1 atau 2 ?


Optimalkan usaha yang masih bisa dilakukan. Sesal takkan berguna setelah kejadian. Mari berusaha, pertajam aksi langit dan bumi…

Jadilah bagian dari kemenangan atau jangan jadi bagian dari kekalahan.

Sekilas kalimat diatas jika dilihat dari maknanya sebenarnya tak ada pilihan bagi kita kader dakwah untuk mundur dari perjuangan meraih kemenangan ini. Pada dasarnya jika diresapi maka tak ada pilihan kecuali kita harus bahu membahu untuk menang.Tak ada pilihan untuk kalah. Tidak ada pilihan lain untuk kita. Jika kita memilih untuk diam, maka hal itu berarti kita sedang menunggu kekalahan datang menghampiri secara perlahan. Karena kemenangan ini adalah kemenangan jama’i bukan kemenangan perorangan, bukan hanya kemenangan sekelompok orang saja, tapi ini adalah kemenangan yang berasal dari kekuatan amal jama’i.

Kemenangan seperti yang kita pahami merupakan anugerah Allah swt. yang sangat berharga. Yang menjadi harapan orang yang sedang berjuang. Bagi mereka yang berada di medan juang kemenangan amat dinanti-nanti segera tiba. Mereka ingin kemenangan itu jadi dekat. Akan tetapi, kemenangan tidak akan datang secara tiba-tiba. Melainkan ada beberapa persoalan yang patut untuk dilakukan agar bisa menghadirkannya.

Kemenangan bagian dari ketentuan Allah swt. atas urusan hamba-Nya (Qudratullah). Dia yang Maha Tahu akan nasib yang dialami ciptaan-Nya. Dia pula yang berhak untuk memberikan kemenangan ataupun menundanya. Kemenangan dari Allah swt. pasti datangnya, baik di dunia ataupun akhirat. Sehingga tidak ada kamus kekalahan di hati para pejuang.

Namun kemenangan itu datang dengan jalan-jalan yang akan memuluskan kehadirannya. Melalui upaya maksimalitas manusia (ikhtiar basyariyah). Adapun mereka yang telah melakukan upaya yang maksimal untuk mencapai prasyarat kemenangan, maka kemenangan menjadi haknya. Oleh karena itu usaha yang maksimal dalam meraih kemenangan juga menjadi bagian yang harus diperhitungkan oleh mereka yang menunggu-nunggu kemenangan. Ikhtiar basyariyah yang optimallah yang perlu dibangun dalam perjuangan ini agar kememangan itu menjadi hak yang mutlak.

Mari mengingat kembali, sejauh apa kesiapan kita menyongsong kemenangan ini, sejauh apa usaha yang telah dilakukan dan masih bisa kita optimalkan di masa yang akan datang? Penyesalan takkan pernah datang di awal. Maka mari kita optimalkan usaha yang masih bisa kita lakukan untuk memenangkan perjuangan ini.

Seperti yang pernah saudari saya katakan, bahwa semua yang terjadi pada kita telah tertulis dengan jelas di Lauhul Mahfuz, kita gagal atau sukses, kita menang atau kalah. Semua sudah ada disana. Hanya, bagaimana cara kita berusaha untuk meraih kesuksesan atau kemenangan itulah kuncinya. Seberapa besar kedekatan kita kepada Sang Pemilik Jiwa ini, seberapa besar usaha yang kita lakukan untuk meraih kemenangan itu? Allah swt akan melihat proses dan prosedur kita dalam berusaha untuk meraih kemenangan itu, sesuai syariat Islam atau tidak. Ketika kita sudah mengoptimalkan menurut kesanggupan kita dan berusaha langit dan bumi, maka menang atau kalah merupakan sebuah bentuk tarbiyah yang Allah swt ajarkan pada kita.

Saat menang atau kalah, Allah swt akan menguji kita kembali. Saat menang, kita dituntut untuk amanah dalam menjalankan tugas dari kemenangan itu. Saat kita kalah, kita dituntut untuk berkaca kembali, mengapa kita kalah? Karena kehidupan ini penuh dengan tarbiyah penuh dengan hikmah. Hanya bagaimana kita mampu menemukan hikmah dalam setiap detik nafas kehidupan kita.

Tak ada kata mundur setelah berada dalam medan juang. Yang ada hanyalah maju ke depan untuk meraih kemenangan. Untuk meraih kemenangan kita dituntut untuk memiliki sikap pantang mundur dan optimis. Sebagaimana firman Allah stw. “………Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir”. (Yusuf : 87)

Dengan optimisme itu segala yang berat menjadi ringan, yang susah menjadi mudah dan yang rumit menjadi sederhana. Ketika optimisme sudah merasuk ke jiwa maka dorongan besarlah yang muncul, dorongan untuk melakukan sebuah cita-cita agar meraih kejayaan. Ketika seorang sahabat bertanya pada Rasulullah saw.:
“Bagaimana nasib saya bila maju ke medan peperangan yang sedang berkecamuk itu’, beliau menjawab: ‘kamu akan mendapatkan syurga’ maka sahabat itu segera maju ke depan bahkan membuang kurma yang sedang dikunyahnya seraya bergumam: ‘ini akan memperlambat saya mendapatkan syurga.” Subhanallah begitulah sebagian dari kisah generasi teladan.

