Nge-Trek


Yuk balapan berenang ama kebo :))

Yuk balapan berenang ama kebo :))

The day I first met you, you told me never fallen in love, But now that I get you. I know fear is what it really was. Now here we are, so close. Yet so far…. Haven’t I passed the test? When will you realize??? Let me give your heart a break. Now you’re just somebody that I used to know.

*lalalalalala

Bade uih, kapeugat hujan. Bade ngagambar, haroream. Bade ngerjakeun laporan, otakna tos teu tiasa diajak lumpat. Eh, janten malah nulis di dieu. Kaleureusan nembe survey ti palih lebak Kota Bandung. Nyaeta ka Karyalaksana sareung Cipeujeuh sareng Sukarame di Kabupaten Bandung. Ningal kampung sunda buhun, aya walungan, sawah, sareung kebon.

Oke, kembali ke bahasa gaul. Desa tersebut diatas merupakan sasaran kegiatan proyek yang tengah saya kerjakan di Bandung. Lokasinya cukup mudah diakses oleh kendaraan roda empat dengan kondisi jalan cukup bagus, walaupun masih bolong sana sini. Tapi untuk ukuran sebuah desa sih lumayan, ya.

Lokasi yang disurvey macem-macem, ada tengah perkampungan padat, di legok sawah, di pinggir jurang. Lumayan turun naik bukit, menurunkan berat badan. Haha. Di sepanjang jalan yang dilewati, terlihat masih banyak tipikal rumah perdesaan. Rumah panggung dari bilik, dimana MCK selalu terpisah dengan rumah induk.

Jika dibandingkan dengan daerah urban, jelas berbeda lah ya. Haha

Disini masih bisa dilihat rumah panggung sederhana yang dihuni rata-rata sepasang kakek nenek yang telah lansia. Tapi yang lebih bikin saya merasa mereka keren adalah ketika kakek nenek yang sudah sepuh ini menghibahkan sepetak lahan demi kepentingan hajat hidup orang banyak (tsah, bahasana). Itu keren banget loh yha. Hiks. Terharu. Padahal ya, kalau diitung-itung kalau dijual, uang nya bisa renovasi rumah panggungnya yang sudah mulai goyang disana-sini.

Itu sekelumit hal yang saya temukan disalah satu titik lokasi survey. Hahaha. Keren deh, pokoknya semoga amalnya berkah dan memberikan kebaikan baginya dan bagi lingkungan sekitar kakek nenek ini🙂

Selanjutnya, fakta bahwa sekecil apapun, sereyot apapun, walaupun cuma bilik dari triplek, dengan kondisi atap nyaris rubuh sebuah rumah pasti ada TV. Bahkan di rumah gue ga ada TV. Wah, saya “merasa kalah”. Haha. Nggak juga ding.

Terus disana masih ditemukan ayunan dari kain sinjang yang diikat ke plafon pintu atau tulangan kayu penyangga atap. Berasa zaman gue kecil, diayun2 di samping. huhu. Remind me of my childhood.

Anak- anak masih main di saluran irigasi, sungai, bareng – bareng sama kerbau. Haha. Berendam. Ibu – ibu masih nyuci di anak – anak sungai Citarum. Kakek petani yang masih bugar membawa jerigen air dari sumur berjarak puluhan meter demi memenuhi kebutuhan air untuk keluarganya. Huhu

Wiiii.. So sweet deh. Udah lama tak jalan – jalan tracking sawah kebon cem zaman kuliah… Tapi ternyata nyampe rumah tepar, gegara baru makan jam 5 sore dari pagi banget.

Kurangnya adalah di desa nggak ada warung nasi yang enak… T.T

2 thoughts on “Nge-Trek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s