Ulang Tahun (Milad) di persimpangan


Bissmillah,
Ba’da tahmid dan shalawat,

Kajian Salimul Aqidah di pagi hari penuh berkah…

Perhatian-perhatian: Ditujukan bukan untuk justifikasi personal atau apapun lah ya, brother dan sister… hanya menyampaikan dari hati ke hati, karena untuk merubah hal seperti ini saya pahami butuh proses yang panjang antara idealisme keyakinan dan realita pergaulan, baik dalam pertemanan dan keluarga, bahkan terkadang dibumbui pragmatisme cara hidup. Dan selama proses itu, kita santai saja, slow but sure, ndak perlu ada prasangka yang tak perlu. (saya pribadi juga masih sulit menentukan sikap dalam beberapa situasi dan kondisi, namun setidaknya secara keyakinan dalam lubuk hati yang paling dalam kita menolak hal-hal yang tidak bersumber pada syariat, terlebih lagi yang berasal dari cara hidup kaum lain, ikhtiar aja ini, oke coy)

So, ini hanya untuk menambah khazanah keilmuan kita saja, semoga kita dimasukkan kedalam golongan orang-orang yang memurnikan tauhid, membersihkan aqidah, terhindar dari syirik, terjaga dari nifaq… aamiin Yaa Rabb.

Judul: Ulang Tahun (Milad), Antara Persimpangan Budaya dan Pengkondisian Gaya Hidup Ummat…

Tidak pernah ada (dalam syar’iat tentang) perayaan dalam Islam kecuali hari Jum’at yang merupakan Ied (hari Raya) setiap pekan, dan hari pertama bulan Syawaal yang disebut hari Ied al-Fitr dan hari kesepuluh Dzulhijjah atau disebut Ied Al-Adhaa – atau sering disebut hari ‘ Ied Arafah – untuk orang yang berhaji di ‘Arafah dan hari Tasyriq (tanggal ke 11, 12, 13 bulan Dzul-Hijjah) yang merupakan hari ‘Ied yang menyertai hari Iedhul ‘Adhaa.

Perihal hari lahir orang-orang atau anak-anak atau hari ultah perkawinan dan semacamnya, semua ini tidak disyariatkan dalam (Islam) dan merupakan bid’ah yang sesat. (Syaikh Muhammad Salih Al ‘ Utsaimin rahimahullohuta’ala)

Anak saya sontak teriak ketika mendapat undangan kecil bergambar kartun dari temannya mainnya. Sebagai orang tua, saya bisa memaklumi kegembiraannya karena setahunya, dia mendapat sebuah undangan untuk makan dan bernyanyi-nyanyi ke rumah temannya. Anak saya tahu hal seperti itu dari berbagai tayangan televisi, dari temen-temen bermainnya, dari saudara-saudara yang masih melakukan kebiasaan berulang tahun.

Seperti biasanya, ketika mendapat undangan seperti itu, saya selalu berpesan kepada istri agar tidak menghadiri acara tersebut. Saya berpesan agar memberikan hadiah saja di luar acara tersebut. Dengan niat memberikan hadiah semata. Hal tersebut saya lakukan guna menjaga hubungan antara tetangga, agar jangan sampai terjadi persangkaan-persangkaan yang tidak-tidak karena ketidakhadiran anak saya.

Di awal-awal, sempat juga saya berselisih pendapat dengan istri saya, istri berdalih dan khawatir jika tidak hadir di acara semacam itu kita akan diasingkan oleh masyarakat dan anak kita akan menjadi kuper. Lalu saya jawab, “mi… akal siapakah yang mau menerima, ketika jatah umur kita berkurang dengan bertambahnya waktu, lalu kita malah “bergembira”, lalu “jika dikaitkan dengan rasa bersyukur dengan bertambahnya usia, apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai panutan kita mengajar cara bersyukur yang seperti itu…?” Bukankah ini sebuah pembodohan untuk anak kita? Sebuah pemaksaan ajaran yang jelas tidak bersumber dari agama yang kita yakini yakni Islam…”

Kemudian saya tambahkan kepada istri saya lagi bahwa kebiasaan ulang tahun adalah mengekor pada kebiasaan kaum di luar Islam yang biasa merayakan hari kelahiran “tuhan” mereka. Dan ini merupakan satu point tambahan untuk alasan mengapa kita harus menghindari acara tersebut. Apa dalilnya? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam telah mengingatkan kita, dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (HR. Abu Daud No. 4031 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 1/676)

