My January


In the rain, the pavement shines like silver
All the lights are misty in the river
In the darkness, the trees are full of starlight
And all I see is him and me forever and forever

And I know it’s only in my mind
That I’m talking to myself and not to him
And although I know that he is blind
Still I say, there’s a way for us

===On My Own (Les Miserables) tiba tiba suka dengerin ini.. hahaha

Semua orang yang kutanyakan berkata ‘Sudah, berhentilah!’, ‘Sudah, lupakanlah!’, ‘Sudah, itu tidak mungkin, cari peluang yang lain saja!’. Sigh.. Even if you know what I feel. I tried many times, to stop, but still I can’t. Anyone can help me? No, no one can. What I am afraid the most is wasting time. I am afraid, i have wasted all my time in something i don’t even know the possibility. How should I do, My Lord? I get stuck in this thing. Aaagh…

Tapi saya tidak akan menceritakan prolog sebuah kisah diatas. Haha. Nah ini cerita tentang yang namanya cashflow atau bahasa kerennya arus kas. Tumben-tumbenan banget saya ngomongin ekonomi padahal paling nggak mudeng sama ekonomi. Kalau konstruksi TPA sih gue sikat, ini tunggu dulu, kudu belajar dulu. hahaha.

Awalnya saya tipikal orang yang sudahlah, malas banget pembukuan kek begini, jadi misal gue punya uang 5 juta, 3 juta di tabung, 1 juta buat ongkos, 1 juta buat cemilan (mahal amat ya, hahaha) dan kebutuhan darurat saat susah nyari atm. Tapi entah kenapa, bulan kemaren, iseng bikin pembukuan.

Semua cash in – out saya rinci tuh, dari yang cuma 1000 perak buat bayar toilet ampe yang 3 juta. Dan jreng.. jreng.. maluuu banget. Awas jadi saudara syaithan. Ini pengeluaran yang terbukukan (mungkin dulu bisa nyampe segitu sih ya, tapi kagak nyadar tea). Rp. 4.099.xxx ga inget lengkapnya. Tapi nilai ini tanpa gue beli gadget loh.. Hadeuh..

Wuoo menurut gue fantastis banget, itu dua kali gaji pokok gue. Astaghfirullah.. Haha.. Padahal gue masih single. Walaupun rata2 gue 1,5jt/bulan lah ya. Bahkan kalau lagi sering keluar kota, bisa kurang dari 500rb/bulan. Jadi inget emak gue, kamu itu harus hemat, jangan boros, nanti suami kamu susah nyari uang (*kenapa gue yg pusing, itu sih urusannya. Kalau ga sanggup kenapa nikah sama gue.* -> egois.. wkwkwk). Tapi alhamdulillahnya, pemasukan masih bisa nabung setara itulah, *sujud syukur*. Hahaha.

Bener banget ya, pengeluaran itu berbanding lurus dengan pemasukan. Pas pemasukan gue yang rata-rata, gue bisa hemat, tapi pas pemasukan gue jauh diatas rata2 eh, pengeluaran juga jauh diatas rata-rata. Ah pusssing… Bulan-bulan depan harus hemat! Walaupun sudah pasti akan keluar uang yang lebih fantastis lagi. Dan pengeluaran bulan ini ditaksir akan lebih dari lima juta. Hikshikshiks.. Aduuuh.. Sehat itu emang mahal beut dah.

Nah, jadi kesimpulannya, penting banget ya bikin cashflow. Neraca pemasukan dan pengeluaran kamu rapi, terus kalau mau bayar-bayar zakat juga jelas nilainya, enggak dikira-kira. Soalnya kadang banyak pemasukan yang saya dapet nggak pas gajian. Tapi masih dalam kategori usaha yang sama (dari kantor gue maksudnya). Dan ketahuan gue beli apa aja yang penting dan ga penting. Haha.

Ayo hemat, karena pemboros itu saudara syaithan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s