Pemuda


Pemuda, baik laki-laki maupun perempuan, sebagai tulang punggung sekaligus tolok ukur kualitas suatu bangsa, dari hari ke hari semakin semu dan buram bentuk serta arah tujuannya. Mereka para pria maupun wanita yang dengan bangganya melaksanakan budaya orang kafir, dan tanpa bersalah meninggalkan syariat agamanya sendiri. Realitas kehidupan anak muda ini tidak bisa kita pungkiri, namun masihkah ada sedikit rasa prihatin dan cita untuk merubah itu semua?

Saudaraku, pemuda juga sumber kekuatan agama. Coba engkau saksikan sabda Rasulullah saw ketika beliau sedang menernagkan tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah ‘azza wa jalla pada hari kiamat nanti. Dari tujuh golongan tersebut, Rasulullah menyebutkan tiga diantaranya adalah pemuda. Yaitu “….. pemuda yang terlatih sejak kecil dan menyembah Allah ‘azza wa jalla. pemuda yang hatinya terikat di masjid, seornag laik-laki (atau wanita) yang dirayu untuk berbuat zina oleh wanita cantik (atau pria tampan) bangsawan, lantas ia menolak dengan berkata halus, aku takut kepada Allah” (HR Bukhari)

Saudaraku, adakah kita termasuk salah satu diantaranya? Sadarilah, sebaik-baik umur dalam berkarya dna berjuang adalah masa muda. Seutama-utama mencari ilmu agama, membaguskan iman dan akhlaq, dan berjihad adalah ketika sejak masih muda. Seutama-utama bertaubat dan kemudian istiqamah dalam taubatnya, adalah sejak masih muda. Tak ada kata menunggu usia senja. Bertaubat tak mesti menunggu terbarinng lemah di rumah sakit. Lakukanlah sejak kita masih kuat dan kuasa. Karena disitulah letak keutamaannya. Rasulullah saw bersabda “muslim yang tangguh(kuat) lebih utama daripada muslim yang lemah, walau pada keduanya ada kebaikan” (HR Bukhari)

Saudaraku, tak ada alasan untuk berpaling dengan dalih “masa pencarian”. Sesungguhnya islam menetapkan agama ini untuk dilaksanakan sepenuhnya oleh setiap ummatnya yang telah baligh. Lihatlah, para pendahulu kita telah jauh berkarya, berilmu, berjuang, dan bersungguh-sungguh pada usia seperti ini. Namun kita? Kemanjaan-kemanjaan pada dunia dan anggapan bahwa agama sebagai makanan orang tua, telah menghijab kebenaran mudah diterima oleh kita.

Saudaraku, dialah yang memegang kendali petunjuk dan hati setiap manusia. Tak ada yang dapat mengalihkan petunjukNya bila Ia telah menurunkan pada siapapun yang dikehendakiNya. Masa muda bukanlah jaminan umur kita masih lama. Berapa banyak tunas kelapa yang belum sempat berkarya telah jatuh ke bumi?

Saudaraku, kita masih bisa. Bangkitlah! Gaungkan semangatmu dalam jalan-jalan kebenaran. Hentikan ocehan-ocehan besarmu yang sekilas agar terlihat bersemangat yang engkau teriakan di jalan-jalan namun jelas tak lagi bermanfaat bagi ummat. Memintalah kepada Allah semoga Dia membukakan dan menuntun hati ini untuk mudah menerima kebenaran.

Negeri ini belum padam. Pemuda-pemuda berimanlah yang sanggup untuk mengangkatnya kembali. Hindari atau kurangi segala bentuk kesia-siaan yang selama ini kita lakukan. Umur ini tak akan lama. Lantas apa yang telah dan akan kita lakukan? Carilah ilmu dan amalkan sebaik yang kita bisa. Karena Allah akan memudahkan yang bersungguh-sungguh…

Wahai pemuda pemudi Indonesia, bangkitlah putra putri tebaik bangsa.!

ditulis oleh Zulfikar Matin Effendi (Alumni Ikaris 06)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s