Menikmati Sakit


Dua hari ini, bahkan sekarang saat saya mengetik tulisan ini, kembali si Sakit bertamu (lagi demam, sempet nulis, deadline buku dan makalah TA soalnya, plus scrapbook yang tengah finishing touched, hampir dua kali salah print saking kagak konsennya..). Siklus imunitas tubuh saya melemah saat menjelang, ketika, dan selepas bulan Ramadhan, sama seperti dua tahun silam. Padahal sebulan terakhir sudah memakan beragam multivitamin, penambah darah, dan lain-lainnya. Tapi tetap saja, sang tamu datang tak diundang.

Setelah selama seminggu sebelumnya pola tidur kacau balau karena harus terbangun untuk mengaduk maserator TA di rumah, akhirnya kemaren kena juga tuh, daya tahan tubuh melemah. Sampai kemarin malam, dibilang, wajah kamu kek pake blush on, “huamirah”.. Kayak tomat.. Biasa demam tuh..

Tapi, seperti biasa, saya menikmati kalau sakit, entah mengapa, aneh memang, padahal jadi nggak bisa keluar rumah, cuma kadang, saya memang butuh waktu untuk sendiri, berdiam diri di kamar jauh dari dunia sosial (ansos pisun).. Sama halnya hari ini, sama sekali tak diizinkan keluar rumah, cuma berkutat di depan laptop, tempat tidur, rumah, “ruang komputer yang disulap jadi lab TA saya”, dapur, laptop lagi.. Membosankan sih, tapi bosannya kerjaan kagak selesai-selesai.. Mengerjakan hal yang sama dalam beberapa hari..

Ah, lalu apa hubungannya dengan silent moments seperti judul di atas. Sebenarnya ga ada hubungannya, hanya entah mengapa setiap sakit lebih merasakan kematian yang selalu membuat diri berpikir tak layak bertemu dengan Tuhan saya saat ini, udah punya bekal apa? udah ngelakuin apa? udah bisa ngerubah apa? keluarga gimana? teman? saudara? intinya setiap sakit seringnya mendapat inspirasi malah, tentang kehidupan, cita, dan harapan. Maksudnya saya lebih bisa menikmati setiap detik memori yang ter-flashback.

Tapi emang dasar manusia, bisa merasakan dan mensyukuri kenikmatan lebih besar tatkala kenikmatan itu hilang, lebih mampu merasakan kehinaan diri tatkala di timpa musibah dan meronta-ronta kepada Tuhannya. Mungkin Tuhan akan berkata, ‘kalo sakit aja, dekat padaKu, giliran sehat aja, Lupa”. Ah, astaghfirullaha’adzim..

Walaupun mungkin saya sudah tidak mensyukuri nikmat sehat, tapi saya menikmati setiap rasa sakit dalam tubuh, dan betapa lemahnya manusia, dan saya tersadar bahwa saya ternyata tak sekuat yang saya pikirkan, adakalanya saya berada di titik terlemah diri saya, terutama kalau lagi tertekan banyak hal yang perlu diselesaikan, dan disitulah baru saya tersadar bahwa saya bukan apa-apa tanpaNya..

Ada banyak hal cara menikmati rasa sakit, biar nggak makin stress karena sakit, biasanya saya lebih banyak membaca atau menulis, baik di blog atau menulis cerita, apapun genrenya, tapi kadang sering menulis tentang kematian, pembunuhan, kalo lagi sakit, lebih menghayati rasa sakit. Selain itu, saya jadi banyak tahu tentang kesehatan manusia, soalnya jadi sering baca rubrik kesehatan. Lumayan, haha, kalo lagi sehat soalnya jarang baca gituan.. Huehue..

Dan lebih mengasyikkan bagi kaum hawa adalah, bisa lebih lama mengistirahatkan badan dengan beragam kegiatan untuk menjaga penampilan, *ups.. Seperti masker mata pake timun atau kentang.. Banyak makan buah-buahan, soalnya setiap saya demam, entah mengapa isi kulkas penuh dengan buah-buahan.. Haha

Yang jelas mah, saya bisa belajar untuk selalu bersyukur walaupun sedang sakit sekalipun.. Hupp.. :d

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s