Let’s Meet First and We Talk Later


Hampir dua tahun berlalu, tapi aku belum melangkah satu langkah pun dari posisiku. Ah, rasanya aku sangat bodoh. Dua bulan yang lalu, seseorang berkata ‘bahwa aku terlalu kasar, untuk seorang perempuan sepertiku’. Haha. Bodohnya aku menangis. Aku berlalu tanpa menghiraukan kekhawatiran dia yang begitu peduli terhadapku. Aku berpikir, ‘Siapa kamu? You know nothing about me. And why do you care so much about everything in my life? Why do you always ask those hard questions?’. Aku masih menangis, dan perasaanku melebihi kapasitas yang seharusnya hingga selalu mengalahkan pikiranku. Dia yang selalu berkata baik, yang selalu taat dengan keIslamannya, yang selalu mengingatkanku untuk menjaga kesehatanku, yang selalu mengingatkanku untuk peduli dengan orang-orang disekitarku, yang selalu bercerita tentang apapun, tentang kekhawatirannya, tentang keluarganya, tentang pelajarannya untuk bisa mengaji, tentang keinginannya untuk bisa pergi ke tanah Suci, tentang dia dan tentang aku. Dia yang terpisah jarak dan waktu yang membuatku terkagum dengan kisah hidupnya. Yang membuatku menanyakan kepada diri sendiri, seberapa dekat aku dengan Tuhanku?

Dia yang sudah berkali-kali menanyakan sesuatu yang membuatku berpikir jauh, melakukan yang bahkan diluar kebiasaanku, dan bahkan membuat orang heran dengan hal tersebut. Dia yang bisa membuatku tertawa, tersenyum, terharu, dan bahkan menangis. Dia yang terkadang terlalu kekanakan untuk ukuran usianya. Dia yang bisa membuatku masih tetap menunggu untuk sesuatu yang bahkan aku tak tahu apa yang kutunggu. Menghabiskan masa mudaku dengan memperbaiki diri. Ah, tak patut aku berkata seperti ini, karena aku masih saja berada di dasar.

Semua terdekatku berkata untuk berhenti, bangkitlah, dan raih mimpimu. Aku tahu pun mereka begitu mempedulikanku. Tapi bolehkah aku menunggu sedikit waktu lagi. Biarkan aku meraih mimpiku dengan caraku. Mungkin aku menunggu dia yang tak pasti. Tapi aku belajar untuk menghargai waktu, bahwa segala sesuatu memang memiliki waktu yang tepat. Aku akui, aku jatuh dalam jurang yang tak berdasar. Aku menggantung, belum kutemi dasar jurang itu, pun belum kulihat cahaya diatas sana.

Aku teruskan untuk tetap menunggu, walaupun aku lelah. Berkali – kali aku putuskan, tell it or end it! Aku sudah mengatakannya. Dan kelegaan yang luar biasa setelah penantian yang begitu panjang. Sebenarnya aku masih belum tahu, yang terbaikkah ini? Untuk ku, untuk masa depanku, untuk keluargaku, untuk agamaku, dan orang-orang di sekitarku. Aku berkali-kali bertanya kenapa aku harus mengenalmu? Berbagai alasan kukemukakan, tapi tak satupun memuaskanku, kecuali alasan bahwa itu adalah takdir yang Kuasa. Dan berkali-kali aku bertanya pada diri sendiri, apa yang membuatku begitu mengagumimu? Jika kubandingkan dengan semua teman-temanku disini, kau bagaikan seorang siswa SMA yang baru belajar apa itu Islam. Aku selalu tertawa, aku mengagumi sosok siswa SMA. Tapi aku mengakuinya, aku mengaggumi setiap cerita yang kau katakan padaku. Ah, untuk pertama kalinya seumur hidup. Dan aku tak tahu inikah ujian ataukah hadiah?

