Sepanjang Jalan


Hari itu, saya bermaksud mencari bahan untuk membuat tas dan bantal serta pernak pernik untuk seckdress. Maklum punya hobi baru haha. Saya pergi bersama teman saya ke daerah Jl ABC, Kings Shopping centre, Mesjid Agung Bandung. Menyusuri jalan dari kampus hingga Petra (toko yang saya kunjungi), betapa macetnya Bandung ini. Kemudian dari Petra hingga Jl Sunda, macet luar biasa.

Kemudian saat kami menyusuri Jl. Otista, kami bercerita, teman saya bilang “Kita yang negara dunia ketiga aja, si pasar ga pernah sepi dari pengunjung, pasti penuh mulu deh tiap hari. Dasar yhaaa..”

“Iyalah, kita kan negara konsumptif abis cuy, (bahasa gaul anak tl), makanya si pasar baru ga akan kehabisan pengunjung kecuali hari lebaran haha”

“Iya, tapi katanya kita negara miskin..”

“Haha iyaya, yang miskin makin miskin, yang kaya makin gaya.. wkwk”

Kemudian sepanjang jalan emperan Otista yang kami lalui bahkan lebih cepat di tempuh dengan jalan kaki di banding menggunakan mobil. Macet parah…

Setelah saya mendapatkan dua kalung mutiara imitasi, akhirnya kami pulang menuju daerah mesjid Agung (lupa nama jalannya). Kemudian kami menaiki angkutan umum hingga jl Sunda.. Tentu saja sepanjang perjalanan kami pun berbincang..

“Ih, bandung macet gila sekarang, semua jalan penuh dengan mobil motor.. Parah lah ini.. Mana panas pula, padahal waktu menunjukkan pukul 17”

“Iya, jumlah mobil di Indonesia lebih banyak dari Jepang bahkan, gila yha.. Di jepang aja, jarang banget ngeliat semacet tak bergerak gini..”

“Kita kebanyakan gengsinya buat naek angkot sih… Jadi satu honda jazz hanya di tumpangi satu orang. Satu keluarga bahkan punya mobil dengan jumlah yang sama dengan anggota keluarga..”

“Bener banget lah.. Haha”

Bahkan, saat ini saya pun yang dulu pernah mengidamkan bawa mobil ke kampus sendiri biar kalo ada apa-apa kayak pulang malem lebih aman daripada naek ojeg, mengurungkan niatnya. Soalnya kalo bawa mobil, kasihan supir angkot makin tak laku. Lagian otomatis si Papa juga kagak ngizinin kecuali dengan alasan yang jelas bawa mobil. Kalo cuma buat gengsi2an, bawa aja tuh gengsi. Bahkan papa saya pun pergi menuju pabrik batanya dengan jalan kaki. Hehe.. Hemat dan Sehat katanya..

Begitulah, sepanjang jalan di daerah bandung yang tak pernah lepas dari kata , Macet dan Panas…

4 thoughts on “Sepanjang Jalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s