Kartini : “Saya Ini Hamba Allah”


Kemarin adik-adik di SMA almamater saya dulu banyak berbincang tentang peringatan hari Kartini yang datang seminggu lagi. Mereka mulai merancang baju yang akan dikenakan, bagaimana tetap memenuhi batasan syar’i tanpa sanggul dan kebaya ciri khas orang Jawa. Juga tentang acara-acara yang akan digelar. Rancangan acara yang cukup menarik kita bincangkan saat itu adalah lomba putri pantes dan pasangan serasi. Berbagai pendapatpun terkemukakan. Setuju, nggak, setuju, nggak. Dan berlalulah diskusi itu dan di sekolah ternyata di gelar perbincangan yang sama. Dan saya tidak tahu, di ujung dunia yang lain mungkin tergelar perbincangan yang sama.

Kartini. Zaman memang masih setia mengenangnya, dan seharusnya memang seperti itu. Gerak dan semangatnya tidaklah sia-sia kita contoh. Dengan usahanya jualah perempuan Indonesia bisa menemukan jati dirinya. Bahwa perempuan juga mempunyai tugas, peran, dan kewajiban yang tak kalah penting dari laki-laki, bahkan keduany memiliki potensi yang sama besar. Keduanya juga memiliki peluang yang sama untuk berpartisipasi dalam aktivitas.

Sebagaimana Yusuf Qardhawi pernah menulis dalam bukunya.. “.. Di kalangan wnaita juga terdapat ketokohan dan kepeloporan seperti halnya lelaki. Kepeloporan dan kejeniusan bukan hanya milik laki-laki saja. Tidak sia-sia, Al-Qur’an menceritakan kepada kita kisah seorang wnaita yang mampu memimpin lelaki dengan berani dan bijaksana. Dia membawa kaumnya pada kesuksesan gemilang. Itulah Ratu Saba’ yang diceritakan dalam surat An-Naml perihal kisahnya dengan Nabi Sulaiman.”

Namun, ada kepiluan yang akan terus mengalir pada saat saya sadar dengan kesalahan dan penyimpangan cita-cita Kartini ini, dan sudah pasti beliau pun akan menangis melihat anak cucunya saat ini. Orang yang mengingatnya dengan sanggul, kain, dan kebaya pada setiap 21 April. Cita-cita kebebasan, kemerdekaan, kemandirian, dan kesamaan yang menjadi gejolak batinnya tidak dipahami dengan baik. Hakikat perjuangannya pun diselewengkan dengan mengatasnamakan kesetaraan atau emansipasi. Lebih parah lagi mereka menerjemahkan emansipasi Kartini dengan emansipasi yang secara historis lahir dari Barat, juga berbeda dengan tuntutan emansipasi perempuan Indonesia kini.

Orang-orang menafsirkan cita-citanya dengan kebebasan mutlak seorang perempuan yang menyesatkan. Perempuan menjadi bebas dari nilai keperempuanannya. Mereka membebaskan diri dari fungsi seorang ibu yang berkewajiban mendidik anak-anaknya dan akan bersama laki-laki mencapai kemajuan. Bagaimana jika seorang perempuan yang memiliki ambisi yang menyesatkan itu? Apalagi jika mereka bergerak dengan ambisi untuk menjatuhkan laki-laki atua sekedar menunjukkan “Saya bisa!”. Sayang sekali. Kartini berjuang buakn untuk mendapatkan semua itu. Kartini ingin berbagi tugas dengan laki-laki, yang berarti Kartini ingin menjadi sahabat kaum lelaki dalam mebenahi hidup. Sebagaimana beliau menulis dalam salah satu suratnya, “Dan apabila perjuangan orang laki-laki itu sudah snegit, maka akan bangkitlah kaum wanita. Kasihan kaum laki-laki, alangkah banyak pekerjaan yang akan kamu lakukan.”( Surat kepada Stella, 12 Januari 1900)

Apalagi dengan dalih membentuk peradaban modern yang mereka ambil dari peradaban Barat yang mereka kira serba sempurna. Kartini menolak itu semua. Ia tidak pernah menganggap peradaban Eropa sebagai simbol kemajuan dan kebaikan. Lalu masih pantaskah jika orang-orang sekarang memperingatinya dengan lomba putri pantes arau lomba pasangan serasi? Berlenggak lenggok di atas catwalk, tepuk tangan penonton, dan yang pasti tidak sesuai syar’i. Apa sih yang bisa ditafsirkan dari cita-cita Kartini yang sangat mulia itu? Saya kira tepuk tangan karena kecantikan dan keluwesan tak cukup berarti untuk mewujudkan cita-citanya.

Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah  Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang baik dan indah dalan masyarakat Ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.” (Surat kepada Nyonya Abendanon, 27 Oktober 1902)

Kenapa saat ini kita tidak berpikir bagaimana mencetak kebaikan dan kemajuan yang terbingkai dengan baik, yang kemanfaatanya terasa dalam kehidupan manusia. Bukankah ini menjadi kewajiban seorang manusia hamba Allah?

“Ingin benar saya menggunakan gerlar tertinggi, yaitu hamba Allah” (Surat kepada Nyonya Abendanon, 1 Agustus 1903)

Sayang tak semuanya padahm dengan cita-cita itu…..

Kota gede usai ‘sekolah’ dan terbaca ‘Tragedi Kartini’

Kusmarwanti, 14 April 2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s