Oh, Please!


Suatu kali temanku bercerita tentang kisahnya, yang membuat tenggorokanku tercekat. Seperti cerminan saja pikirku. Ketika dia bertanya pendapatku, semakin aku bingung. Saat ini, dalam masalah ini aku menghadapi hal yang sama, bahkan aku memikirkan hal yang ia pikirkan. Tapi buru- buru kugubris pikiran ini, jadilah aku hanya menyampaikan, bahwa semuanya harus dilakukan bersama. Semua harus ikut andil, dan saling membantu dan mengerti, yang satu tidak hanya diam saja, bahkan bertanya “apa kau terluka saja tidak?”. Karena dia bukan orang yang mudah peka atau empati, ya belajar.

Aku mengerti, kataku padanya. Aku tahu, saat kau menjelaskan padanya dengan kata – kata, dia bahkan hanya akan terdiam dan meminta maaf, dan saat kau menjelaskan apa yang kau rasakan, bagaimana perasaanmu, mungkin ia merasa akan cukup dengan memelukmu. Pada kondisi ini, aku bisa menebaknya, jawabku tertawa (eh lewat Wa deng ketawanya).

Dan saat kamu merasa butuh masukan, butuh penyelesaian, tak jarang ia mungkin tak tahu harus bersikap apa. Sabar aja. Mungkin ia akan berubah seiring berjalannya waktu. (ah aku cuma omdo sih ya Allah, aku berdoa untuk kebaikan temanku ini padaMu sajalah, cuma jadi temen pendengar setia aja).

Tapi yang paling mengagetkanku adalah ketika keharmonisan itu tak kunjung dicari dan mendapatkan titik temu. Buru-buru aku menceramahinya (sok iyeh banget gue *ngaca*), “Pikirin dulu say, hmm.. obrolin bedua sambil honeymoon kedua gitu, mungkin bisa mencairkan suasana.” (aslina gue ngaca). “When someone’s story is similar to yours, and the moment they told you, it feels i saw my own problem” hikshiks

Terus pada akhirnya aku nyeramahin dia (*baca = diri sendiri) “da didunia mah ga ada yang sempurna, kalau kamu mau nuntut gini juga, kalau partner kamu ga ngerti (atau mengerti tapi tak tahu harus berbuat apa) ya wayahna weh (sundana keluar xixixi), berarti kamu emang disuruh berjuang sendiri, ampe kalau perlu ke psikolog (RSJ sekalian “mencairkan suasana”) yaudah jalanin aja sendiri (Astaghfirullah, kalau pernah mikir pengen mati aja beberapa kali itu tergolong distress berat, *belajar psikologi*), kalau kamu ngerasa sakit sendiri, ya sabar weh gitu. Anggap weh kamu sedang berjuang sendiri sama saat kamu masih single beberapa bulan lalu. Berat sih, ceu. Tapi mari kita berjuang!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s