Kotak Biru untuk Qya


Semangat Pagi! Sambutku pada mentari pagi. Hari ini kulangkahkan kaki menjejak jalanan pagi yang sibuk beraktivitas. Kendaraan mulai memadati jalanan utama, terlihat nenek-nenek menggendong bakul jamu gendong tertatih menjajakannya kepada para penjual sayuran yang sibuk membereskan barang dagangan.

Aku melangkah perlahan menghindari cipratan lindi yang turun dari truk pengangkut sampah setiap pagi. Aku menyetop opelet dan menaikinya. Saat itu penumpang sedang penuh sesak, sehingga aku duduk di bangku artis alias bangku tambahan di bagian pintu opelet. Angin pagi berhembus menerpa wajahku dari luar opelet membuat jilbab ku terkembang tanggung. Suasana kotaku kini tak sesejuk dulu saat aku masih berkeliaran di padang ilalang. Nuansa sejuk tercampur asap kotor kendaraan dan pabrik.

Pagi ini sekolahku masih belum ramai, hanya nampak satu dua sepeda motor yang terparkir di halaman depan sekolah. Aku melangkah dengan penuh semangat setelah semalaman mengerjakan tugas Biologi.

“Haiiii, Qyaa. Pagiii !” seru Kiara dari arah lorong sekolah. Kiara emang selalu nyubuh untuk datang sekolah, sekalian mengantar kakanya yang kuliah di kampus sebelah.

“Hai, Ra.. semangat bener lo.. hehe” jawabku simpel.

“Harussss.. dong!” jawabnya penuh semangat.

Kami berjalan menuju ruang kelas yang persis berada di samping perpustakaan. Untuk itu aku  malas sekali untuk pergi ke kantin. Lebih asyik ngadem di perpus dibanding jalan ke kantin yang berdesakan hanya untuk makan. Jadilah setiap jam istirahat aku hanya menjadi kuncen perpus. Hehe.

Saat tiba di kelas hanya ada aku dan beberapa teman. Perlahan anak-anak sekelas mulai berdatangan menjelang bel masuk. Seperti biasa mepet jam masuk, para siswa berlari sekencang mungkin sebelum kunci pintu kelas terpampang rapi ditempatnya alias guru sudah masuk kelas. Pemandangan yang tidak pernah berubah selama 2 tahun terakhir aku bersekolah di sekolah ini. Haha. Lucu memang melihat wajah-wajah yang tersengal menahan nafas agar tiba tepat waktu di kelas. Bak pelari marathon yang telah berlari kencang untuk menuju garis finish.

“Aaaarrggghh, untung gue ga telat..” teriak Shuri yang memang kebiasaan datang telat.

“Kebiasaaan sih lo” jawab Ica sambil terkekeh. Aku dan Kiara pun tertawa sambil menimpuk Shuri dengan kertas. Lima menit lagi bel masuk akan berbunyi, tiba-tiba….

“Qy, ada titipan buat lo dari Evan” teriak Rezky membuat semua isi kelas menoleh.

“Hah? titipan? serius lhoo?” tanya Kiara kaget. Yang diteriakin malah bengong.

“Lah, kenapa pulak lo yang sewot sih Ra, kan buat Qya bukan buat lo. Iddih.” Rezky sibuk menjawab pertanyaan Kiara sambil berjalan menghampiri meja Qya yang tengah terbengong-bengong tak percaya.

“Ini beneran buat gue, Rez??” tanya Qya tak percaya.

“Iyeee, masa buat gue. hehe “

Semua teman sekelas Qya mulai menggoda, “cieee-cieee, Qya sama Evan. Adeuuuh. Mau dikemanain si Lita?”. “Wow, gila lo Qy, bisa ngelibas temen lo sendiri”. Yang ditanya masih bengong dengan kantong kertas didepannya.

Tengtengtengteng.. Bel masuk berbunyi. Semua kembali ke tempat duduk. Sibuk merapikan meja masing-masing menunggu guru tercinta memasuki kelas. Tapi tak begitu dengan Qya, yang sibuk bertanya “Kenapa?”. Shuri, Kiara, dan Ica masih saling menimpali pelan dengan kejadian beberapa menit lalu sambil sibuk membuka buku dan mencoretinya dengan gosip beberapa menit yang lalu.

Hingga pelajaran pertama dan kedua usai, Qya tetap bergeming dengan jawaban “kenapanya”. Pikirnya mulai melayang-layang, kenapa Evan memberikan ini. Katanya juga ini miliknya paling berharga. Kenapa aku yang harus mendapatkannya. Bukankah semua orang tahu bahwa dia menyukai Lita. Salah satu temanku yang sekelas dengan dia? Ah apaaan ini.  Pikirnya tak mampu untuk mendapatkan jawab. Qya tetap tutup mulut walaupun seharian dia direcoki ketiga sahabatnya.

