RealiTA TAk Seindah CeriTA


Malam itu Ica, berkutat di depan laptop, mencari berbagai hal yang ia butuhkan untuk presentasi progress proposal tugas akhir kepada dosen pembimbingnya. Ia mulai browsing jurnal dari mulai lokal, nasional, hingga internasional, puluhan jurnal ia lahap dalam semalam. Bukan rajin, tapi sudah tak ada waktu. Karena esok hari adalah hari terakhir penyerahan proposal tugas akhir. Akhirnya, ia mulai setuju dengan usulan proyek yang dilontarkan dosen pembimbing sebelumnya, dan ia mulai memantapkan hati dengan tema itu. Pukul 2 malam, ia selesai merapikan draft proposal..

Paginya, alhamdulillah, langsung disetujui dosen pembimbing..

Seminggu selanjutnya, ternyata harus di revisi, karena pembahasan dari penelitian tersebut di rasa kurang mendalam menurut koordinator TA. Hm.. Akhirnya selesai deh..

Saat itu bulan Maret, tapi bahan tak kunjung datang. Dengan perasaan bimbang, Ica mulai bersiap menyiapkan tema baru untuk mengejar Wisuda Juli. Tapi dosen pembimbing tak setuju, karena toh tema Ica saat ini ‘sangat mudah’ dilakukan. Dan saat itu, Ica memang termakan hipnotis kata dosennya tersebut. Akhirnya mulai pekan ketiga bahan penelitian TA Ica datang, langsung dikirim dari sebuah pabrik oleokimia di Medan.

Ia mulai, melakukan beragam uji karaktersitik SBE, analisa ultimat dan proksimat. Namun, kembali saat akan melakukan penelitian sesungguhnya, Ica menemukan kendala, ‘tak ada bahan kimia yang ia butuhkan’, kalaupun ada sulit sekali ia meminta dari lab tempat ia melakukan analisa. Begitu pula barang-barang yang dibutuhkan. Hmmm.. selama dua minggu, Ica melanglang buana ke berbagai laboratorium di universitasnya. Tak ada, nihil, kalaupun ada harganya ratusan ribu untuk setiap kali analisa walaupun hanya satu sampel. Otomatis nih, Ica butuh jutaan rupiah untuk analisa tersebut. Akhirnya, TA Ica pun mengalami collapse. Sudah sangat tertekan, tak mungkin lulus Juli…

Tapi Ica tetap bertahan, tak mungkin untuk mundur. Akhirnya awal bulan April, Ica mulai meniti tahapan penelitiannya. Mengumpulkan ekstrak minyak sebanyak 30ml saja. Tapi betapa susahnya, karena alat dan bahan yang digunakan berlomba dengan banyaknya analisa permintaan dari luar lab. Tapi, ia tetap bertahan hingga sekarang memasuki bulan Agustus. Alhamdulillah..

Perjuangan panjang, mengumpulkan 30 ml berakhir, butuh waktu hingga 3 bulan melakukan ini semua.. Tentunya butuh biaya berjuta rupiah untuk menyelesaikannya. Merasa sangat kesal sejujurnya, karena ternyata, universitasnya (lebih tepatnya laboratoriumnya, tak mampu membantu biaya tugas akhirnya, bahkan mereka hanya membeli bahan-bahan yang mereka butuhkan untuk analisa yang mereka lakukan jika ada permintaan dari luar, ada satu yang membuat Ica marah, saat itu ia memerlukan sebuah pelarut organik, ternyata di lab tersebut tersedia, tapi di katakan, “kita tidak punya”. Padahal jelas-jelas, saat Ica membuka gudang kimia, disana ADA!. Nyaris saja, kekesalannya melumatkan sebuah gelas kimia.). Tapi ditahannya, karena toh tak menyelesaikan masalah. Hanya mungkin kesal saja, toh dia pun membayar spp bahkan bppt, yang entah berdasarkan apa ditentukan dengan menghitung kancing kali yah. Tapi meminta 300ml untuk sebuah pelarut saja, tidak boleh.

