Sampaikan Rasa Lewat Dandelion


Sempurna sudah ia menyimpan rasa. Rasa yang hanya ia dan Tuhan yang tahu. Setiap hari wajah kuyunya hanya membatu ditimpa angin kesibukan. Tak ada lagi senyum dan tawa tampannya. Ia, yang kini diterpa kerinduan yang amat sangat akan seseorang yang pernah mengisi  hidupnya. Setiap hari hanya duduk diam, menunggu, dan menunggunya. Menunggu seseorang yang takkan pernah kembali menjadi miliknya. Kecuali Tuhan memberikan keajaiban padanya.

Mentari yang terbit hanya menandakan berlalunya hari kemarin, dan awal dari sebuah penantian panjangnya. Ia, selalu bertanya dalam kosakata yang hanya alam  yang mengerti. Bertatap muka dengan langit biru. Berceloteh dengan desahan angin yang menelisik  daun telinga. Setiap pagi ia  kumpulkan dandelion, dan dengan bahasa isyarat menuliskan perasaan yang tertumpuk dalam batinnya. Yang lama tertumpuk dan menjadi jamur yang mengisap seluruh  kehidupan inangnya.

Ia yang selalu menyendiri, ditemani alam raya yang telah menjadi keluarga baginya. Tak banyak yang dapat dikatakan oleh manusia sebangsanya. Ia hanya sendiri, dan tak pernah mau untuk ditemani.

Tak ada yang dilakukannya selain  duduk diam diatas batu dan meniupkan dandelion ke arah langit. Sambil berdoa, semoga dandelion mampu mengirimkan perasaan rindu itu..

Yang ia tahu bahwa dandelion yang terbang akan mampu memberikan harapan-harapan di masa yang akan datang, masa yang jauh, di tempat barunya saat ia terbawa angin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s