As If Conditional


Andai, aku t’lah dewasa ingin aku persembahkan, untukmu Idolaku, Bunda..

Oooo.. Andai, nanananannana…

Begitulah lagu masa kecil, yang dibawakan penyanyi Sherina..

Andai aku jadi dokter, mungkin aku bisa membantu orang lain untuk memperbaiki kondisi tubuhnya. Andai aku punya piano, mungkin akan aku mainkan ketika hati merasa sedih. Andai aku punya teman yang bisa memahami dalam setiap kondisi, mungkin aku tak seperti ini.. . Haha.. Andai manusia seluruhnya beriman, tentu penuh sesaklah Surga kelak.. Andai.. Andai.. Andaii.. *Daydreaming again ! (bahasa detective Kindaichi)..

Ketika belajar bahasa Inggris pasti kita mengenal istilah dalam judul diatas bukan? Tentu saja, bahasa pengandaian untuk suatu peristiwa yang diharapkan terjadi namun tidak sesuai dengan harapan, istilahnya berandai-andai atau nama bekennya mimpi disiang bolong.. Padahal dalam kehidupan nyata kita suasana itu hanya ada dua, ada gembira ada sedih, ada baik ada jahat, ada hitam ada putih. Namun, tak selamanya gembira, pun tak selamanya sedih. Kedua hal itu silih berganti, setelah gelap terbitlah terang. Hanya saja masalah saat ini bukan bagaimana pentingnya silih berganti kedua hal itu, tapi bagaimana kita bisa menyikapi kedua hal itu, saat sedih dan saat gembira.

Dalam haditsnya Rasulullah bersabda, “Sungguh menakjubkan perkara orang beriman, karena segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan (kebahagiaan), ia bersyukur karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut adalah baik baginya.” (HR Muslim)

Bersyukur dan Bersabar

Ketika seseorang diberi kenikmatan yang membuatnya berbahagia adalah wajar apabila ia merasa bahwa Allah swt telah memberikan yang terbaik untuknya. Hanya saja sekarang masalahnya, sudahkah ia bersyukur atas nikmat yang diberikan tersebut?? Banyak orang yang senang ketika diberi kenikmatan tapi berapa banyak sih kita bersyukur dengan hal itu? (melirik diri sendiri). Berapa banyak nikmat yang diberikan Allah untuk kita? Tak terhitung dan tak mungkin bisa kita hitung saking banyaknya. Baik nikmat yang terasa maupun yang tak terasa, bahkan banyak nikmat yang secara tak sadar kita lupakan keberadaannya, seperti nikmat sehat dan waktu luang. Karena kadang kita berkutat pada kenikmatan secara materi.

Lalu, bagaimana cara kita dalam mewujudkan rasa syukur itu???

  1. Dengan hati. Hati mengakui penuh dengan keikhlasan betapa baaaanyak nikmat yang Allah berikan kepada kita.
  2. Lisan. Yang ini dengan cara melafadzkan kalimat-kalimat pujian kepada Allah, “Alhamdulillah”
  3. Perbuatan. Yang ini dengan cara seluruh anggota tubuh melakukan ketaatan kepada Allah swt. Taat atas perintahnya merupakan salah satu bukti rasa syukur kita atas kenikmatan yang diberi. Seperti yang mungkin pernah terjadi di kalangan manusia sendiri, kadang ketika kita diberi sesuatu oleh orang lain secara tak sadar kita sanggup melakukan yang diminta si pemberi kan? Misalnya, ayah kita memberikan uang jajan asalkan kita mau menyapu lantai. Nah, sama manusia bisa, kenapa sama pemilik jiwa kita nggak bisa? Hayooo.. (melirik diri sendiri)

Ketiga hal diatas tercermin dalam hati kita sehingga membuahkan rasa yang tidak puas untuk beribadah kepadaNya. Contohnya adalah Rasulullah, beliau merupakan orang sudah diampuni dosa-dosanya tapi beliau tidak pernah tidak beribadah kepada Allah, bahkan Rasulullah lah manusia yang paling banyak ibadahnya sehingga beliau patut kita contoh. Begitu pula dengan Umar bin Khaththab, walaupun sudah dijamin masuk surga, tapi masih khawatir apabila beliau termasuk ke dalam golongan orang munafik. Lalu bagaimana dengan kita

Ada Syukur pasti ada pasangan hidupnya yaitu Sabar. Sabar ketika menghadapi kesulitan dan menganggapnya sebagai yang terbaik baginya. Mungkin banyak dari kita bisa bersabar tapi sedikit sekali yang bisa merasakan hal tersebut sebagai sesuatu yang terbaik baginya. Sabar itu sulit, dibutuhkan kesungguhan dalam mencapainya. Yang jelas sabar itu tiada batasnya, hanya kematian batas dari kesabaran kita dan tentunya pemutus segala perkara keduniawian.

Dalam firman Allah swt,” Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS 39 :10). “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar” (QS 3:146).

Syukur dan Sabar selalu berdampingan dalam kehidupan nyata kita. Menurut H. Muhammad Suharsono,Lc “Syukur dan sabar merupakan karakteristik keunikan yang dimiliki oleh umat islam yang tidak terdapat pada umat lainnya. Bersyukur saat mendapat kenikmatan dan bersabar ketika mendapat cobaan serta menganggap keduanya hal terbaik dari Allah bagi kita”

Syukur dan sabar lebih baik daripada berandai-andai akan sesuatu yang tidak mungkin kembali dan terjadi. Senang atau sedih boleh saja asal tak berlebihan. Sedangkan berandai-andai adalah hal tercela karena bisa membuka pintu masuknya syetan.

Hari gini masih berandai-andai???

========

*digubah dari Andaikan boleh berandai-andai, H Muhammad S, Lc (Ruang Makna, PKPU)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s