Mengingat Peran, Fungsi, dan Posisi


Mahasiswa Indonesia yang cerdas berkarakter adalah mahasiswa yang mengetahui dan mengimplementasikan makna dari peran, fungsi, dan posisi mahasiswa itu sendiri. Akan tetapi zaman sekarang mahasiswa sudah mulai lupa akan peran dan fungsi mereka. Seringkali banyak ditemui mahasiswa yang hanya belajar, bersikap individualistis, dan tidak peka terhadap lingkungan sekitar. sehingga mereka hanya terlihat sebagai orang yang ingin mengejar nilai akademik saja.

Secara teoritis, sejak pertama kalinya saya menjadi seorang mahasiswa selalu ditanamkan makna dari peran, fungsi, dan posisi mahasiswa.  Fungsi mahasiswa sebagai insane akademis mengharuskan kita sebagai mahasiswa untuk mampu memiliki sense of crisis  dan memiliki kemampuan untuk selalu mengembangkan diri sendiri. Sebagai mahasiswa seharusnya memiliki kepekaan terhadap masalah-masalah yang terjadi di lingkungannya. Dalam hal pengembangan diri pun, sesungguhnya perguruan tinggi sudah cukup memfasilitasi para mahasiswa untuk melakukan pengembangan diri, seperti lembaga ko-kurikuler atau event-event pelatihan softskill. Hanya saja, kembali pada sebuah kenyataan bahwa hanya sebagian mahasiswa saja yang mengikutinya. Sisanya bermental kuliah saja dan cepat lulus.

Peranan seorang mahasiswa yaitu sebagai agent of change, guardian of value, dan iron stock. Agent of change, dalam hal ini mahasiswa adalah seorang agen perubah. Seperti yang kita ketahui bahwa perubahan adalah suatu keniscayaan yang selalu terjadi dari masa ke masa dan ia akan terjadi dengan atau tanpa tangan mahasiswa itu sendiri sebagai agen perubahnya. Lalu kondisi apa yang harus kita ubah? Banyak hal tentunya yang harus kita ubah dari kondisi bangsa kita sekarang yang jauh dari ideal. Perubahan tentang kondisi rakyat, baik itu pendidikan, ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan lain-lain. Untuk merubahnya kita sebagai mahasiswa bisa berperan dalam dua hal yaitu secara teknologi dan ideology. Perubahan yang bisa dilakukan dalam teknologi adalah menciptakan teknologi yang mampu merubah kehidupan masyarakat yang ramah lingkungan dan sesuai dengan social budaya masyarakat. Perubahan ideology bisa ditanamkan dengan adanya interaksi social kepada masyarakat dan pemerintah pad berbagai tingkat. Penyampaian ideology bisa dilakukan melalui berbagai media atau bahkan diskusi langsung dengan elemen masyarakat Indonesia. Dengan demikian, sikap apatis individualistis mahasiswa yang kerap terjadi akhir-akhir ini dapat dihilangkan.

Peran kedua adalah guardian of value. Mahasiswa berperan sebagai penjaga nilai-nilai yang berada di masyarakat. Sebagai insane akademis, mahasiswa harus menjaga nilai-nilai yang bersumber dari kebenaran yang bersifat ilmiah dan juga kebenaran yang sifatnya mutlak yang bersumber dari Allah swt Sang Pencipta. Dengan demikian, kehidupan social masyakarat akan terjaga pada jalan yang benar. Peran ketiga yaitu iron stock, mahasiswa berperan sebagai seseorang yang memiliki jiwa sekuat besi yang mampu menjadi generasi penerus di kemudian hari. Dalam hal ini mahasiswa adalah asset bangsa dalam perubahan di masa yang akan datang. Sayangnya ketiga peran tersebut sudah mulai luntur dari mahasiswa itu sendiri. Mungkin hanya ada beberapa persen saja yang masih mampu menerapkan peran mereka, sisanya seperti yang kita ketahui, mahasiswa zaman sekarang sangat individualistis, tak peduli akan peran mereka.

Selain itu, jika ditilik dari posisi kita sebagai mahasiwa, maka seharusnya mahasiswa bisa memosisikan diri sebagai jembatan atau middle stage. Menjembatani antara masyarakat dan pemerintah. Dalam hal ini banyak yang bisa kita lakukan seperti control social dan politik. Kedua hal ini bisa dilakukan karena mahasiswa adalah kaum idealis yang belum terkontaminasi oleh kepentingan manapun. Sehingga mahasiswa mampu berdiri sendiri sebagai insane akademis yang memiliki posisi sebagai jembatan penghubung. Mahasiswa tentunya memiliki intelektualitas lebih tinggi di banding masyarakat sehingga mampu menerjemahkan berbagai macam kebijakan pemerintah kepada masyarakat awam. Sebaliknya mahasiswa juga bisa menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah.

Hal-hal diatas lah yang mampu menjadikan seorang mahasiswa Indonesia yang cerdas dan berkarakter. Mahasiswa yang dengan kecerdasan intelektualitas sebagai insane akademis mampu mengembangkan diri dan peduli terhadap lingkungan sekitar, bersikap aktif dan partisipatif. Mahasiswa berkarakter yang memerankan diri dengan baik dan memosisikan diri dengan benar, sehingga ia memiliki jati diri dan memegang teguh prinsip yang dimiliki. Dengan demikian, seorang mahasiswa akan tahu untuk apa tujuan ia kuliah, bukan sekedar mencari ilmu, tapi mencoba untuk merubah bangsa dengan berbagai pengetahuan yang terus meningkat. Lebih mudahnya, mahasiswa yang cerdas adalah mahasiswa yang selalu mengedepankan rasionalitas dan intelektualitas.

“Berikan aku sepuluh pemuda maka aku akan mengubah dunia”, begitu yakinnya Bung Karno pada potensi mahasiswa. Banyak hal yang harus diperbaiki dan bagi pemuda itu bukan hal yang sulit karena potensi waktu, kesempatan, dan usaha masih terbuka lebar. Mahasiswa selayaknya harus memiliki integritas, prinsip, dan moral yang tinggi sebagai cirri khas insane akademis Indonesia.

#sumber artikel : internet dan catatan plus cuap-cuap saya.

====

Tulisan ini saya buat pas interview hiburan di Mapres TL. Agak konyol, mana harus dalam bahasa Inggris pula jelasinnya… Hihi.. Nice experience lah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s