Hitung Dulu Ah


Kisah ini terinpirasi ketika saya dan teman-teman saya sedang mengerjakan tugas bersama. Tentu saja itu adlah tugas kelompok yang cukup menyita waktu dan pikiran serta uang pastinya. Saat itu, kami sedang membahas pembagian kerja, karena tak mungkin bisa selesai dengan cepat apabila semua bab pengerjaannya dilakukan bersama-sama. Alhasil kami membagi per bab setiap orang dengan memilih. Tentu saja, secara naluriah setiap orang pasti akan memilih sesuatu dengna tingkat kesulitan yang mudah bukan. Hanya orang-orang yang memiliki jiwa pemberani yang mau memilih sesuatu dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Tentu saja, kami pun demikian. Hampir semua teman-teman saya sekelompok memilih bab yang mudah, dan tinggallah satu dua bab yang cukup sulit yang kemudian salah satunya saya pilih. Saat itu karena saya tidak berada di tempat akhirnya, sudahlah tak apa. Mungkin dengan begitu bisa menambah ilmu saya. Agar saya tambah paham…

Kemudian percakapan beralih pada masalah pembagian pencetakan laporan. Teman saya meributkan biaya pengeprinan yang cukup fantastis untuk sebuah laporan kelompok, bahkan mereka menganggap bahwa biaya itu lebih besar daripada biaya pembuatan laporan KP pribadi. Akhirnya mulailah kita berdebat, masalah hitung2an uang, tenaga, pikiran, dan uang yang di sumbangkan. Semua berpikir mereka sudah memberikan yang terbaik. Dan… Ya tebak, akhirnya terjadi perhitungan-perhitungan, yang satu merasa paling banyak berpikir, paling capek, dan lain-lain. Akhirnya diputuskan, ya sudah terima saja dengan ikhlas, pasti banyak pahala di balik itu semua..

Begitulah, terkadang tanpa kita sadar kita sering menghitung berapa banyak kebaikan yang telah kita berikan kepada teman kita, berapa banyak pengorbanan yang telah kita berikan. Padahal, siapa yang memberikan kita pengorbanan itu? Sejatinya kita hanya sebagai perantara, karena semua kebaikan yang kita lakukan itu bersumber dari sang Maha Pemberi Nikmat, Allah.

Perhitungan, saling menghitung kebaikan yang pernah diberikan, sehingga terkadang membuat ingin dikembalikan, dan ingin pamrih, kadang tanpa sadari mungkin pernah kita lakukan. Dan, perhitungan dalam sebuah hubungan hanya akan menyisakan pertengkaran berkepanjangan, jika semua pihak ingin mendapatkan apa yang pernah mereka lakukan sebagai pengembalian. Semua merasa, sudah memberikan yang terbaik, sehingga diakhir kadang ingin mendapat yang terbaik pula. Yah, begitu lah manusia. Hanya saja, saling hitung hanya akan menimbulkan perselisihan, dan rasa tak nyaman antara semua pihak.

Dalam hubungan, tidak butuh kalkulator, hanya ada rasa saling menghargai dan memberi (take and give). Tak perlu merasa berjasa ketika melakukan sesuatu kebaikan kepada teman kita. Biarlah semua, kebaikan kita itu Allah saja yang membalasnya, tak perlu sanjung puji atau ungkapan terimakasih dari manusia. Persabahatan hanya membutuhkan sikap saling menyayangi dan memahami, serta menghargai perbedaan antara kita. Karena perbedaan itu, memberikan kita kekayaan hidup yang sesungguhnya, agar kita mampu belajar dan mengambil hikmah. Juga mampu memosisikan diri dalam setiap suasana.. Cheer up.. No more calculation in this relationship.

😀

In memorian, my last assignment project..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s