Start from there..


“Ah, aku malas mau pulang saja”

“Maaf teh, saya mau pulang cepat hari ini”. “Maaf, teh blablabla…”

Seribu sekian alasan yang saya berikan kepada teteh mentor saya ketika zaman SMA kelas 1. Waktu itu mentoring adalah kegiatan paling membosankan bagi saya. Maklum dulu saya adalah orang anti sosial. Jarang bergaul atau bersosialisasi. Paling banter kumpulannya sama anak KIR (Karya Ilmiah Remaja) atau anak Angsa (Angklung Smansa). Apalagi ini sama orang-orang yang jilbabnya yang menurut saya agak horor (lebar dan besar). Jika ada angin menerpa, jilbabnya melambai-lambai. 

Tak ada dalam kamus saya untuk menjadi orang yang berkecimpung dalam dunia permentoringan. Tak ada sama sekali. Bahkan mentoring wajib pun sering kali saya membolos. Toh tak terlalu berpengaruh, karena  saya bisa dapat ranking satu tanpa mentoring. Pikir saya waktu itu. Sekuler emang. Pokoknya malas banget jika saya harus ikut-ikut agenda keagamaan. Karena saat itu saya belum berjilbab. Dan merasa tak pantas untuk ikut-ikut acara begituan. Iddih.

Tapi entah bagaimana caranya, menjelang kelas dua saya diajak untuk menjadi panitia di Ikaris (Ikatan Remaja Islam). Waktu itu ada acara tabligh Akbar jika tidak salah ingat. Saat itu, saya diajak untuk menjadi panitia dekorasi. Maklum saya emang suka dengan yang namanya seni dekorasi (desain interior). Jadi akhirnya saya mengiyakan saja. Lama-lama asik juga gaul sama anak-anak sholeh, apalagi akhwat-akhwatnya pinter2lah. Ikhwannya nggak usah ditanya, mereka kan eksklusif, ngobrol sama akhwat kalo perlu doang, kalo nggak, serasa ga kenal kalo ketemu. Luar biasa sangat menjaga.

Waktu bergulir, tak terasa saat itu entah ada tsunami di belahan hati mana, saya masuk jadi pengurus Ikaris. Saat itu belum berjilbab (pake jilbab kalo hari jumat doang) dan saya hanya mengurusi bagian mading Ikaris (nama kerennya ‘Badan Pers dan Jurnalistik atau BPJ) sedangkan urusan buletin diurusi oleh ikhwan bernama ichan dan rizki. Waktupun berjalan. Dan entah mengapa saya sangat nyaman di lingkungan ini. Apalagi teteh-tetehnya senantiasa mengayomi. Haha.. Temen-temen akhwat yang gokil nan sholeha.

Entah mengapa juga saya jadi ikutan mentoring lagi. Waktu itu saya langsung dimasukkan ke liqaan. Ajaib, orang-orang pada menlan saya langsung masuk sono.. Dan alhamdulillah, dari teteh saya yang pertama ini banyaaaak banget dapet pelajaran berharga, dan saat dengan beliaulah saya bisa menemukan diri saya yang berbeda. Akhirnya saya berjilbab. Dengan alasan yang agak konyol juga sih awalnya. Tapi kekonyolan itu membuahkah hikmah hingga saya bisa menjadi seperti yang kalian kenal saat ini.

Saya tak pernah tahu, jika tak ada tangan-tangan Allah yang meraih saya ke atas jurang yang curam dan gelap. Hingga saya bisa menikmati indahnya cahaya mentari. Dan saya tak pernah tahu apa skenario Allah untuk saya, hingga saya mengalami semua hal ini. Dan saya dapati betapa Allah sangat menyayangi hamba-hambaNya.. Dan saya sangat bersyukur dengan hal ini. Mungkin saya akan sangat menyesal jika saat itu, jawaban yang saya berikan adalah ‘tidak’. Mungkin Anda tidak akan pernah mengenali saya yang sedang menulis kisah ini. Betapa kisah ini amat indah dalam balutan karunia Ar-Rahman.

=====

Kita tidak pernah tahu kapan dan dimana hidayah itu muncul. Karena kitalah yang harusnya berjuang untuk mendapatkannya. Dan satu pelajaran penting dari pengalaman saya kenapa bisa menjadi seperti ini. Itu berawal dari pertemuan pekanan bersama dengan BBQcrew di kosan seorang teteh. Agendanya memang tidak banyak. Dan yang saya dapati adalah lamanya kita bercengkrama, dari jam1 siang ampe jam5an itu baru beres. Acaranya macam-macam, tapi selalu makan-makan. Hehe

Dan inilah yang saya rasakan, ‘kekeluragaan’. Mungkin saat dulu mentoring kelas satu, dijejali untuk mendengarkan materi saja, hambar dan datar. Ga ada rasanya. Tapi di pertemuan mentoring (aka liqa), saya menemukan banyak hal yang tak terlihat dari mentoring awal saya pas zaman kelas satu. Disana saya bertemu dengan teman-teman yang senantiasa memberikan support untuk berjilbab. Dan alhamdulillah, Allah mengizinkan saya mengenakan gaun kebesaran saya. Hehe

Dan disini saya sebenarnya ingin menunjukkan, bahwa Mentoring bukan segalanya, tapi dari Mentoring itulah segalanya bisa saya rasakan dan dapatkan. Yang membedakan mentoring dengan ta’lim-ta’lim itu adalah sisi psikologis dan kedekatan saudara. Sisi psikologis yang disalurkan dari semua peserta mentoring bisa menjadi bahan bakar perbaikan yang memicu seseorang untuk berubah. Tidak hanya itu, kedekatan antar saudara seiman yang memberikan dukungan satu sama lain untuk berubah menjadi lebih baik lagi juga turut membuat saya bersemangat.

Bukan berarti mentoring hanya ada makan,makan,makan,bercerita,ngobrol, tapi ada kajian materi juga. Hanya saja penyampaiannya dengan menggunakan bahasa kaumnya. Setiap orang kan berbeda-beda dalam proses mencari ilmu. Nah, dengan mentoring itu saya belajar bagaimana suatu materi tersampaikan dengan sesuai apa yang mereka pahami. Dan digenapkan dengan kajian-kajian ta’lim dari ustadz secara langsung. Istilahnya, kamu mau ngomong sama orang Prancis tapi pake bahasa Jepang, ya mana nyambung. Begitu pula di mentoring, yang merupakan salah satu alat dalam berdakwah.

Entah mengapa terpikirkan, berdakwah sesuai dengan bahasa kaumnya dan sesuai zaman kaumnya.. Begitulah yang adal dalam pemikiran saya tentang sebuah mentoring.. Jangan lupa juga, jadi mentor harus kreatif, inovatif, dan berilmu..Mentoring itu tak hanya dapat ilmu tapi juga saudara..

** penuh gejolak pemikiran tentang hal ini tapi tidak tersusun dengan rapi, karena sudah malam saatnya Levi bobo.. Tapi semoga bermanfaat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s