laki-laki. Kedua orang tuanya sibuk bekerja di luar rumah. Sehari-hari sang anak hanya ditemani oleh pembantu rumah tangga. Akan tetapi, sang Ibu tak pernah lupa untuk mengingatkan jadwal sang anak setiap harinya, mulai dari belajar, bermain, dan mengaji.

Suatu hari, anak tersebut yang duduk di kelas 2 SMP mulai mengalami pubertas a.k.a pacaran. Setiap hari dia selalu menelpon sang pacar melalui telepon rumah. Hingga saat harus membayar tagihan bulanan, sang ibu kaget karena tagihan telepon mencapai satu juta rupiah. Kemudian sang ibu mencetak lembaran keluar masuk panggilan rumah tersebut. Lalu ia meminta kepada anaknya untuk menandai nomr-nomor yang pernah ia hubungi melalui telpon rumah. Alhasil setelah dihitung-hitung, biaya telepon yang ia gunakan selama satu bulan mencapai 700 ribu rupiah hanya untuk menelpon si pacar tersebut.

Saat itu si ibu bisa saja memaafkan sang anak, toh ia keluarga yang cukup berada. Namun, ia tidak melakukan itu. Sang ibu meminta anaknya untuk mengganti pengeluaran tersebut. Ia bertanya, sanggup berapa ribu potongan yang harus diambil dari uang saku per harinya. Kemudian anak tersebut menjawab ia sanggup dipotong 5 ribu/harinya. Akhirnya ia berhasil melunasinya hingga kurang lebih 5-6 bulan.

** cerita ini saya dapat ketika sedang mengikuti kajiaan

================

Apa hikmah kedua cerita tersebut? Cerita pertama dan kedua sebenarnya mirip. Yang membedakan hanyalah subjek diatas. Yang pertama adalah pengalaman saya sendiri dan yang kedua cerita dari guru ngaji saya.😀

Saya dapat pengalaman pertama dulu baru mendengar cerita yang kedua. Mungkin pada awalnya saya sering kesal, kenapa sih begitu sangat merasa susah dalam segala hal yang berkaitan dengan uang. Padahal kalo dihitung-hitung kita bisa aja beli mobil atau rumah baru. Tapi setiap hari saya merasa sama kayak anak penjual sayur dan lain-lain (nggak bersyukur yah? Astaghfirullah.. T_T). Tapi setelah mendengar cerita tersebut, saya menjadi mengerti bahwa “he was teaching me about responsibilty, simplicity, humble, and a lot of things that i can’t imagine it” .

Oh daddy, i love you so much than you know while i think you always give a little thing to me all the time. Ternyata semua yang kau berikan walaupun saya merasa selalu tak cukup, memberikan nilai yang luar biasa, akhirnya saya bisa menghemat uang, membelanjakan dengan tepat, dan berpikir dulu tentunya. whua.. thanks dad..🙂

2 thoughts on “Dad and Me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s