Aku dan pak supir Angkot


“Iyah, ma, buru-buru, ntar ajalah makannya… Udah telat nih.” jawabku pada mamaku. Waktu menunjukkan pukul 8.45 WIB. Padahal acara di mulai pukul 08.00 WIB. Astaghfirullah. ATM. Aktivis Telat Melulu. Hari itu aku berlari sekencang-kencang. Kecepatan di atas rata-rata. Speedometer pada sepatu menunjukkan kecepatan 10km/jam (Ngarang!). Sampai di jalan raya. Saya menunggu angkot kelapa dago. Berharap akan segera datang…

Akhirnya, datanglah sebuah angkot kelapa Dago. Aku pun naik dan duduk di bagian belakang. Saat itu, aku tak ingat apapun. Yang teringat hanya telat-telat-dan telat. Sang angkot menyusuri jalanan Dago, kemudian belok menuju daerah DU alias Dipati Ukur. Memasuki depan area Unpad gerbang selatan, aku merogoh-rogoh dompet pada tasku. Dan, NAAS, si dompeng tak terlihat batang hidungnya saat itu. Tak ada di mana-mana di pelosok tas ku waktu itu. Kemudian berpikir sejenak dengan jantung berdegup kencang. Deg-deg-deg an.

Deg deg deg. Angkot semakin cepat meluncur ke arah Boromeus. Harus apa yang aku lakukan. Harap-harap cemas, kali saja saat itu ada orang yang aku kenal. Karena entah mengapa saat itu, tak ada seribu pun uang di saku tas. Betapa pilu dan bingungnya hati ini. Udah deg-deg-degan malu bercampur takut. Duh gimana-gimana-gimana.

Akhirnya di depan pintu selatan RS Boromeus aku beranikan diri menyetop angkot yang aku naiki. “Kiri, pak!” Sahutku. dengan perasaan bingung bercampur malu. Aku turun. Dengan wajah  bingung, aku berkata pada supir angkot. ” Pak, dompet saya tertinggal, dan tak ada uang seperak pun di tas, gimana yha pak, saya cuma bawa pisang, dan handphone nih, pak, ada buku-buku juga paling, Hadooh, maaf pak, gimana yha?” wajah keknya udah jadi tomat matang deh.

Dan tahukah Anda, sang sopir hanya, tersenyum dan tertawa, “ya udah neng, nggak apa-apa.”. Bahkan penumpang lain pun tersenyum melihat kebodohanku waktu itu. Aiiih, rasanya sangat memalukan.. Udah telat, ga bawa dompet. Betapa naas nasibku saat itu.

Nah, oleh karena itu, sekarang aku sering banget nyimpen uang di saku-saku tas. Soalnya kalo lupa setidaknya masih ada cadangan. Kan kasihan si mang angkotnya. Tentu, kasihan juga aku nya.. Memalukan. Hahaha..

Pengalaman paling naas yang pernah aku alami..😦 maluu.. What ashame!

4 thoughts on “Aku dan pak supir Angkot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s