Untuk kedua kalinya, saat ia bertanya, “Lab kita punya fenolftalein ga? mau dong barang beberapa tetes”. Namun, malang, petugas Lab tersebut berkata kita tidak punya, padahal, menurut teman saya yang waktu itu mengambil metil orange dari kulkas, ia melihat deretan larutan indikator. Kembali, Ica bersabar..

Dan yang paling menyesakkan, saat ia meminta salah satu pelarut lain yang memang harganya begitu aduhai mahalnya, sekitar 1 juta untuk 2,5 L. Mereka tidak mengizinkan. Karena akan digunakan untuk menguji sampel dari suatu perusahaan. Ah, semakin saja Ica kesal. Apalagi saat ia berbincang dengan seorang analis, yang cukup baik hati menurut Ica, dan sering membantunya dalam mengerjakan penelitiannya, berkata “Kan, harga TCLP ini, per sampel 1,8 juta” untuk satu sampel. Betapa funtastis untuk ukuran kocek seorang mahasiswa seperti Ica.

Tapi betapa mirisnya, Ica dan teman-teman seperjuangan lab, kesulitan mendapatkan bahan-bahan yang mereka perlukan (untuk lab tempat  Ica neA aja sih, yang lain ga tahu juga gimana), bahkan kita harus membeli bahan-bahan sendiri. Ya, mungkin Ica pikir, untuk bahan yang memang tak biasa sih, ya gapapa, tapi bahan yang jelas-jelas ada, pliss deh segitunya nggak boleh, padahal pemasukkan mereka sangat besar.. Tapi untuk mahasiswa betapa mahalnya untuk penelitian ini, padahal bayar spp kagak pernah telat dah.

Dilematis memang, biaya pendidikan yang semakin meroket, biaya penelitian untuk ukuran S1 pun begitu fantastis, ada yang sampai mencapai 20 juta. Mungkin hingga kini, Ica baru mengeluarkan sekitar 1,5 juta. Tapi tetap saja, bagi mahasiswa tak mampu seperti Ica, harga segitu sudah sangat menyesakkan dada. Walaupun tetap bersyukur harga tersebut masih relatif lebih kecil dibandingkan teman-temanya yang lain.. Alhamdulillah..

Tak cukup sampai disana, realita TA tak seindah ceritanya. Ica harus bersabar menunggu ekstrak minyak selama 3 bulan.. belum uji-uji yang tak mampu dilakukan di universitasnya, sehingga harus dilakukan di universitas lain atau laboratorium milik suatu perusahaan. Terkadang, sering merasakan bahwa, menganalisa di luar lab kampusnya lebih manusiawi di banding di kampusnya sendiri, tempat ia belajar, bahkan harga yang ditawarkan lab kampusnya sendiri, lebih mahal dibanding saat ia melakukan uji di luar kampusnya. Betapa, mengapa untuk mahasiswa intern semahal itu?

Ada apa dengan kampus? Kembali Ica berpikir..
Tak Cukupkah, biaya pendidikan yang dikeluarkan berjuta-juta, tapi fasilitas kurang. Mungkin buat lab Ica donag kali yha. Ah, betapa susahnya.. Alhamdullilah, ada Mas Analis di Lab tetangga yang begitu baik hati, memberikan bahan-bahan yang ia butuhkan, cukup membantu meringankan bebannya. dan kembali selalu berkata. Kamu lagi, Kamu lagi, gimana sih Lab kamu itu? Bahkan mungkin si Mas nya udah hafal dengan wajah Ica yang sering mondar mandir Labnya, tanpa sengaja si Mas Analis sering menyapa ketika berjumpa di jalan..

Selalu, adakalnya realita Tak seindah cerita.. Perlu kesabaran ekstra untuk melalui tahapan-tahapan tangga mencapai apa yang kita ingin..

Kini Ica sedang bersiap menyelesaikan uji terakhir TAnya, walaupun ternyata harus mengulang beberapa uji hingga September Nanti, dan menantikan 1 Oktober untuk sidang.. Bismillah.. Laa haula wala quwata  illa billah..

2 thoughts on “RealiTA TAk Seindah CeriTA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s