Transportasi


45 menit waktu istirahat nunggu makan siang, akan saya coba untuk menulis sebuah artikel mengenai transportasi. Hal ini sudah sangat membuat saya ingin menulisnya dari dulu. Tapi baru sempat keingetan ada di draft, jadi mari dilanjutkan.🙂

Saya salah satu masyarakat pengguna angkutan umum di Bandung. Walau sudah 20tahun lebih di bandung, tapi jangan berprasangka baik bahwa saya sangat hafal rute Bandung. Tentu saja saya tidak hafal, jadi kalau ada yang bertanya, kadang suka malu sendiri, kalau ditanya rute angkot di Bandung. Haha. Maklum agak sedikit manja, jadi kemana-mana selalu diantar bahkan setiap masuk sekolah pertama pasti diantar jemput memastikan saya tidak hilang haha. Sampai hafal rute angkot dan terbiasa barulah saya dilepas oleh mama untuk pergi sendiri.

Dan rute angkot yang sering/pernah saya naiki adalah kelapa dago (paling jauh ampe Kings Shopping centre), Stasiun Dago (ampe Pasar Baru), Stasiun -Cimahi, Cimahi – Ledeng, Ledeng – Lembang, Simpang – Gede Bage, Caringin – Sadang Serang (paling sampe belokan yang mau ke Tekmira), dan Dipati  ukur Panghegar (pas mau ke ujung berung atau cisaranten), cuma itu yang saya tahu. Haha. Kuper abis?? Memang !😀

Selama yang saya amati dari angkutan umum tersebut adalah

  1. Tidak memiliki jam terbang (jam keberangkatan) yang teratur. Sebagian supir akan baru jalan jika penumpang sudah penuh bahkan tak jarang menunggu berjejal baru deh jalan.
  2. Berhenti semaunya.
  3. Overloading. Untuk beberapa angkutan sih (limited angkot).
  4. Nyetirnya ga pake seni, asli deh gue. Contohnya ngebut ga jelas, pengen keren-kerenan gitu sama yang angkot sebelahnya. Haha. Maybe. Atau kalau ada lubang ya dimakan aja gi. Kadang sangat tidak manusiawi. Dan inilah yang membuat saya tidak suka untuk naik angkot jauh-jauh.

Nah, menurut saya keempat hal inilah yang membuat industri perangkotan menjadi tidak teratur, kadang satu rute trayek memiliki jumlah angkutan yang berlebihan dibanding dengan penumpang aktual. Alhasil, banyak angkot yang jalan percuma dengan 1 penumpang saja. Kesenjangan angkutan kan jadinya? Hehe.

Saya berpikir seandainya setiap angkutan trayek diberlakukan jam keberangkatan misal 1 jam sekali, mungkin akan lebih teratur dan tidak menyebabkan angkutan berserakan dimana-mana. Siapa tahu dengan demikian orang kerja ga akan kesiangan kan? Gara-gara nunggu ampe si angkot penuh, terus tak penuh-penuh. Nah, jika diberlakukan periode keberangkatan dengan jumlah angkot disesuaikan dengan penumpang yang mungkin akan menggunakannya, maka menurut saya akan lebih teratur. Kayak bus di Jepang sono, pokoknya kalo telat ya itu urusan lo sendiri, siapa suruh telat. Yang telat silahkan menggunakan angkutan 1 jam berikutnya. Haha. Nah, kalauupun pas jam keberangkatan yang naik cuma 1 orang, pokoknya tetep harus berngakat. saya ga mau tahu *lho.. Haha. Oleh karena itu, diperlukan integrasi pengelolaan mulai dari manajemen driver sampe manajemen teknis di lapangan, pemerintah, dan mungkin perusahaan yang mengelola juga, harus punya effort lebih. Hoo

Masalah kedua, berhenti semaunya, bahkan di tanjakan yang curam, emang dasar supir angkot yang pemberani. Haha. Tapi itu menurut saya membuat mesin mobil cepat aus, karena ia harus menahan beban, dan kalau anda pernah menyetir, capek lho nyetir kalo bawa beban banyak.. Makanya angkot-angkot kita teh banyak yang sudah harus dirumahkan di TPA. Heehe

Coba kalau dibikin temoat pemberhentian angkot yang agak bagus dikit dan tentunya tidak membuat si angkot ngetem berjam-jam disna. Kalau yang ada sekarang kan, halte angkot jadi cuma pajangan, tetap saja saya bebas berhenti dari angkot asal bilang kiri, turun deh. Andaikan ada peraturan, “menurunkan penumpang dimana saja, didenda 100 ribu” dan biarkan polisi bertebaran dimana-mana haha. Setidaknya ada regulasi yang jelas lah ya..

Ketiga adalah overloading. Ini nih yang tak manusiawi. Kesel banget da, kalau naik angkot yang beginian. haha. Ini juga nih ya yang bikin mobil cepat reyot dan turun mesin. Gara-gara overload, udah tahu kapasitasnya cuma buat berlima, eh jadi digunain buat ber10. ya iyalah Acer = asli cepat rusak.

Terus kalau masalah seni menyetir tu tergantung supir emang, coba aja kalau ada standardisasi supir angkutan umum dengan sertifikasi dari kepolisian, kalau melanggar langsung didenda. Dan emang si polisi lalu lintas harus ada di setiap rute angkot. Haha.

Hal hal diatas yang menurut sya harus di perbaiki. Perbaikannya seperti apa sebenarnya saya tak tahu pasti, yang jelas manajemen perusahaan transportasi memang harus diperbaiki. Andaikan ada lisensi kepada setiap supir angkot, jangan siapapun bisa, tapi jadi semacam ID card, dan setiap mereka akan menyetir itu harus ada pembukuannya. Ga seperti sekarang siapapun sok wae mangga.

Ini memang butuh kerja sama dari berbagai pihak, baik pemerintah, perusahaan, bahkan dari masyarakat sendiri. Pasti kan mana mau, si penumpang harus jalan dulu untuk nyampe ke ITB, karena si haltenya kejauhan. Dan ini memang perlu mental pembiasaan.. Kalau untuk Indonesia yang katanya terkenal dengan segala instan, mungkin butuh waktu untuk menjadi negara yang teratur seperti di Swedia, atau daerah Eropa lainnya.

Silahkan yang mau ngasih tanggapan pada saya yang tak tahu appa-apa ini..😀

Mari saling berdiskusi untuk mendapatkan wawasan yang lebih berisi..

2 thoughts on “Transportasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s