Lara Wanita


wanita dijajah pria sejak dulu

dijadikan perhiasan sangkar madu

namun, ada kala pria tak berdaya

tekuk lutut di sudut kerling wanita

……………………..

Lagu yang dulu pernah saya nyanyikan ketika zaman SMP.😀

Benarkah bait lagu itu? Saya hanya mengingatnya sekilas dari orang yang hobi bnaget menyanyikan lagu lawas ini. Ia nyanyikan bukan karena sakit hati, atau meremehkan laki-laki. Ia hanya suka menyanyikan. Meski tersenyum mendengar lagu ini, sesungguhnya hati saya ikut menangis. Ia mengingatkan bahwa dulu saya pernah punya murid yang selalu bilang, “Bapakku itu baru pergi. Besok kalau pulang bawa oleh-oleh yang banyak.” Dan saya percaya saja bahwa bapaknya sedang merantau.

Akhirnya saya bertemu ibunya. Dan bla-bla-bla, saya mudah akrab dengan beliau. Namun, terus terang saya tidak bisa suka sikap over protektif dan over sayangnya pada murid saya itu. Saya kira si anak tidak akan pernah mandiri jika ia mendapat perlakuan seperti itu terus. Seperti saya lihat, ia sangat kuper (kurang pergaulan) : cara berinteraksinya, cara mematuhi peraturan, juga cara menghormati orang tuanya. “Karena saya ingin mengganti kasih sayang bapaknya yang sudah tiada. Kasihan dia, Mbak!” Itu alasannya.

Awalnya saya kira bapak anak itu tiada karena meninggal. Apalagi air matanya sudah mulai tumpah di hadapan saya. Nyatanya, sang bapak pergi menikah dengan wanita lain saat murid saya itu belum juga berumur enam bulan. Dan air mata si ibu, juga serak suaranya mengisahkan sakit hatinya atas pengkhianatan suami yang sangat ia cintai, anak kecilnya, cercaan keluarga dan tetangga. Sebenarnya tak cukup kuat saya mendengar. Bagaimanapun saya juga perempuan, bisa memahami perasaannya, tapi, di sisi lain saya belum pernah menikah. Terus terang ada sedikit kekhawatiran itu pun akan menimpa saya kelak. Na’udzubillahi min dzalik.

Setelah itu, bertemu pulalah saya dengan seorang gadis muda (saya yakin jauh lebih muda dari saya) yang tengah hamil, dan menajdi pembantu di rumah teman saya. Kisahnya tak jauh berbeda dengan perempuan itu. Ia gadis desa yang dinikahi seorang lelaki, lalu dicerai karena si lelaki bertemu dengan seorang perempuan yang lebih memikatnya. Astaghfirullahal’azhim. Manusia atau ayam?!

Dan saya teringat pula dnegna seorang tetangga kost dulu. Ia masih bersuami, tetapi dia dimadu. Sang suami terpaksa menikahi perempuan yang telah ia hamili. Bukan karena dakwah, juga bukan karena alasan yang cukup syar’i. Tapi hanya untuk menyelesaikan kesalahan yang telah dibuatnya.

Itu bukan kenyataan terakhir yang saya jumpai. Ba’da Isya tadi, seorang tamu yang juga baru saya kenal sempat menumpahkan air mata di hadapan saya. Karena lelaki tunangannya berpamitan untuk menikah dengan perempuan lain sekitar limah tahun yang lalu. Rasa cintanya yang teramat dalam sempat membuatnya goncang hingga putus semangat hidup karena pengkhianatan itu.

Inikah bentuk penjajahan lelaki terhadap wanita, yang menurut lagu itu sudah dimulai sejak dulu. Penjajahan hati itu ada kalanya lebih menyakitkan daripada penjajahan fisik. Maka, tidak mengherankan jika banyak wanita tidak mau memulai hubungan kembali dengan lelaki karena pengkhianatan itu. Ia bisa menjadi sakit hati, dendam, benci, dan dihantui trauma yang terus membekas. Patah hati. Pengkhianatan atas cinta itulah penjajahan yang menyakitkan. Pengkhianatan seorang sahabat saja sudah begitu melarakan, apalagi pengkhianatan suami yang direngkuh selamanya.

Seorang mbah yang pernah disakiti suaminya berungkap, “Cinta yang dimiliki laki-laki itu seperti gunung, besar tapi bisa sewaktu-waktu hancur dengan letusan. Sedang cinta seorang wanita itu seperti kuku. Ia tumbuh perlahan, terus tumbuh, dan panjang di akhirnya.” Meskipun begitu saya yakin bahwa tak semuanya seperti itu. Saya masih mencoba meyakinkan diri bahwa laki-laki juga punya kesetiaan. Rasulullah seorang lelaki. Abu Bakar pun demikian. Mereka memiliki xinta yang teramat besar pada pendampingnya.

Dan saya terkenang dengna cinta yang ditumbuhkan dengan tahapan hingga ia bisa menjadi sebuah cinta yang besar. Seperti saya pelajari dari ibu saya. Cintanya pada bapak yang dulu tak pernah dikenalnya berjalan seperti air, mengalir terus. Hingga saya melihatnya dalam kepatuhan dan ketaatannya pada bapak, juga dalam pengorbanan dan rasa sayang yang sulit diterjemahkan. Semuanya itu hadir dalam setiap kondisi. Mencerna cinta mereka tidak bisa hanya dilakukan dengna kepala, tetapi kita akan bisa memaknainya jika kita cernakan dengan hati. Semakin tulus dan suci hati manusia maka ia semakin tajam mencerna cinta pada sesama. (Terima kasih Allah, atas hadiah cinta buat mereka).

Maka, bagaimana mungkin pengkhianatan pada wanita-wanita itu bisa terjadi, sedang saya beranggapan bahwa ketertarikan laki-laki pada wanita selain istrinya sudah menajdi bentuk pengkhianatan. Mungkinkah manusia tidak memiliki cinta yang tulus seperti itu? Wallahu’alam bishowwab.

Karang malang pagi hari dalam mendung

15 Oktober 2000

Kusmarwanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s