Bulan, Apa Betul Kau Sulit Dilihat?


oleh Taufiq Ismail
(dibacakan di Masjid Salman ITB pada Ramadhan 1429)

Kelihatan tak kelihatan
Bulan terus meluncur di garis pelayangan
Berabad-abad dalam peredaran
Sangat patuhnya tak ada penyimpangan

Berlayar di angkasa berdua dengan matahari
Jadwal tanpa selisih sepersepuluh detik pun selama ini
Yang satu menyiramkan cahaya, yang lain membuat indah bumi
Bergilir siang dan malam tanpa saling mendahului

Berlayar di angkasa berziliun dengan bintang galaksi raya
Lihat mereka tawaf sangat teratur di alam semesta
Beredar amat cantiknya dengan logika matematika
Dalam disiplin dingin dan jelasnya ritma

Seorang anak tiga belas tahun di bulan Sya`ban
Menjelang suatu magrib berseru kepada bulan
“Rembulan, adakah lagi teka-teki yang akan kau suguhkan
Tentang hari apa gerangan, awal dan akhir Ramadhan?”

Anak itu memasang teleskop ketika rembulan melihat ke bumi
Di kalbunya sedang tumbuh iman, di otaknya ilmu astronomi
“Anak muda, saya tak pernah suka berteka-teki
Saya dapat perintah berlayar, arah sampai detikku sangat pasti.”

Kelihatan tak kelihatan
Bulan terus meluncur di garis pelayangan
Berpuluh abad dalam peredaran
Sangat patuhnya tak ada penyimpangan

Anak itu mengatur lensa lalu mengintip bintang-gemintang
Kemudian dengan bulan terus berdiskusi
“Rembulan, kenapa ketika harus terbit sebagai sabit
Kamu sesekali tak nampak, apakah bersembunyi?”

Bulan tertawa di atas sana, hampir saja nampak giginya
“Di langit kok sembunyi, bagaimana ini
Setiap tanggal satu saya selalu melapor tepat di tempat
Dan swear, melanggar perintah saya takut sekali.”

Kelihatan tak kelihatan
Bulan terus meluncur di garis pelayangan
Beratus abad dalam peredaran
Sangat patuhnya tak ada penyimpangan

Sang anak mengamati catatannya, angka-angka astronomi
Melalui lensa ruang angkasa malam hari dia amati
“Tapi kenapa terkadang bentuk sabitmu tak kelihatan
Wahai rembulan yang dinanti-nantikan?”

“Kecil sekali bentukku sebagai sabit, terbit di kaki langit
Sudutnya sangat rendah dan bila langit tak cerah
Misalkan ada kabut selayang dan awan secercah
Wajah sabitku saat itu jadi tertutuplah.”

Kelihatan tak kelihatan
Bulan terus meluncur di garis pelayangan
Beribu abad dalam peredaran
Sangat patuhnya tak ada penyimpangan 

Sang Al-Biruni kecil tetap saja penasaran
Dia masih juga mengajukan pertanyaan
“Apakah terdapat perbedaan situasi
Cakrawala empat belas abad lalu dengan kini?”

“Tentu saja keadaannya berbeda sekali
Dahulu langit sangat jernih tak ada cemar polusi
Seimbang luar biasa secara fisika dan kimiawi
Paling-paling sesekali awan dan kabut tebal melapisi
Kini berjuta pabrik dan kendaraan memuntahkan emisi
Ratusan jenis gas limbah jadi tabir menghalangi
Terapung-apung di atas kulit bumi
Kaki langit tidak sebersih dahulu lagi
Seperti ada selaput tipis menabiri
Sehingga terhalang pandang bulan sabit pertama hari
Itulah yang kamu kira saya tak menampakkan diri.”

Kelihatan tak kelihatan
Bulan terus meluncur di garis pelayangan
Berpuluh ribu abad dalam peredaran
Sangat patuhnya tak ada penyimpangan

“Terima kasih rembulan, menarik benar diskusi ini,”
Ujar sang cendekia muda di ujung teropong bintangnya
“Banyak soal jadi jelas sekarang bagi saya, makasih ya
Sekarang apa rencanamu, wahai rembulanku?”

Rembulan yang bijak itu tersenyum kini
“Wah, kamu meledek saya, anak bumi
Tentu saja saya terus melayang tak henti-henti
Berdua dengan sejoli saya sang matahari
Berziliun dengan gemintang raya di galaksi
Di garis edar yang ditentukan Maha Pencipta Semesta ini
Di setiap titik ruang angkasa jadwal kami sudah pasti
Bermilyar kilometer berjuta tahun cahaya kami jalani
Tidak ada kosakata berhenti bagi kami
Kecuali bila datang perintah dari Yang Maha Tinggi
‘Berhenti!’
Dan kiamat pun jadi.”

“Rembulan! Tunggu!
Jadi kalau kiamat nanti
Kamu tidak ada lagi?”

“Tidak ada, anak bumi, tidak ada lagi
Masa dinas saya selesai sudah, kita tak ketemu lagi
Karena itu, puas-puaskan melihat wajah saya ini
Tulislah agak sebaris puisi
Dah-daah, anak bumi!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s