“Aku harus bertanya sendiri sama Evan. Ga ada jalan lain.” Qya membatin. Selepas makan malam, Qya mencoba menelpon handphone Evan. Dua kali menekan tombol panggil namun yang di seberang tak juga menjawab. Qya menunggu beberpa menit. mungkin dia sedang makan malam bersama dengan keluarganya. Selang 10 menit barulah HP tersebut pun dijawab pemiliknya.

“Van, ini gue Qya. Gue mau tanya, maksud lo ngasih gue ini apa yha?” tanya Qya tanpa basa-basi.

“Hmmm.. Gue pengen ngasih lo sesuatu aja Qy.” jawab Evan simpel.

“Maksudnya? Gue nggak ngerti dengan ucapan pengen ngasih gue sesuatu. Aneh aja gue dapet ini dari lo Van, kita kan cuma temenan satu Ekskul doang gitu.”

“Haha, ya gue pengen aja. haha”

“Ya, nggak bisa gitu dong. Alasan yang lebih realistis dikit dong. Gue juga kan ga gitu temenan baik sama lo. Tiba-tiba lo ngasihin sesuatu yang paling berharga bagi lo sama gue. Aneh aja buat gue. Biasanya kan cowok ngaish sesuatu yang berharga itu ke temen spesialnya gitu lho. Gue nggak pengen aja ngebuat orang lain gimana gitu sama gue.” Qya nyerocos tanpa jeda.

“Hahahhahaha.. Ini yang paling gue suka dari lo Qy.” Evan hanya tertawa renyah mendengar celotehan Qya.

Qya makin tidak mengerti dengan ucapan Evan. Di mata Qya Evan hanya seorang teman satu Ekskul tak lebih. Walaupun Qya tak memungkiri kalau Evan termasuk di salah satu deretan “Good Looking Boy” di sekolah. Saat  puncak kekesalan sudah menaikin ubun-ubun level 4, Qya berniat untuk memutuskan percakapan, daripada diperpanjang yang membuat semua moodnya hancur lebur. Tiba-tiba Evan mengatakan sesuatu yang membuat Qya lebih banyak bertanya kenapa.

“Soalnya di mata gue lo spesial Qy. Lo beda sama cewek-cewek lainnya. Lo tuh unik. Gue belum pernah ketemu sama cewek kayak lo.” Evan mulai serius berbicara.

Seluruh persendian Qya lemas. Untuk pertama kalinya seumur hidupnya ada cowok yang bilang dia beda dari yang lain. Haha. “Pasti gue salah denger” sergah Qya pada dirinya.

“Haha, lo jangan becanda sama hati cewek, Van. Bahaya.” sambung Qya.

“Tapi itu yang gue tahu tentang lo Qy” jawab Evan pendek.

Qya semakin bingung. “Okelah, terserah lo aja deh Van” putus Qya mengakhiri pembicaraan.

Selama malam, Qya hanya tertawa-tawa mendengar dan mengingat kata-kata Evan. Bisa juga di gombal. Tapi tenang gue ga boleh jatuh sama perangkapnya. Itulah tekad Qya, Pantang Jatuh pada Cowok Gombal macam itu! Dengan berusaha keras untuk tidak memikirkan kejadian tersebut, Qya tetap beraktivitas seolah-olah tak ada yang terjadi. Menyapa dan mengobrol seperti biasanya. Seminggu kemudian tersiar kabar bahwa Evan pergi bersama Lita. Hem.. Awalnya Qya kesal sih.

“Tapi memang sudah bisa ditebak kalau dia akan lebih memilih Lita dibanding gue. Walaupun mulut manisnya sempat membuat ku terbang melayang. Haha dasar gombal maniaa..” hatinya menenangkan.

Bagi Qya, dikasih coklat dan kota biru yang isinya entah apa selalu dijadikan kisah cantik miliknya yang mungkin akan terkenang di masa mendatang. Hingga 3 tahun kemudian, Qya baru membuka kotak biru tersebut. Betapa kaget Qya saaat membukanya, di lura dugaan sungguh.

Qya hanya tertawa melihatnya.. Beribu pertanyaan membenak dalam pikirannya.. “Kenapa? Kenapa harus barang ini?”

“Saking berbedanyakah aku dengan perempuan lain?? Sebegitu unik dan aneh kah diriku? Haha” batinnya tersenyum geli.

Hingga kini, kata-kata si pemilik kotak biru masih tak terjawab di benak Qya.

Perempuan memang indah dipandang mata, kendatipun menurutnya tak indah..🙂
Maka bersyukurlah dengan anugerahmu, dan jagalah dengan baik. Bagai sebuah berlian konflik yang berasal dari Africa. Banyak diburu manusia..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s