Semu


Terinspirasi untuk menulis setelah bercakap-cakap dengan seorang sahabat saya. Pembicaraan yang mungkin sedang hangat di kalangan para lulusan muda universitas di Indonesia. Apalagi kalau bukan pekerjaan. Saat itu ia bercerita dan meminta nasihat kepada saya untuk pertimbangan tawaran kerja yang ia dapatkan. Masalahnya simpel, ia masih bimbang, karena masih menginginkan sebuah pekerjaan di perusahaan BUMN ternama di Indonesia. (Coba tebak, yang tukang gas itu lhooo.. yang warna biru,merah,kuning, hehe).

Saat saya tanya, emang kenapa kamu mau kerja di PT. P? Jawabanya sama dengan kebanyakan orang berpikir. Begitu juga dengan saya, (rasanya saya pernah menulis keinginan untuk bekerja di perusahaan tersebut setahun silam). Jawaban biasa, karena “salary dan prestige”. Biasa bukan? Hehe

Saya juga terkadang ingin mendapat kedua hal tersebut dengan tinggi. Siapa yang tidak mau bekerja dengan gaji tinggi, punya suami kaya, seorang CEO muda dan terkenal (*ngarep), alhasil hidup selalu bahagia, mau apa aja diturutin.  Tapi setelah dipikir kembali. Terkadang kedua hal tersebut tidak selalu membuat bahagia. Bahagia sih, tapi mungkin semu. Tatkala nilai-nila tinggi tersebut tidak mendatangkan manfaat bagi sekitarnya. Jika mendatangkan manfaat baru itu GOOD JOB. Dan akhirnya kembali kepada pribadi masing-masing.

Ya, kata-kata ia saat berdialog di ym, membuat saya berpikir panjang, apa benar gaji tinggi dan high prestige bisa membuat bahagia? Atau hanya kepuasan semu semata. Sama halnya dengan cerita saya kuliah di institut ternama di bandung. Berulangkali saya ceritakan, bahwa saya tidak pernah suka berada disana, dan sebenarnya bukan mau saya untuk berkuliah disana. Semua orang akan berkata, lho tapi prestasimu sangat bagus. Saya hanya menjawab, dimanapun  tempatnya sekalipun tak saya sukai, saya harus selalu menjadi yang terbaik, entah kenapa mungkin hanya kepuasan saja. Hehe

Jadi, ya jadi saya muter-muter, hehe. Jadi kembali dengan pertanyaan dalam hati saya, apakah gaji tinggi nan prestisius akan membuat saya bahagia? jawabannya “belum tentu”. Toh, Rasulullah saja hidup bersahaja dan sederhana bisa bahagia. Banyak yang memiliki sesuatu yang bernilai tinggi, kekuasaan tinggi, tak jarang tak bahagia. Jadi parameter kebahagiaan tak selalu gaji tinggi dan prestige.

Saya berpendapat bahwa kedua hal tersebut hanya “semu”. Karena kebahagiaan abadi itu begantung bagaimana kita menyikapinya. Apapun di dunia ini, akan memberikan kebahagiaan tatkala kita mampu bersyukur dan bersabar atas segala hal yang menimpa hidup kita. Bagi saya, syukur dan sabar adalah kucni kebajagiaan. Hehe. Bukan gaji tinggi, atau kekayaan, bahkan jabatan dan kekuasaan. Itu sih mungkin komplementer kali ya.

Jadi, sekalipun kita tidak sangat kaya, tapi benar-benar kaya (haha), tetaplah bersyukur maka kau akan bahagia. Bagi yang benar2 kaya dan tidak sangat kaya, belajar bersabar, inshAllah Allah akan mengganti dengan sesuatu yang lebih pasti..😀

Apalah guna salary dan prestige saat akan dihisab???
Hijaunya Surga lebih menawan dibanding Hijaunya dunia… (*hijau konotasinya , uang yaaa.. hehe)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s