Ga punya, emang kenapa?


Ditengah riuh rendah suara kerupuk yang digigit para penikmat prasmanan siang, saya sedang duduk menikmati ayam goreng dan sambal. Tiba-tiba….

“Masya, kamu punya celana ga?”

Untung saya tak tersedak mendengar pertanyaan senior saya itu. Kaget bin bingung dengan pertanyaannya. Hanya menjawab menerka maksud dari tanya itu.

“Hah, emang kenapa pak? Ga punya.. hehe..” sambil tetap melahap kerupuk.

“Nggak, kamu pake rok terus sih, nanti kalau survey-survey susah. Mendingan pakai celana ajah.” gumamnya sambil menyantap ikan di piringnya.

“Ah, masa pak? Gapapalah pak, sudah resiko jadi anak teknik. Jadi saya tanggung sendiri. Toh kalau survey paling banter ke TPA, ga akan disuruh turun ke sumur bor atau ke septic tank kan? Hehe. Nyantai pak, nanti kalau survey bareng bapak, ga akan saya minta buat megangin ujung rok saya pak.” gaya gue yakin banget ngomong gini sambil terkekeh, astaghfirullahal’adzhim..

“Ya, kali gaun pesta yang digotong panjang bermeter2 di pegangin.. haha” celetuk salah satu senior saya yang lain.

“Bukan gitu. dulu juga si Teh Ina (bukan nama sebenarnya, hehe) selalu pakai rok, lama-lama mah, pakai celana sekarang juga” jawabnya sambil menutup hidangan di piring dengan memasukkannya ke wastafel.

“Belum merasakan we meureun pak” Teh Ina ikut nimbrung.

Saat itu saya hanya mendengarkan saja sambil tetap asyik menyantap nasi bersayur asam bertempe bertahu dan ber-ayam goreng plus sambal tak lupa kerupuk..

Dilematis memang ketika berhadapan dengan dunia keteknikan sesungguhnya. Naik ke tempat tinggi atau bahkan turun ke lembah terdalam. Anak TL slogannya cem iklan sabun, “berani kotor itu baik”. Dulu mungkin ngambil sampah pakai kresek, sekarang pakai tangan juga jadi (sampahnya apa dulu tapiii.. hehe). Kalau sudah survey ke pedalaman memang agak sulit sih ribet katanya pakai rok. Tapi setelah saya alami sendiri selama ekskursi di Kalimantan, ternyata ga seribet yang saya bayangkan atau yang orang bilang. Secara K3 mungkin kalau didaerah industri cem NLG atau Pertamina agak rawan kali yha pakai rok, nanti nyangkut-nyangkut di pipa, terus klep kerannya ketarik rok, dan menimbulkan kebocoran apa gitu (*imajinasi saya doang sih). Makanya safety inductionnya pakai celana overall plus helmet.

Nah, kalau survey drainase, TPA, IPAL, atau IPLT. Saya pikir ga akan ribet kalaupun pakai rok. Toh naik gunung saja saya pakai rok kok. Bisa tuh pulang dengan kaki bengkak dan esoknya tak bisa jalan. Naik gunung yang manjat tebing, turun tebing, ngolongin pohon tumbang, atau harus cem main perosotan saking licinnya aja saya bisa pakai rok. Nah ini, saya survey naik pesawat, mobil sewaan, jalan kaki keliling masa harus pakai celana demi keefektifan. Kalau bilang pakai rok melambatkan jalan, Anda salah besar, bahkan saya selalu paling cepat kalau jalan dengan kawan-kawan saya yang pakai celana. Jadi ini yang salah pakai roknya atau orangnya. Tergantung orangnya kan??? :p

Jika kita meniatkan nya untuk kebaikan demi menjalankan perintah Tuhan mencoba menutup aurat dengan benar, inshaAllah, apapun akan dimudahkan teman-teman. So, jangan bilang pakai rok susah jalan. Yaiyalah susah jalan wong yang dipakai rok “sepan” alias “gejet” cem sinjang putri Solo atau putri Sunda. Jadi pilihlah rok yang lebar yang memudahkan pergerakan. Sekarang banyak kok desain yang lebar nan cantik. Ga usah khawatirr…

Be stylish keep syar’i..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s