Pacaran Islami, Kayak apa sih?


Cerita ini tidak untuk diperjualbelikan tapi untuk diambil hikmahnya, bagi anda yang sedang belajar islam dan mengajarkan islam, bahwa tidak ada pacaran secara islami sebelum menikah….

Yha, masuk ke poin intinya langsung yah..

Scene 1 :

Saya sedang mematut-matut diri di depan cermin menunggu datangnya mentari menyapa kala itu. Tiba-tiba telpon berdering (bergetar apa yha..).

“Ya Assalamu’alaykum, kenapa say, ini kan masih jam 4 pagi” Sahut teman saya waktu itu. Langsung saja saya berpikiran, oh dari cowonya. Saya pun memulai aktivitas membaca buku menunggu adzan shubuh.. Bukannya tilawah malah baca novel. Hehe. Ntah kenapa pagi itu saya ingin membaca Bumi Cinta.

“Oh, iya disini kan udah jam4. Di Bandung masih jam3 yha? Ya sudah Qiyamulail dulu gih. “ jawab teman saya pada lawan bicaranya. Saya yang mendengar agak terkaget-kaget. Kok nyuruh cowonya QL. Mantap x pikir saya kala itu. Yha, wajarlah teman saya itu memang baru mengaji jadi mungkin terinspirasi untuk mengajak pacarnya ke jalan yang benar. Saya pun melanjutkan membaca lembar demi lembar dengan tulisan yang menggugah jiwa itu.

“Sippo, nanti abis aa halaqah (alias liqa) sms aku yha..” jawab teman saya sambil memutus percakapan telpon itu. *Plak sebuah tamparan keras mendarat dalam pipi hati saya saat itu. Liqa? Liqa yang sering saya dengarkah? Benarkah?? Penuh tanya dan saya terbengong-bengong di depan meja rias dimana saya duduk saat itu.

Berkali-kali saya beristighfar, memohon ampun, dan berharap yang saya dengar itu salah. Kaget luar biasa saya saat itu. Benarkah demikian? Benarkah lawan bicara yang sering dibilang teman saya pacarnya itu ikut mengaji? Namun saat itu saya simpan semua tanya yang ada dalam hati. Berniat akan merecheck ke Mb yang memegang kelompok teman saya itu.

Scene 2

“Eh tanya dong, cowonya dia itu anak mana sih?” tanyaku pada seorang teman dekat.

Tak tahu gimana jalannya, tapi mengalirlah cerita teman dekat saya itu sedetail-detailnya, mengenai siapa lawan bicara teman saya ketika setiap hari saya mendengar secara langsung percakapan mereka. (tak bermkasud menguping tapi emang telponnya depan saya langsung.. Ngeles). Orang tersebut ternyata seorang ikhwan (ya masya iyya akhwat) dan beliau salah satu lulusan institut terbaik bangsa kala itu. Memang lebih tua dari kami sekitar berbeda 6-7 tahun. Dari cerita tersebut mengisyaratkan atau menunjukkan atau membuat saya banyak bertanya dan membuat saya galau ** alay abis.

Ketika kamu paham agama, sudah pernah ikut kajian dan mengaji setiap pekan kepada seorang guru ngaji, saya tanya, “emang ada pacaran secara islami?”. Saya jawab “Ada, setelah ijab qabul terlaksana, itulah pacaran yang nyar’i dan ngislami”.

Cerita pun berlanjut hingga saya mendapat poin penting dari kisah sepasang merpati yang terbang tak tahu arah (haha)..

Mereka merasa itu pacaran ala islam. Katanya awal-awal berpacaran, teman saya sering di suruh ngaji, kalo telpon di ngajiin dulu, disuruh al-matsurat lah, dikasi buku-buku keislaman lah. Wah, kita-kita aja yang sesama akhwat kalah sama tindak-tanduk si ikhwan tersebut terhadap seorang akhwat. Jadi evaluasi tersendiri bagi saya, untuk memperlakukan akhwat sebagaimana mestinya.

