Wedding Punch


Ok, once again, i try to write this topic, while i was boring to talk about this.. But, i wanna tell you something important from old family (conservative) point of view. This story happened at the sunny day, yesterday, when i met my big family. well okay, i’ll start to tell….

Sama seperti judul diatas, Wedding Punch, Wedding berarti tentang pernikahan, sedangkan Punch biasanya digunakan dalam istilah dressing salad, atau makanan, atau minuman.. Istilahnya serba mix. Yha, berawal dari percakapan keluarga saya, mulai dari sekolah dengan harga yang melangit, hingga jatuh pada topik sekolah yang melangit (tinggi maksudnya). Ya, saya nyaris menjadi seseorang yang selalu di banggakan (Alhamdulillah) di keluarga besar baik mama apalagi papa (haha… nyombong gue). Satu-satunya cucu nenek kakek yang bisa kuliah di ITB, yang lain biasanya kan ya gitu-gitu, tahu-tahu nikah aja. Saya selalu konsisten dengan apa yang saya mau, walaupun tetep kuliah di ITB bukan harapan saya. Tapi.. apa daya, lanjutkanlah wong bentar lagi juga selesai.. Amiiiiin..

Nah, jadi kemaren siang itu kita ada kumpul keluarga sambil halal bihalal bareng, nggak mewah sih cuma “ngeliwet” doang. Cuma ya biasa karena yang hadir udah pada ibu-ibu bahkan pada kerja, alhasil mulailah gue di bulybuly.. berawal dari cerita suami2 para ibu-ibu tersebut, beralih ke pacaran, sampai sebuah kalimat yang menusuk jantung (lebay abisss)..

“Sekolah tuh, jangan tinggi-tinggi, ntar kagak dapet jodoh, ga ada yang selevel, pada males..” kata keponakan saya yang masih kelas 1 sma tercatat sejak sebulan yang lalu. Ini anak emang rada kurang motivasi buat belajar, dari ketujuh keponakan, satu ini aja yang rada aneh, yang lain pada pinter n rajin belajar, dan semangat sekolah yang tinggi. Ni anak satu aja, yang kagak mau sekolah, ga niat kuliah, udah mau kerja dan nikah aja… ckckck.. Hahaha.. Merasa sangat konyol saya mendengar perkataan itu. Karena sebelumnya saya mengatakan akan mengambil S2, S3, S4, S5, senyum salam sapa sopan santun.. Halaaah..

Otomatis, kata-kata tersebut meruntuhkan motivasi saya.. Haha.. Tapi kembali pada idealisme saya, “Orang yang ga mau sama orang berpendidikan, Itu orang yang malang”. Jadi tetaplah saya berkutat dengan idealisme saya sampai berbusa-busa, karena semua hadirin saat itu berpikir, “Iya lah, tak perlu sekolah yang tinggi, tetep aja da perempuan akhirnya di dapur juga, kayak si teh ini juga sekolah tinggi, malah jadi tukang catering, tak sesuai dengan bidang keilmuan dia, si ini, bentar lagi lulus keburu di lamar..”

Namun, tetap sudut pandang saya pada kasus mereka adalah, “motivasi dan attention mereka pada apa yang ingin mereka capai”, sekadar nasib untuk nikah sih, cari aja yang mau nerima apa adanya, kelebihan dan kekurangannya. Masa iya suami ngelarang istri buat sekolah, mungkin ada tapi itu suami yang tak berperasaan. Ahahaha.. Berasa saya udah pernah aja, padahal nikah aja belum.

Setinggi apapun pendidikan kita, percaya saja Allah sudah mempersiapkan sesorang yang mungkin selevel dengan kita atau berbeda. Tapi seperti apapun perbedaan kita dengan pendamping kita, tetaplah saling menghargai layaknya sepasang suami istri (yaiyalah, emang mau kayak apa tho?), tak boleh saling membanggakan kelebihan masing-masing dan meremehkan kekurangan masing-masing. Justru pendamping itu hadir untuk mengisi kekosongan kita, bersifat komplementer, saling melengkapi kekurangan, dan menguatkan kelebihan kita.

Dalam benak saya, saya ingin sekolah mendapat ilmu banyak untuk putra putri saya kelak, syukur-syukur bisa berkontribusi demi bangsa dan negara di tengah hiruk pikuk kerjaan rumah tangga atau kerjaan lainnya, bukan untuk dibanggakan kepada khalayak ramai apalagi di banding-bandingkan dengan suami saya.. Jadi, intinya raih apapun yang ingin kau capai, sekalipun engkau seorang wanita, gapai ilmu hingga ke negeri China, dan salah satu orang yang Allah senangi adalah orang yang berilmu kan? Perkara dengan siapa kita bersanding, itu urusan Allah, manusia hanya bisa berusaha dan meminta yang terbaik dariNya.

