Banyak Cara Menuju Roma


Banyak jalan menuju Roma begitulah suatu statement yang sering saya dengar. Tapi bukan Roma Italia kawan, ibaratkan impian lah.. Tulisan ini terinspirasi setelah membaca buku Bagaimana menyentuh hati, karya Abbas Asyiesie. Dalam buku ini mengungkapkan bagaimana seorang da’i bisa memikat objek dakwah.  Penulis banyak membawa pandangan dari Imam Hasan Al Banna yang tertulis dengan cukup mudah untuk di pahami. Setelah membaca buku tersebut saya mendapat suatu kesimpulan yang bisa saya rasakan, yaitu bahwa dakwah tidak harus dilakukan secara formal dalam suatu oraganisasi dakwah terkemuka. Karena setiap ucapan, tindakan, dan tulisan yang dilandaskan atas keimanan dan perjuangan untuk menegakkan dien Nya itu adalah dakwah. Dakwah adalah mengajak manusia dengan hikmah dan nasihat yang baik dan mengajak mereka keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam, yaitu Allah swt.

Dalam buku itu tertuang bahwa dakwah bisa dilakukan melalui hal-hal kecil yang kadang di anggap sepele dan diremehkan oleh kita atau bahkan kita tak menyadari bahwa kita sedang berdakwah. Contoh kecil yaitu dengan memberikan senyuman kepada orang lain ketika bertemu. Di hadis pun dijelaskan bahwa Senyum itu sedekah bagi saudara kita. Dengan senyum kita bisa memberikan energy positif bagi orang-orang yang memandangnya. Tentunya hal tersebut bisa menjadi satu ciri khas dari seorang da’I yang bisa membuat sang mad’u terpikat dengan senyumnya yang hangat dan penuh keimananan tentunya. Senyum mungkin terlihat sepele tapi itu berdampak positif untuk menarik mad’u kita.. Ayo Senyum..🙂

Selain itu, dijelaskan pula hal-hal lain yang sepele seperti menghafal nama. Kadang kita sering lupa, dengan nama orang yang pernah berkenalan dengan kita. Lantaran kita berkenalan tidak menggunakan hati. Hanya sebagai formalitas ketika bertemu. Padahal apabila kita bertemu kembali, akan membuat orang tersebut terkesan dengan kita. Dari buku ini saya mendapatkan penegasan bahwa, tindakan, perbuatan, ucapan, tulisan seorang da’I adalah dakwah. Tanpa kita sadari, orang disekeliling kita sering memperhatikan gerak gerik kita.

Banyak hal lainnya yang terdapat dalam buku ini ketika berdakwah fardhiyah, semua sebenarnya sangat simple dan setiap orang mampu melakukan itu tanpa keahlian yang khusus. Tapi tentunya harus didukung dengan keimanan  dan keikhlasan kepada Allah swt, dan senatiasa berdoa memohon perlindunganNya. Dalam buku ini saya mendapatkan pemikiran bahwa menjadi seorang da’I itu harus kreatif dan inovatif, pandai mengetahui apa yang di inginkan objek dakwah, seorang da’I harus memiliki jiwa yang lembut yang penuh dengan keimanan. Sesungguhnya dakwah tidak sulit dan tidak berat ketika kita lewati dengan penuh keikhlasan.

Saya punya pengalaman menarik terkait berdakwah, padahal tidak sengaja untuk berdakwah. Awalnya memang hanya obrolan biasa dengan sahabat-sahabat yang saya baru temui ketika tingkat dua di TL. Biasanya yang kita lakukan adalah nongkrong di TU TL selepas kuliah atau menunggu kuliah selanjutnya. Ada yang ngenet, nonton, makan, ngerjain tugas, belajar, ngeributin pegawai TU, banyak lah pokoknya. Dari sana mereka mulai sering bertanya, kok kamu pake jilbab selebar dan setebal itu? Emang ga panas? Atau mereka bertanya hal-hal yang berkaitan dengan tugas. Dan yang paling kerasa adalah mereka tak pernah mau duduk bareng saya kalo lagi UTS/UAS, haha susah nyontek katanya. Dari sana tiba-tiba, mereka bertanya boleh ikutan kamu mentoring nggak????