Kemudian muncul pertanyaan saya, ketika teman saya berkata , “Kamu harus tahu, tapi aku nggak tahu harus diceritain atau nggak, tapi ceritaa aja deh, aku juga bingung sebenarnya.. huhu”. Akhirnya teman saya cerita juga. Iya tahu dia itu bilang, “Pacar aku mah nggak mau pegangan tangan dulu, nggak mau foto-foto bareng, nggak mau disebut-sebut pacaran, aku senang dia islami banget blablabla………..”. Kontan saya tertohok kemudian tertawa hingga membuat orang-orang sekitar Gedung TI menoleh ke arah saya. Astaghfirullah. Ada yah orang kayak gitu.

Terus saya berpikir, kalo nggak mau pegangan tangan kok berani antar jemput, bukankah itu juga ada kemungkinan berdua-duaan. Emang jelas berdua-dua an. Bahkan bersentuhan juga lagi. Telpon-telponan nanya kabar dengan mesra bukankah itu pun termasuk zina? * Bingung deh.

Saya tegaskan lagi, ada kah pacaran secara islami?

Jawab : Ada, setelah menikah tentunya.

Sanggahan : Ada, pacaran islami itu dengan tidak bersentuhan, tidak berfoto bersama, tidak berjalan bersama, memberikan support agar sama-sama memperbaiki, dan seribu alasan lain. Ya udah, kalo mau foto, jalan bareng, bawa hijab aja x yha?????

Scene 3

Teringat ke masa silam. Dulu saya pun pernah meilhat kejadian yang sama. Ketika seorang ikhwan perhatian sekali dengan seorang akhwat, mengajaknya untuk mengaji, membelikan buku-buku islami, menyuruhnya berjilbab, nyaris mengalahkan perhatian dari saudari-saudarinya. Nggak jauh-jauh dari kisah diatas. Keduanya sama persis dan mirip sekali. Bahkan latar belakang keduanya pun sama. Hmmm

Ini pelajaran penting terutama untuk para akhwat juga, yo ayo mulai perhatian ke teman-teman akhwat kalian apalagi yang baru-baru meniti jalan hidayah. Jangan sampai kalah sama ikhwan, yang melakukan semuanya atas nama Islam, atas nama dakwah, menyeru kepada kebaikan. Jujur nih, siapa sih yang tidak senang dengan sebuah perhatian?? Nggak ada yang nggak senang kan? Bahkan saya juga terkadang senang kalo diperhatikan. Namanya juga perempuan, sejutek apapun dia, kalah deh kalo sama perhatian.

Dan yang pasti saya masih bingung dengan jalan pikiran si ikhwan tersebut. Satu pertanyaan untuk Anda, udah ngaji berapa lama? Ada yah pacaran islami? Semoga Anda bisa menjawab pertanyaan saya dengan syar’i..

7 thoughts on “Pacaran Islami, Kayak apa sih?

  1. pacaran kan istilah kita saja,, ada temen saya yang katanya ga pacaran, tapi sering jalan berduaan, sering curhat-curhatan, klo pulang dianterin, trus klo malem suka nelpon, suka heng ot bareng.. tapi tetep mereka ga meresmikan status sebagai pacaran, dan kata mereka “kami cuma temen deket kok, ga pacaran, kan muslim saudara, jadi gapapa dong kalau saling membantu satu sama lain” nah loh..

    jaman Rasul dlu ga ada istilah pacaran, yang ada adalah zina. dan ini ga boleh. dan istilah ini lebih universal dan objektif, tidak subjektif. ada zina tangan, mata, bahkan zina hati..

    bgmn caranya ? ya kita mencontohkan saja yang benar seperti apa, dan mengajak teman2 kita dengan cara yang baik, serta mendoakannya.. seeeiipp,,

    • Wah, Subhanallah.. padahal ini tulisan saya dalam kondisi *greget*gemes* dan malu pada diri sendiri, masak kalah perhatian sama ikhwan..

      Semoga bisa menjadi cambukan untuk memperbaiki akhlak kita kepada saudara-saudara kita..^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s