Suatu kali kau bertanya padaku, ‘Hal apa yang paling mengesalkanmu?’. Aku menjawabnya “Kamu”. Kau tahu saat itu aku bersungguh-sungguh mengatakannya. Tapi aku tak tahu bagaimana tanggapanmu. Hingga aku melanjutkan, ‘Hal yang paling menyebalkanku adalah perasaan”. Dan kau hanya tersenyum.

Begitu lama aku menghardik diri, sejak aku mengenalmu. Aku selalu berusaha untuk melupakan hal yang paling mengesalkanku dan yang paling sulit kutangani. Aku bisa menangani untuk menyelesaikan beberapa laporan bahasa inggris dalam satu malam. Tapi aku kalah untuk menangani perasaanku. Aku selalu mengatakan pada diri sendiri, ‘Jangan pernah kau nodai hatimu dengan perasaan yang tak jelas, yang tak halal’. Tapi aku selalu kalah, ditertawakan ribuan syetan yang berhasil menghancurkan pertahananku. Aku selalu menangis, aku kesal pada diriku sendiri. Aku kalah, kalah oleh perasaanku sendiri.

Tapi setitik rasa syukurku karenanya aku selalu menemui Tuhanku. Dengan malu, aku bercerita padaNya. Betapa bodoh dan hinanya diriku. Bahkan aku sungguh tak pantas untuk menikmati wanginya surgaMu.

Sering aku kelelahan, mencari cara untuk bisa melepaskanmu. Tapi aku belum mampu. Kuhabiskan waktuku untuk mengerjakan banyak pekerjaan hanya untuk bisa lepas dari perasaan yang mengurung kebebasanku sendiri. Kau tahu, tubuhku mulai menunjukan betapa aku lelah. Aku selalu berpikir, bagaimana caranya menghapus memoriku ini. Mungkin kau tak akan pernah bisa membaca perasaanku. Tapi aku tidak menyalahkanmu. Aku tetap mengagumimu dari jauh, dari batas cakrawala ruang hatiku.

Suatu kali temanku bertanya, ‘Apa yang membuatmu mengagumi sosok sepertinya?’ . Aku tahu, dia seseorang yang sangat biasa, tapi semangat  memperbaiki diri selalu terlihat dalam setiap cerita yang terlontar, beberapa hal aku dan dia memiliki selera dan cita yang sama, walaupun perbedayaan budaya dan sosial kami sangat jauh. Sehingga terkadang, dia selalu serius dengan setiap candaanku, yang kulakukan di sini begitu lumrah. Tapi dia menanggapiku dengan serius, hingga suatu kali aku dikatakannya ‘sarkastis’, dan dia bilang, ‘pasti ada sesuatu hal yang terjadi denganmu dan aku sangat mengkhawatirkanmu’.

Kau memang tak tahu bagaimana perasaaanku, karena hatiku tak transparan. Aku pun tak tahu bagaimana perasaanmu. Karena kau selalu berhati – hati dalam setiap kalimat-kalimatmu, kau tak pernah bercanda dalam setiap tulisanmu. Dan sering kali kau tidak pernah menjawab ya atau tidak. Hingga membuatku bimbang dengan pernyataan yang kau lontarkan. Aku selalu protes, tapi kau selalu menertawakanku. Padahal kau selalu marah, jika aku berkata, “Nothing, forget it!”. You told me, “Never say that again, because i want to know”.

Yesterday, you told me, you have bussiness here. I was so happy, it means i can meet you. But I can’t do that. I shouldn’t, should I? It was true that I was happy, but it hurted me alot in the same time. If i meet you, I am afraid I’ll kill myself. I’ll kill myself with the long wait of nothing. Do I dare to wait for a longer time?

Inginku menghentikan semua ini, menghancurkannya, sama seperti mimpi-mimpi yang kumiliki sebelum aku mengenalmu. But, I won’t give up on us, even if the sky gets rough. Don’t tell me to give it up. I’ve just started. Wait a moment, wait just a little while. Wait till I can see the white light or the black light. I am looking forward to what you told me yesterday, “Let’s meet first, and we talk later”.

Chilling February..

11 thoughts on “Let’s Meet First and We Talk Later

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s