Liwet Tawa


Menerobos ingatan Ica delapan tahun silam. Banyak hal yang berbeda, semua beranjak dewasa. Wangi lembut angin berhembus, bau ilalang masih menusuk, harumnya ikan asin menambah nikmat untuk segera santap siang kala itu.

“Buruan bersihin daunna mpi”, pinta Ica.

“Nya, engke lah, da can mulai”, jawab Mpi sambil santai mengobrol dengan yang lainnya.

“Ih, lama pisan tah si Mpi mah mun dititah teh, moal dibere sok geura.” kata Esti menambahkan.

“Bae weh, haha”  jawabnya dengan penuh santai.

Sekelumit candaan yang selalu menyertai mereka tatkala mengerjakan tugas bersama. Mereka adalah teman sepermainan sejak duduk dibangku kelas 1 SMP. Ria, Esti, Hety, Neni, Iput, Kanti, Iyan, Mpi, Aji, Wilman, Henry, dan Ica.

Saat itu sedang berada di rumah Ica, dengan maksud sekalian ngerjain tugas sekalian makan siang bersama alias ngaliwet. Sambil menunggu sang mama Ica memasak, mereka bercanda dan mengobrol. Entah kapan mengerjakan tugasnya, yang ada hasilnya selalu sama, dikerjakan di rumah. Lhoo, tapi memang begitulah mereka, berkumpul dengan dalih mengerjakan tugas bersama tapi kahirnya hanya bercanda dan saling mengejek.

Hal yang paling Ica ingat adalah saat pertama kalinya mengenal yang namanya jatuh cinta atau sekedar hanya cinta monyet. Ada salah satu kawan Ica yang menyukai seorang laki-laki di kelasnya yang juga teman bermain kami yaitu Henry, dari sejak SD. Wuoow, pikir Ica, kok bisa, haha. Ica memang cukup polos dengan masalah ini, yang akhirnya Ica pun ikut-ikutan suka. Haha dasar labil. Pasti deh, cerita kita akan heboh dengan saling mengejek dan tertawa tawa.

Akhirnya saat makan siang pun tiba, semua mulai untuk makan, saat sedang makan. Tiba-tiba Mpi bercerita seperti ini.

“Eh, aku punya sebuah rahasia.” katanya dengan mulut penuh dengan nasi.

“Naon mpi?” jawab Iput. Yang lain kemudian bersiap untuk mendengarkan ceritanya yang biasanya kriuk seperti biasa.

“Tapi tong di beja-beja kasasaha nya, janji?”

“Nya lah, “ serentak menjawab.

“Sebenerna da… abdi teh…” Mpi berkata sambil berpacu dengan kunyahan timun di mulutnya.

“ah, lila mpi maneh mah” kata Aji.

Semua menunggu ceritanya dengan penuh penasaran.

“Jadi sabenerna, abdi teh da si Tsubasa yang ada di TV” sambil nyengir.

“Gubrak……” serentak menjawab dan semua hampir tertawa terbahak-bahak hingga memgang perut mereka karena menahan tawa.

“Ahaahaahahha… sugan teh, geus ditungguan, sugan teh rek nyarita anu penting…. hahahaha” kata Ria.

Semua pun tertawa sampai ada yang menyeburkan nasi ke mana-mana. haha😀

Begitulah mereka, selalu ada hal yang membuat mereka tertawa walaupun sungguh sangat tidak penting sekali…😀

Saat Ica mengingat kembali masa itu, sungguh masa yang dirindukan. Teman-temannya kini sudah lulus kuliah, bekerja, bahkan ada yang sudah punya anak 3. Saat pertemuan kembali yang dinantikan tak kunjung datang, hanya memori-memori yang teruntai dalam otak..

Have a nice holiday..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s