Gembala Sapi Di Airport


Gorontalo (Antara) – Pilot pesawat Lion Air yang tergelincir di Bandara Jalaluddin Gorontalo, Iwan Permadi, mengaku dirinya mengira ada anjing di landasan bandara ini. 

“Ternyata itu adalah tiga ekor sapi yang sedang melintas di tengah landasan, ketika prosedur mendarat telah dijalankan,” ujar dia, di Gorontalo, Rabu dini hari. Detail article.

Baru saja saya membaca sebuah artikel di laman Yahoo. Hal ini membuat saya tertawa miris. Ini kedua kalinya saya mengetahui ada “Sapi Panggang” di landasan pesawat di Airport. Beberapa minggu yang lalu kolega saya bercerita saat saya mengunjungi Kabupaten Merauke, perihal mengapa pihak Garuda Airlines menghentikan penerbangannya ke Bandara Mopah Merauke.

Alasannya persis sama dengan apa yang terjadi pada pesawat Lion Air diatas pekan ini. Saya lupa waktu persis dari peristiwa Garuda tersebut, rasanya masih sekitar tahun 2000-an sekian. Yang jelas, suatu kali, saat pesawat Garuda akan mendarat, terdengar suara buum (begitulah sang pencerita berkata, wkwk) dan tercium bau “daging asap”. Haha

Saat mendengarnya saya tertawa, membayangkan bagaimana wanginya daging terpanggang. ehmm.. yummy.. Tapi kali ini tidak yummy sama sekali, kawan. Beruntung saat itu tidak terjadi kecelakaan fatal, karena Sapi yang ingin segera dikurbankan itu, tepat mengenai baling-baling pesawat dan tercincang hingga terbakar, namun tidak sampai membuat kecelakaan. Panik mungkin ya, karena dengan suara ledakan cukup keras dan wangi asap daging. 

Dan saat dilakukan pengecekan, ternyata ada sapi yang sudah terbakar dengan darah bercecer dimana-mana. Dari sana, maka pihak Garuda menghentikan aktivitas penerbangan ke Bandara Mopah. Karena, kerusakan akibat insiden tersebut cukup menyita biaya yang cukup besar, beruntung tidak terjadi kecelakaan yang menelan korban.

Dan baru saja pekan ini, kejadian serupa terjadi di bandara Jalaludin Gorontalo. Wow, lucky me because i never experienced in these incident, when I landed at Gorontalo or Merauke airport. Alhamdulillah. Hehe. Tapi tetap saja, sangat menyayangkan bahwa pihak pengelola bandara tidak melakukan pengamanan terhadap area bandara.

Selama saya mengunjungi daerah-daerah seperti Aceh, Bengkulu, Sumatera barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Gorontalo, NTB, dan Papua saya selalu melihat hewan ternak berbondong-bondong di area umum. Ya, mungkin tidak di kota secara langsung ya, hanya di daerah-daerah yang sedikit lebih ‘belakang’ dari kota besar.

Saya pernah cerita ketika perjalanan menujua Kabupaten Bener Meriah dan Gayo Lues 2 bulan yang lalu, ketika di jalanan harus berhenti mendadak bukan karena ada polisi tidur atau jalanan rusak, tapi ada sapi yang sedang berjemur santai di tengah jalan. Hal ini jika pengemudi tidak hati-hati mungkin bisa saja terjadi kecelakaan. Yang lebih aneh, pernah suatu kali supir saya di Merauke bercerita, bahwa jika ada sapi yang terlindas di jalanan, saat ditanyai ini milik siapa, tidak ada satu pun penduduk yang mau bertanggung jawab. -_-”

Haha, memang nya ini kawanan sapi tak ada pemiliknya? Wah padahal jika mereka tahu harga sapi di Bandung, ini orang-orang bisa kaya mendadak loh. Jumlah sapi yang sering saya lihat dijalanan di daerah-daerah itu tidak hanya 1 atau 2 ekor saja, tapi jumlahnya bisa mencapai belasan. Ah, jadi ngegosipin sapi gini. Balik lagi ke topik ya.

Kalau kasus di Merauke, memang saat saya menyusuri landasan pesawat hingga paling ujung (kebetulan lokasi saya survey melewati sepanjang area airport Mopah) tidak dibuat pengaman barang pagar kawat sekalipun. Sehingga, ya itu sapi-sapi yang gemuk gemuk itu dengan bebas main-main di area landasan. Nah, kalau bandara di Gorontalo sih rasanya sudah menggunakan pagar kawat walaupun tidak begitu tinggi sih. Tapi tetap saja menunjukkan kurangnya pengawasan dari pihak pengelola.

Jadi kesimpulannya adalah :

  1. Pihak pengelola bandara sebaiknya melakukan pengawasan, penertiban, pengelolaan area bandara, dalam hal ini adalah Angkasa Pura bukan sih? (loh malah nanya.. Haha). Intinya, itu bagian HSE nya gimana coba? *esmosis*. Karena jika sang pilot sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengatur keselamatan penerbangan dari take – off hingga landing, jika tidak ditunjang oleh keamanan dari pihak pengelola bandara sih, sama aja kan? Kemungkinan bisa menimbulkan accident.
  2. Adakah pihak Pemda setempat membuat regulasi untuk “tidak menggembala hewan ternak di area umum” ? Karena itu mengganggu aktivitas umum. Seperti beberapa kali saya dengar saat berkunjung ke daerah daerah yang sedang merangkak bertumbuh kembang, adanya kecelakaan akibat hewan ternak. Oh Please Deh. Haha. Dan saat ditanyai terkait kepemilikannya, tak ada yang mau mengakui perihal si “hewan malang” tersebut.

Wah, kita harus banyak – banyak belajar yha. Terutama di daerah – daerah Indonesia yang belum semrawut seperti kota-kota di Jawa. Hehe. Betapa pentingnya, Safety procedure dalam segala hal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s