Bisa dikatakan jika kita mengikuti kebiasaan mereka (kaum di luar Islam) tersebut maka kita adalah bagian dari kaum tersebut. Sebab dari panutan kita yang mulia pun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tidak pernah memberikan contoh “ritual” tersebut, bahkan jika dalihnya adalah sebuah ungkapan kesyukuran, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam telah mengajarkan dan mencontohkan bentuk kesyukuran yang real, sebagaimana telah diriwayatkan dalam hadist berikut:

Mughirah bin Syu’bah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah bangun untuk shalat sehingga kedua telapak kaki atau kedua betis beliau bengkak. Lalu dikatakan kepada beliau, ‘Allah mengampuni dosa-dosamu terdahulu dan yang kemudian, mengapa engkau masih shalat seperti itu?’ Lalu, beliau menjawab, ‘Apakah tidak sepantasnya bagiku menjadi hamba yang bersyukur?'” (HR. Bukhari)

Begitulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam mengajarkan kita cara bersyukur. Bersyukur yang sebenar-benarnya adalah dengan menambah ketaatan pada Dzat yang memberikan kenikmatan. Bukan dengan sekadar makan bersama atau bernyanyi-nyanyi lalu setelah itu nuansa ketaatan dibuang jauh-jauh setelah mendapat kenikmatan itu.

Jadi, kepada Anda wahai saudaraku seaqidah yang menjadi orang tua, menjadi kakak, dan menjadi contoh bagi anak dan adik-adik kita, masihkah ada dalil dan dalih untuk “gemar” melakukan dan mencontohkan atau menganjurkan kebiasaan ini kepada generasi penerus kita? Jika Anda berlebih harta, ajarkan anak dan adik-adik kita bersedekah dan berinfaq kepada yang membutuhkan. Itu jauh lebih mengajarkan kepada hal yang dicintai Alloh dan RasulNya. Jika Anda ingin mengadakan acara makan bersama, maka undanglah anak yatim untuk bersama-sama menikmati rezeki yang Anda terima dari Alloh. Maka itu juga hal yang diridhoi oleh Alloh dan RasulNya.

Wahai saudaraku seaqidah…

Yakinlah…bahwa agama ini adalah aturan yang sempurna dari Yang Maha Sempurna. Tidak usahlah kita merasa bangga dengan kebiasaan-kebiasaan yang “mereka” lakukan. Cukuplah Alloh dan RasulNya sebagai penilai kita dan tolok ukur kebaikan buat kita… (Al Akh Panggih Waluyo)

Jadi amat disayangkan, keberadaan beberapa oknum/kelompok da’wah yang sudah faham sekalipun, dikarenakan berpedoman pada kemaslahatan semata akhirnya mengorbankan tuntutan syariat, memudah-mudahkan agama dan mencapur-campurkannya dengan aqidah yang bersumber selain dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Menggiring ummat pada jalan yang nampak benar, menyenangkan, terdapat banyak kebaikan namun sebenarnya tidak berdasar, kesenangan semu dan yang jelas bukan kebenaran.

Lebih parah karena ummat dikondisikan untuk menerima syariat yang tidak berdasar ini, ummat melihat para da’i yang selalu merayakannya dengan “syukuran ala Islam”. Terjebak pada pragmatisme istilah milad dan lain-lain. Padahal tidak semua istilah yang dibahasa-arabkan kemudian menjadi pasti hukum keislamannya dan menjadi bagian dari syariat.

Teringat perkataan Imam Ahmad Bin Hambal rahimahullohuta’ala soal memegang teguh kebenaran, kurang lebih redaksinya: “Sekiranya para ulama/da’i-nya saja sudah bermudah-mudahan dalam agama dan keseringan mengambil ijtihad rukhsah, menggampang-gampangkan urusan agama. Bagaimana ummatnya? bagaimana ummatnya? bagaimana ummatnya?”

Islam itu fitrah, dan setiap hati yang mencari jalan kebenaran akan dituntun kepada pemahaman yang baik dan benar dengan cara-Nya yang indah. Maka karena Islam itu indah, ia akan mudah diterima oleh hati yang selalu tunduk pada-Nya.

Kini ummat ada di persimpangan budaya, da’i seperti apakah yang sering kita lihat di akhir zaman ini? Dan apa yang mereka coba kondisikan pada ummat dan gaya hidupnya?

Wallahu ‘alam bishowab, wallohul musta’an.
(dari berbagai sumber)

By : Irfan Ghani P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s