Just For Fun


Seringkali sahabat-sahabat saya bercerita tentang keinginannya untuk memulai sebuah keluarga kecil. Maklum, mungkin usia saat ini adalah usia yang memang sedang “trend” untuk sebuah pernikahan. Tak terkecuali saya. Haha.

Banyak yang bertanya, ‘ kamu kalau nikah pake CV ga?’, ‘CV nya kayak gimana?‘ dan beragam pertanyaan, yang membuat mereka pertanyaan, dengan cara yang berbeda dalam dunia saya saat ini. Padahal saya ga gitu-gitu amat da. Haha. Saya anaknya tidak terlalu terpaut dengan ‘rule’ tersebut. Tapi pada prinsipnya dengan cara yang benar dan di ridhai Allah. Mu pake CV kek atau cover letter sekalian hahaha.Jadi kalau masalah caranya ya, kalau menurut saya sih, yang penting tidak melanggar syariat Islam saja, dan ketika ada orang sholeh datang, pikirkan baik-baik sebelum ditolak, nanti menyesal. Asli nyesel banget deh kalau gitu.🙂 Hahaha.. Jangan sampai Anda mengalaminya. Karena penyesalan tak pernah datang duluan..

Kemudian pertanyaan lain yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal adalah, “orang-orang kek ‘kamu’ pernah suka sama cowok ga? (yang cowok suka sama cewek ga)?” Mereka bilangnya pake bahasa langit, “ikhwan-akhwat”, tapi saya bahasakan sesuai dengan bahasa pada umumnya yaa.

Jawaban saya hanya tersenyum dan tertawa, dan menahan tawa.. Hehe

Ini jawaban saya, jika ada yang merasa tersinggung saya mohon maaf yah.. :)) hanya sekedar bependapat saja.

“Saya, hanya manusia biasa. Tidak seteguh Fathimah yang mampu menyembunyikan rasa cintanya kepada ‘Ali bahkan terhadap syetan sekalipun. Kalau saya jawab saya tidak pernah suka sama orang, ah itu sangat bohong! Saya hanya seorang perempuan normal, jadi hormon ‘rasa suka saya’  juga berkembang dengan baik. Alhamdulillah.🙂 Itu adalah sebuah anugerah Allah yang sangat saya syukuri”

Saya pikir tidak masalah jika kita menyukai seseorang. Entah mengapa saya sering tersenyum ‘renyah’ kalau orang bilang saya mah ga akan suka sama orang. Sedih rasanya kalau saya tidak pernah suka dengan  orang. Kalau saya tidak suka dengan orang, bagaimana mungkin saya bisa berteman, ya tidak?? Hhehe

Nah, yang jadi masalah adalah ketika kita tidak mampu me-manage perasaan yang sering datang tidak pada waktu yang tepat. Kita semua kan tahu, ‘rasa’ itu datang tak pernah diundang. Tiba-tiba merangsek masuk dari setiap celah hati kita kan?

Mungkin yang akan terlihat berbeda bagia mereka yang sering-sering disebut ‘ikhwan-akhwat’ adalah cara menyikapinya. Dalam kamus kehidupan saya, ketika saya mulai memaknai cara menyikapinya, hanya ada dua caranya :

  1. Jika memang sudah mampu untuk memulai bahtera, ya sudah “Nikah” saja, tak perlu pacaran dulu setahun dua tahun. Kelamaan, keburu basi lhoo..  Nah, hal ini tentunya ketika kita sudah memiliki kecenderung terhadap seseorang, ya coba istikharah, ikhtiarkan, dan kuatkan hati. Kan pilihannya, Diterima atau Ditolak. That’s all..
  2. Jika memang belum mampu, yasudah minta dikuatkan kepada Allah, berpuasa dan perbanyak amalan sunnah lainnya, untuk menjaga hati kita.
  3. Ini poin bonussss.. Jangan lupa..Berdialoglah kepada Allah untuk semua hal yang ada dalam hatimu. Walaupun Allah memang tahu, tapi akan lebih menenangkan ketika semua tercurahkan kepadaNya bukan??

Itulah jawaban saya kepada teman saya yang bertanya. Ya, mungkin saya juga harus masih belajar banyak dari guru-guru peradaban. belajar dari Bunda Khadijah tentang keberaniannya mengungkapkan keinginan pada Rasulullah, Saya juga bukan Fathimah yang mampu mengelabui syetan atas rasa cintanya kepada ‘Ali. Saya bukan mereka, saya hanyalah saya yang berusaha meneladani mereka.

Jika anugrah itu membahagiakan
Maka cinta yang [katanya] merupakan anugrah dariNYA
Seharusnya juga membahagiakan
Namun adakalanya
Ada yang merasa tak bahagia dengan cinta
Atau janganlah terlalu dini menyebutnya cinta
Mari kita sebut saja sebuah rasa
Rasa yang berbeda
Yang [lagi-lagi katanya] menggetarkan jiwa
Aha
Mungkin memang belum saatnya
Rasa itu ada
Hingga diri merasa nista dengan rasa
Atau jangan-jangan rasa yang ada
Didominasi oleh nafsu sebagai manusia
Jika itu permasalahannya
Maka titipkanlah rasa pada SANG PENGUASA
Biarkan ia yang belum saatnya, bersamaNYA
Biarkan waktu yang kan menjawabnya
Hingga Dia mengembalikan rasa itu jika saatnya tiba
Wanita.. Wanita..
Slalu saja
Bermain dengan rasa
Maka mendekatlah padaNYA
Agar rasa yang belum saatnya
Tetap terjaga
Agar rasa yang ada
Tak membuat hati kecewa
Agar rasa yang dirasa
Tak membuat jauh dariNYA
Biarkanlah diri merasa nista dengan rasa
Jika ternyata nafsu tlah menunggangi ia yang belum saatnya
Hingga akhirnya membuat diri menangis pilu karenanya
Menangis karena menyadari bahwa dirinya masih rapuh ternyata
Masih perlu belajar bagaimana mengelola rasa yang belum saatnya
Ya Rabbana
Hamba titipkan rasa yang belum saatnya
Agar ia tetap suci terjaga
Hingga waktunya tiba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s