ECG


Mencoba menjadi dokter kehidupan, yang berusaha melacak ‘kembali’ detak jantung kehidupan dari seorang pasien yang tidaklah istimewa. Hanya seseorang yang diberi kesempatan untuk mengunjungi sebuah kastil kehidupan penuh dengan tantangan. Ibaratkan ECG dalam ilmu kedokteran, pun dokter tersebut mencoba merekam ulang detak jantung kehidupan seorang pasien selama satu tahun dia berada di kastil itu. Rekaman tersebut digunakan untuk menentukan kondisi jantung sang pasien. Sungguh mengejutkan ! Ketidakteraturan denyutnya. Kompleksitas keteraturan gelombangnya. Seberapa banyak garis isoelektrik tercipta. Bagaimana posisinya. Bagaimana gangguan dan kerusakannya. Sungguh sangat mengejutkan dan sungguh Luar Biasa!
Seperti yang sekarang Anda ketahui, bahwa jantung kehidupan adalah organ tiga dimensi yaitu ruhiyah, jasadiyah, dan fikriyah. Tentunya sang dokter pun sangat mengerti hal ini, dan ia mendapatkan kesimpulan dari hasil grafik yang ditimbulkan melalui electrocardiograf. Kondisi sang pasien sangat tidak normal, aneh, dan membingungkan. Setiap bulan systole dan diastole saling berkejaran, tapi tak jarang systole senantiasa stabil, diastole bahkan hanya terjadi sesekali dan suatu waktu terjadi begitu lama. Hal ini sungguh sangat membingungkan dan membuat sang dokter berdecak kagum. Apa gerangankah yang terjadi dengan pasien tersebut??
Untuk menjawab rasa penasarannya, sang dokter pun bertanya pada sang pasien.
“Missen, apa yang membuat irama jantungmu seperti ini?” tanya sang dokter.
Pasien itu hanya memberikan seulas senyum dan kemudian kembali menatap langit tinggi nan biru..
Hening..
“On the other side of the river. A courage that doesn’t cross. One chrysanthemum, fall prelude..”jawab pasien tersebut. Sang dokter semakin bingung dan pusing saja. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah pasien ini sedih atau bahagia. Memang pasien yang aneh!
Satu tahun itu terlalu singkat untuk bermanja dan bermandikan cahaya lilin. Terlalu singkat untuk sekedar mengecap rasa pelangi. Terlalu singkat untuk berjalan bersama dalam asa. Terlalu singkat pertemuanku dengan air mata, kebahagiaan. Tapi cukup bagiku mengecap rasa pahit dalam  lidahku.
Hidup di kastil itu membuatku merasakan kebahagiaan, kesedihan, kecewa, diabaikan, sabar, tertawa, tersenyum, marah, lelah, sakit, ceria, kesal dan beragam adjective lainnya yang tertoreh dalam hati. Hal itu lah yang mungkin kan ku rindu hingga akhir hayatku.
Adakalanya gelombang kebahagian yang memuncak ibaratkan gelombang R, tapi tak jarang stagnan pada gelombang P atau T, pun terkadang rasa kecewa, sakit hati, kesal, dan marah mewarnai hidupku yang kau lihat pada gelombang Q dan S pada ECG yang kau teliti..
Begitulah kehidupan, penuh warna dan liku…
== In memorian.. Bandung, 8 Maret 2011, Chrysanthee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s