Saat optimisme membumbung tinggi dalam sanubari seorang mukmin, ia akan bergerak, bersikap, berjalan dan berkorban meskipun ia belum tentu dapat merasakan nikmatnya kemenangan. Karena sesungguhnya, dengan jiwa optimis itu mereka sudah mendapatkan kemenangan yang sesungguhnya. Paling tidak ia terdorong untuk memberikan sumbangsih mulianya demi keyakinan yang ia imani. Ia berharap agar Allah swt mencintai sikapnya dan ridho dengan perjuangannya.

Selain itu kita sebagai kader dakwah pun diajarkan oleh seorang Khalifah besar Umar Bin Khatthab ra. tentang kemenangan,  tatkala memberangkatkan pasukan perang yang di pimpin Sa’ad bin Abi Waqash yang hendak melawan Persia, yang penduduknya menyembah api. Saat itu, 30.000 mujahidin siap berangkat ke Al-qadisiyah, berbatasan dengan negeri Kisra. Sebelum mereka berangkat berperang, Khalifah Umar r.a. memberikan wasiat sebagai berikut: “Bismillah wa ‘ala barakatillah. Wahai Sa’ad bin Abi Waqash, janganlah engkau tertipu dan sombong lantaran engkau adalah paman Rasulullah SAW dan salah seorang sahabatnya. Ketahuilah, semua orang di mata Allah, baik bangsawan maupun bukan, adalah sama. Di sisi Allah, hamba yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa kepada-Nya”

“Ya sa’ad. aku wasiatkan kepadamu dan kepada pasukanmu, agar senantiasa bertakwa kepada Allah. kalau kita melanggar perintah-Nya, berarti kita sama dengan musuh-musuh kita dalam bermaksiat. Padahal musuh kita jauh lebih besar, baik jumlah pasukan maupun perlengkapan perangnya. Dengan demikian, bila kita telah melakukan maksiat, maka dengan mudah mereka akan menghancurkan kita!”

“ya Sa’ad, aku tidak takut pasukan kita akan dikalahkan oleh musuh, tetapi yang aku takutkan adalah bila pasukan kita melakukan dosa. Selamat jalan, ya Sa’ad, semoga Allah selalu memberkati dan melindungimu!”

Demikianlah pesan khalifah Umar r.a kepada pasukan Islam yang nantinya mencapai kemenangan dalam peperangan di Qadisiyah. Khalifah Umar justru lebih mengkhawatirkan perbuatan maksiat yang dilakukan oleh pasukan Islam daripada realitas musuh itu sendiri.

Maksiat memang berpotensi menyebabkan kegagalan dan kehancuran gerakan dakwah. Citra diri da’i dan dakwah akan rusak, umat kehilangan kepercayaan, dan pada akhirnya kebaikan bisa terabaikan. Dan maksiat juga bisa menyebabkan dakwah ini tidak berkah..

Oleh karena itu mari kita jemput kemenangan melalui jiwa yang bersih, soliditas struktur gerakan dakwah yang bagus, serta program yang terprogram rapi dan berkesinambungan. Jiwa yang bersih merupakan modalitas utama bagi para pelaku dakwah. Tanpa ini, tak akan mungkin tercapai kemenangan hakiki dalam dakwah.. Mari kita tunjukkan pada dunia, bahwa Islam akan membawa kegelapan menuju cahaya..🙂

Putih tak selamanya indah, adakalanya kita harus memilih berwarna atau gelap..😀

Mari kita menjadi kader yang pemberani, bangga dengan keIslaman kita. Mari tunjukkan identitas kita, bahwa kami adalah kader dakwah. Tak perlu malu dan ragu. Justru itulah yang menjadi kunci, sejauh mana kita bangga dengan ideologi keislaman kita. (Ini nggak nyambung sih, tapi terkesan dengan kata seorang teman saya yang nonis, bahwa dia salut dengan perjuangan kita atas nama Islam, Subhanallah ada juga orang yang begini..).

Sumber : berbagai macam artikel dengan gubahan penulis (Buku Catatan penulis, Dakwatunna.com, http://ikadibalikpapan.org/ , http://kemaszainalabidin.wordpress.com/2010/03/18/kunci-kemenangan-dakwah/)

*cuap-cuap penulis : Maaf yha, lagi bikin artikel ceritanya, tapi kemana-mana, sedang tak terstruktur (biasanya juga nggak kalee), tapi semoga ini menjadi pelajaran bagi saya pribadi. Silahkan bagi yang ingin memberi sanggahan atau menambah khazanah ilmu, sangat ditunggu..😀

2 thoughts on “1 atau 2 ?

  1. Alhamdulillah..coba semua adk berfikiran seperti ini ya…(eh jadi banyak komen lagi di blog ini, udah ah kabuur, tar dimarahin lagi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s