Derai Sunyi


Minggu 24 Januari 2011, 01.00 WIB. Aku bersama seorang temanku berbincang dini hari untuk mengonsep sebuah renungan kecil. Sayup-sayup suara langkah kaki terdengar dari luar. Bukan sekedar menakuti, karena dengan merencakan hal ini sudah cukup membuat aku merinding, dan berurai air mata tatkala aku selesai membuat hal ini.. Hem, entahlah rasanya aku sendiri pasti akan mengalami hal ini. Karena aku berjiwa dan karena aku hanya seorang makhluk yang pasti akan menemui waktu tepat untuk kembali menjadi tanah.

Diawali dengan beberapa ayat berkenaan dengan sebuah awal kehidupan abadi.

QS. Al Anbiyaa (21) : 35
Tiap-tiap yang berJiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.

QS. Al Ankabuut (29): 57
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.

Qs. Al-An’am (6) : 93

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu !”

Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Alloh (perkataan) yang tidak benar dan kerena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya”

Diiringi alunan musik instrumentalia do’a yang mengalun perlahan mengikuti ritme sang Starring membacakan sari tilawah dengan sepenuh jiwa….

Lalu dilanjutkan alunan Silk Road menghadirkan nuansa baru yang membuat hati menangis tatkala sadari diri penuh dosa dan noda…

” Hari itu aku kembali ke tempat yang sudah tak asing lagi bagiku.. Namun, Aneh, tidak biasanya banyak orang keluar masuk tempat ini. Oh, ibu, ayah, kakak, adik, kenapa kalian menangis dan nampak sedih? Kenapa semua orang menangis?? Ada apa ini? Oh ada yang meninggal di sini, tapi siapa? Siapa yang meninggal? Ibu ada, ayah, kakak, dan adik juga ada disini. Lalu siapa yang meninggal? Siapa dia?? Aku pun mendekat dan semakin mendekat ke tempat dimana orang mengerubungi tubuh itu. Ternyata.. Ternyata… Tubuh itu adalah aku sendiri..”

Diam, hening, pelan, tapi hatiku terenyuh, entahlah walaupun aku tahu ini hanya sebuah renungan tapi seakan-akan aku menjadi pemeran utama dalam renungan ini….

Lalu lagu Bunda pun mengalun mengiringi bait puisi di bawah ini. Entah mengapa, tapi rasanya Bunda memang tak ada duanya, bahkan melebihi seorang Ayah..

Ayah, Ibu …

Aku selalu ingat pada kalian

Aku selalu Cinta dan menyayangi kalian

Ayah, Ibu …

Maafkan Aku yang tak kunjung pulang

Maafkan Aku yang selalu berharap ini semua akan cepat berakhir

Ayah, Ibu …

Aku akan tetap menemani apapun yang terjadi

Aku takkan menyerah apapun sakitnya kenyataan ini

Ayah, Ibu …

Demi Hidup kalian merelakan harga diri

Demi Hidupku kalian mengorbankan Perasaan hingga segalanya

Ayah, Ibu …

Terima kasih …

Aku takkan rela jika Aku tiada Bahagiakan kalian!!!

Kemudian lagu instrumentalia kembali mengiringi sebuah kata-kata..

“Hari itu.. Aku sangat dimanjakan.. Mandipun, harus dimandikan. Seluruh badanku terbuka. Tak ada sehelai benangpun menutupiku.. Tak ada sedikit pun rasa malu.. Seluruh badanku digosok dan dibersihkan. Dan semua lubang ditubuhku di sumbat dengan kapas putiih. Itulah sosokku saat itu.. Itulah jasadku yang kini tak bernyawa.

Setelah dimandikan aku pun dipakaikan gaun cantik berwarna putih, kain itu jarang orang memakainya. Karena bermerk sangat terkenal bernama kain kafan. Wewangian ditaburkan ke bajuku. Bagian kepala, badan, dan kakiku diikatkan.. Tataplah.. Tataplah.. Itulah seonggok tubuhky yang kini tak bernyawa.

Kendaraan yang akan mengantarku langsung disiapkan. Dan aku pun bersanding terbaring sendirian. Aku diarak keliling kampung bertandukan tetangga. Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul. Aku diiringi langkah gontai seluruh keluarga…

Akhirnya tibalah waktunya.. Menunggu,, ditinggal sendirian. Tuk mempertanggungjawabkan seluruh langkah kehidupanku..

Dan ketika satu persatu langkap itu pergi meninggalkanku.. ketika tujuh langkah terakhir meninggalkanku. Aku pun akan ditanyai oleh Sang Malaikat.. Aku tak tahu apakah akan memperoleh nikmat kubur ataukah aku akan memperoleh siksa kubur?

Aku tak tahu dan tak seorangpun tahu.. Tapi anehnya aku tak pernah merasa galau ketakutan.. Padahal aku tak tahu, nikmat atau siksa yang akan aku terima . Aku sungkan seklai meneteskan air mata.. Seolah barang berharga yang sangat mahal. dan Dia Kekasih itu.. Menetapkanku ke Surga..

Tapi.. Tapi.. Sudah pantaskah sikapku selama ini?

Untuk disebut sebagai ahli surga……………..”

Maka wahai pejuang-pejuang Allah, Apakah yang selama ini sudah kita berikan untuk dakwah dan dien ini? Apakah kita hanya disibukkan dengan masalah yang berkutat pada diri sendiri saja? Apakah dakwah dan tarbiyah hanya sebagai sampingan saja, kalau sempat saja? Apakah kita hanya memberikan waktu sisa, energi sisa dan harta sisa untuk dakwah? Datang syuro atau ngaji dengan waktu sisa dan energi sisa hingga badan sudah lelah, pikiran sudah jenuh dan mata pun sudah mengantuk? Itu masih mending mungkin daripada yang tidak hadir karena sudah capek dan mengantuk? ?

Sudah pantaskah kita disebut ahli surga? Bangun kawan, serukan nama Allah dengan lisan dan perbuatanmu..

Piano on The Forest pun mengalun indah mengiringi bait terakhir kata di atas..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s