Single Fighter


Menjadi seseorang yang berjuang sendiri, awalnya aku sangat suka dengan kehidupanku seperti ini. Semua bisa ku lakukan tanpa bantuan orang lain. Atau nada miring yang keluar dari bibirku, “Acara ini gue kerjain sendiri juga bisa kok”. Dan segudang kata-kata sombong lain yang terucap begitu mudahnya. Maklum koleris Mode On. Tapi kini, betapa aku membutuhkan pertolongan Dia. Ehm.. Ternyata sendiri menjadi seorang pejuang mandiri memang sulit. Ah, baru segini saja sudah menyerah. Bagaimana nanti? Bagaimana di akhirat nanti? Toh aku akan sendiri mempertanggungjawabkan semua amal-amalku.

Betapa sulit ternyata. Ketika harus tertatih sendiri membangun sebuah negeri impian. Ternyata aku membutuhkan seseorang yang bisa aku ajak diskusi. Untung saja ada seseorang yang senantiasa mau mendengar semua cerita. Satu hal yang aku suka darinya, Dia tak pernah berkata “Ayo semangat!”. Karena memang dia tahu, bahwa aku tak suka diberikan sebuah kata semangat. Ntah mengapa. Walaupun aku pun sering mengatakan hal yang sama kepada sahabat-sahabatku. Tapi sesungguhnya, aku lebih suka mereka tak mengucapkan itu, karena merasa bahwa aku sangat lemah dan tak berdaya. Koleris banget deh aku akhir-akhir ini. (diringi lagu Kittaro, asa jadi makin terasa feelnya..lhoo)

Oh, ternyata begini ya? Selama ini, itukah yang kau rasakan? Merasakan kondisi ini untuk kedua kalinya memang tidak mudah. Sekalipun aku telah berpengalaman dengan kondisi ini sebelumnya. Yang membedakan hanya posisi ku antara di sini dan di sana. Tapi efeknya terasa sekali, bahwa aku membutuhkan partner. Aku sangat salut dan bangga kepada kedua pemimpinku yang tangguh. Tetap tegar, sekalipun ia pun sama lemahnya dengan aku. Namanya juga perempuan. Tapi, aku benar-benar merasa rapuh. Hanya kepercayaan kepadaNya, impian dan cita lah yang masih membuatku terjaga dan tidak mundur dari jalan ini. Padahal kadang itu menggiurkan.

Tapi. Tak boleh ada kaTA SESAL dalam kamusku. Walaupun kemaren aku sempat menyesal mengambil semua mata kuliah Tk.4 di semester kemarin hingga sekarang kosong melompong. Benar-benar lost power, terutama dan satu-satunya berkaitan dengan akademik, terasa hampa dari segudang aktivitas akademik yang dulu kurasakan. Yang ada hanyalah segudang puzzle-puzzle impian yang harus ditata ulang dan negeri impian yang memanggil untuk dibangun dengan jiwa dan ragaku saat ini.

Walaupun sekali lagi, aku memang sendiri, ibaratkan saat ini adalah puncaknya musim dingin. Tapi percayalah, bahwa musim semi akan tiba, tunas-tunas baru akan menggantikanku dan melanjutkan harapanku itu. Ketika pun harus ditemani buliran hangat di pipi untuk mengejar cita dan asa yang telah lama aku inginkan, aku relakan semua itu hanya untukMu, duhai Kekasih Hati para pecinta ummatMu..

Kesendirian tak boleh membuatmu kerdil dan putus asa. Jadikanlah bahwa kesendirian itu adalah kekuatan barumu untuk melompat lebih tinggi, mengejar keridhaan Illahi. Jadikan Ia satu-satunya sebagai penolongmu…

Semangat, TA menunggu.. Road to 16th July 2011.. Roaad to Japan, April 2012.. Sipiriliii… Doakan🙂.. Otsukaresama deshita..

 

* Jangan katakan “semangat” tapi katakanlah, “Allah bersamamu dan selalu mencintaimu”..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s