Saya kaget awalnya, terus akhirnya saya bilang hayukk. Dan saya carikan mentor untuk mereka. Alhamdulillah, sampai sekarang mereka masih Liqa. Ketika suatu hari saya iseng tanya, kenapa mereka ingin mentoring? Mereka menjawab, “aku ingin kayak kamu sih.. Disegani para lelaki dan tak ada yang berani menyentuhmu, bahkan jilbabmu sekalipun..”.. Subhanallah,, padahal awal-awal kuliah masih ada kok yang megang pundak saya kalo nyapa. Cuma ya saya kasih tahu, akhirnya mereka nggak melakukan itu lagi. hehe

Cerita kedua, biasalah banyak yang curhat masalah cowok. Berasa expert saya, padahal ga pernha pacaran sekalipun. Kalo suka tentu saja pernah, namanya juga manusia. Akhirnya dia sering cerita segala rupa tektek bengek nya.. Bahasa apa coba? Haha tentang hubungan dengan si cowoknya itu. Terus pernah sekali, dia bertanya kepada saya, “Kok anak-anak kayak kalian bisa tahan nggak pacaran?”. Saya bingung waktu itu jawabnya. “Karena yang saya rasakan, saya memegang prinsip, ‘There’s someone waiting for me, just wait and pray’. Hal itu yang cukup membuat gue tetep ga mau pacaran. Hehe lagian GR amat ada yang suka ama gue yak”. Jawab saya pada akhirnya sambil ketawa-ketiwi nggak jelas. Sampai pada akhirnya dia putus dan sekarang beliau berjilbab. Aih, subhanalah. Kembali lagi, kemaren saya bertanya kepadanya, kenapa dia putus dan memutuskan untuk berjilbab. Terus tebak jawaban dia apa? Tapi sayang yang ini belum bisa diajak mentoring. Semoga Allah memberikan hidayah kepada beliau, amin..

Cerita lain adalah dengan mendekati mereka secara personal dan emosional. Saya punya seorang teman, kenal dari masa tingkat satu tapi kenal dekat setelah sattu prodi. Nah anak yang satu ini orangnya supel dan simpel. Tapi kadang masih lucu-lucu gitu. Suatu kali dia pernah menganggap saya sebagao role model, nampaknya pernah saya ungkap di blog ini. Jadi saking gemesnya ama perilaku dia itu, saya suka negur dia, keras sih, tapi malah membuat dia ketawa ketawa kalo saya marahin dasar anak aneh emang. hehe. Singkat cerita dia jadi suka niru gerak-gerik saya. Serem juga sih, berasa saya harus selalu perfect.

Dari tiga kisah tersebut, sebenarnya saya tak pernah berniat untuk berdakwah terhadap mereka. Tapi tanpa disadari semua yang ada pada diri kita yang katanya aktivis dakwah kampus senantiasa menjadi objek vital sosok yang Islami menurut mereka. Nah setelah membaca buku ini untuk yang kedua kalinya, saya menjadi mengerti bahwa dakwah secara personal lebih besar dampaknya dibanding secara formal atau jamaah. Tapi keduanya merupakan dakwah.

Banyak jalan menuju kebaikan untuk mengajak mereka kepada Islam, dibuku tersebut dituliskan bahwa demi berdakwah kepada orang lain, dia menginjak kaki calon mad’u nya yang akhirnya dia minta maaf dna berkenal dan berhubungan lanjut hingga mad’u mentoring. Ada juga yang berkenalan secara tidak sengaja atau disengaja-sengaja dengan cara yang bahkan konyol, atau biasanya saya sih lewat ngajarin masak. Tapi saya tipikal orang yang harus mendalami dulu karakter seseorang baru bisa mengajak dia ke tahap mentoring. Tapi saya rasa setiap orang pasti punya cara tersendiri dalam berdakwah. Yang pasti berdakwahlah dengan ikhlas atas nama Allah bukan yang lainnya..

🙂 ayo berdakwah.. Yang semangatnya kembali terbakar.!!! Allahu Akbar !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s