Antara Pakta dan Piksi


Di suatu siang yang cukup terik, berdirilah seorang gadis menunggu angkot untuk pulang. Beberapa lama kemudian akhirnya datanglah angkot yang ia tunggu. Ia pun kemudian naik dan duduk di bangku bagian tengah. Disampingnya ada sepasang suami istri paruh baya duduk membawa tas keresek. Sepertinya baru pulang dari perjalanan. Kemudian angkot itu pun menunggu penumpang beberapa menit, berharap ada yang sudi menaikinya. Namun, yang ditunggu tak kunjung datang. Sedetik kemudian, angkot itu pun melaju perlahan mengikuti datarnya jalan raya.

Di sela-sela perjalanan itu, terdengarlah suara dua pasang insan yang paruh baya. Bercerita berbagai hal. Sang gadis hanya tersenyum dan termangu saja melihatnya. Entah apa yang ia pikirkan. Hanya saja ia merasa lucu melihat dua orang tua tersebut. Tiba-tiba….

“Emang kamu nyari suami buat apa toh?” tanya sang suami terhadap istrinya dengan suara cukup keras karena saat itu sedang menunggu lampu merah.

“Yha, emang kamu juga nyari istri buat apa? jadi pembantu rumah tangga kan?” sanggah istrinya tak mau kalah.

“ya nggak lah, itu cuma alasan ke sekian kenapa aku menikahimu.”

Disudut lain sang gadis hanya senyum-senyum mendengar perbincangan mereka.

“Nah, tuh kan, bener, pantas kamu milih aku dibanding sama si Putih Ayu itu kan?? ternyata dimana-mana laki-laki itu sama wae, ndak ada bedanya,”  tegas ibu tersebut dengan logat Jawa nya yang kental.

“Lah, kamu sendiri, pasti mau nyari supir kan? biar kalo kemana-mana kamu nggak naik angkutan umum toh, makanya kamu pilih aku, karena aku ini supir pejabat. Kenapa juga kamu nggak mau sama si Jangkung itu, padahal gaji dia gede, ganteng pula toh, terus ibu bapakmu itu setuju wae sama dia dibanding aku. Kamu bilang sama si Mbo, ga suka sama si Jangkung itu karena  ndak bisa bawa mobil”

Si gadis makin bingung, ni bapak ibu ngomong apa pula.. Ckckck..

“Mbokya, sama saja toh pak, kita berdua kan cari untung. Jadi ndak masalahkan kalo si Prakoso tuh nikahin si Ajeng toh , wong si Prakoso itu pinter, dokter juga tho pak, kalo bawa mobil kan bisa belajar lah.. Gimana pak?”

“Jangan begitu lah bu, carilah menantu yang bisa nyupir, bisa nyenengin keluarga, jangan cuma tahu naik angkot aja toh Bu”

“Sakarep bapak wae lah, ibu cuma pengen dapet mantu dokter gitu lho pak”

“Yha, ini kan harapan bapak toh bu, ya nggak mbak, kalo cari suami pengen yang bisa nyetir kan mbak?” tanya si bapak pada si gadis.

Si gadis yang sedari tadi cemberut denger percakapan kedua orang tersebut, hanya melongo kebingungan.

“Ah, itu, iya juga sih, pak tapi nggak juga nggak papa, tapi kalo bisa sih bisa nyetir mobil juga sih pak, ehehehhe” jawabnya gagap.

“Tuh, kan bu, mbak itu juga bilang lebih baik punya suami yang bisa nyetir, jadi ya karep Ajeng ajalah bu dia maunya kayak gimana”

Angkot pun berhenti, kemudian dua orang tua itu pamitan turun duluan meninggalkan sang Gadis sendiri dalam kebingungan.

Ternyata ada juga yang berpikir cari pendamping hidup kayak gitu, ternyata dunia memang luas. Yang jelas carilah pendamping yang bisa menyejukkan tatkala di pandang, menentramkan tatkala berbincang, dan saling menasihati dalam kebenaran, apapun kondisinya. Karena pernikahan itu kan menyatukan belahan yang belum sempurna menjadi sesosok yang sempurna. Soooo, jangan cari supir atau tukang masak semata..😀

2 thoughts on “Antara Pakta dan Piksi

    • aduh, mas jangan dianggap serius juga, masak nikah harus dengan orang yang bisa nyetir, ga nikah2 dong..

      tapi lebih baik sih belajar juga, siapa tahu kelak dapet mobil gitu dari mertua.. hehe

      yang jelas nikah itu karena Agamanya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s