Seperti sebuah status tumblr teman saya, “Menikah itu bukan perkara dengan siapa, tapi bagaimana kedepannya, karena pernikahan adalah anak tangga selanjutnya..” Begitulah kira-kira bunyinya (seinget saya).. Jadi, take it easy! Mintalah yang terbaik pada Allah apapun hasilnya kita terima dengan penuh syukur..😀

Dan, saya tidak setuju dengan pemikiran bahwa “perempuan hampir selalu pergi ke dapur”. Siapa bilang cuma ngurus dapur doang? Justru mengapa perempuan harus berpendidikan karena dari ia lah lahir sang pahlawan-pahlawan bangsa dan agama, seorang ibu (wanita) lah orang pertama yang menjadi guru bagi anak-anaknya. Jadi, kenapa harus takut tak dapat jodoh hanya gara-gara berpendidikan tinggi, walaupun saya maklumi, keluarga yang sudah cukup lama mengarungi kehidupan itu, pernah melihat bukti real. Hanya saja, kembali pada kepercayaan kita, yang namanya jodoh itu pasti adanya, hanya saja timingnya, bisa sekarang di dunia atau nanti di surgaNya (kalo masuk surga.. )., Dan kita harus selalu siap sedia, untuk dipercepat atau diperlambat.. :d

5 thoughts on “Wedding Punch

  1. komen nt panjang amat…ini beberapa paradoks di tulisan ini yang kentara banget

    1. Ok, once again, i try to write this topic, while i was boring to talk about this..
    2. Saya selalu konsisten dengan apa yang saya mau, walaupun tetep kuliah di ITB bukan harapan saya.
    3. Otomatis, kata-kata tersebut meruntuhkan motivasi saya.. Haha.. Tapi kembali pada idealisme saya,…

    udah tiga aja…

    • kata-kata mewakili contoh bagus dari paradoks, banyak hal menjadi bersifat multiinterpretasi, mendua, Jawaban ‘ya’, tak selalu berarti ‘ya’, bisa juga tidak.. membicarakan tentang paradoks emang unik, aneh, membingungkan (ini persis banget testi bph buat saya.. wkwk), kadang bertentangan, seperti artikel di atas..

      tapi kembali, dalam setiap paradoks seringkali terdapat distorsi, yang kadang tak bisa kita tangkap.. Kalimat atau rangkaian kata seperti halnya paradoks, memiliki kekuatan tersendiri dan mampu menimbulkan imajinasi yang jauh lebih hebat daripada kejadian sesungguhnya..

      Sementara imajinasi yang ditimbulkan dari kata-kata tidak terbatas. Seringkali 1-2 kalimat mewakili cerita tersembunyi yang justru tak dikatakan. Apa yang tidak dikatakan malah terkatakan, atau sebaliknya, apa yang dikatakan malah menjadi tak terkatakan. Begitulah paradoksnya..

      Paradoks adalah segala peristiwa bersifat mendua dan hal yang bertentangan itu selalu ada di semua hal, menyatu padu, tak bisa dipisahkan. Sama kek lagunya Titi DJ “Benci tapi Rindu”.. paradoks pisan..

      Paradoks ada karena kebenaran yang sudah diketahui baru 10%. 90%nya kebenaran yang mesti kita cari (sama kayak tulisan diatas,, kalo ga sama disama-samain lah.. haha maksa).. Bagaimana mungkin semua bisa dipastikan kalau kebenarannya masih belum kita tahu?

      Karenanya, paradoks jangan dilenyapkan sama sekali, melainkan dapat menjadi alternatif pemikiran untuk terus mencari kebenaran.

      ini kata mas Putu Wijaya.. hehe

      • komen nt panjang amat…ini beberapa paradoks di tulisan ini yang kentara banget
        1. Ok, once again, i try to write this topic, while i was boring to talk about this..
        2. Saya selalu konsisten dengan apa yang saya mau, walaupun tetep kuliah di ITB bukan harapan saya.
        3. Otomatis, kata-kata tersebut meruntuhkan motivasi saya.. Haha.. Tapi kembali pada idealisme saya,…
        udah tiga aja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s